
"Huh aku ngefans sama dia sudah dari jaman baheula," ujar sohib Mona dengan hebohnya. Mona hanya melirik temannya. Mereka menikmati penampilan Rayyan di atas panggung. Sungguh menghipnotis dan sangat menghibur, panitia wisuda kali ini benar-benar sukses membuat kejutan buat para wisudawan.
"Biar duda aku mau," ujar satunya lagi. Mona semakin gedek dengan tingkah kedua temannya.
Sementara itu Hanna berasa ingin segera keluar saja karena merasa panas, entah hatinya atau hal yang lain.
"Ganteng banget sih manusia di panggung itu," Meta merasa kagum, dan tak henti berteriak histeris. Membuat Hanna menutup telinganya karena pekikan suara Meta.
"Aku mau bunganyaaa," Meta masih sangat bersemangat, Hanna menepuk lengan Meta. Mengingatkan agar Meta tak terlalu histeris dan menganggu orang yang ada di sekitarnya.
"Bolehkah saya memberikan bunga ini pada seseorang,?" tanya Rayyan sambil memeluk buket tersebut dengan tangan kirinya, menempel di dadanya. Tangan kanannya memegang microphone.
"Boleeeeeeeh," teriak suara yang didominasi suara kaum hawa.
Hanna menggelengkan kepalanya, benar-benar ingin kabur dari ruangan ini. Entah apa yang ada di pikirannya, kalau saja bunga itu untuk dirinya jelas baginya itu tak mungkin, mungkin Rayyan punya pacar di sini. Lalu apa artinya Rayyan memberikan kejutan padanya? ah mungkin hanya untuk membalas budi karena pernah saling kenal.
Jika bunga itu diberikan pada orang lain, Hanna merasa tak rela juga.
"Masih ada waktu ya untuk saya, sebentar saja," Rayyan melihat ke belakang bertanya pada panitia, dan salah satu panitia lapangan pun mengangguk sambil mengangkat jempolnya memberikan panggung untuk Rayyan. "Terima kasih," ucapnya.
"Jadi kebetulan hari ini dia sedang wisuda juga di tempat ini," Rayyan membuka percakapannya.
"Hoeeeeee, siapa dia," teriak para kaum hawa.
"Jadi....saya begitu sombong dulunya, saya yang angkuh dan tak peduli pada apapun. Dia membuat perubahan pada diriku, terima kasih...semoga kamu semakin bahagia setelah ini," Rayyan mengangkat buket bunga tersebut.
"Waaaah..." gumam para peserta karena merasa itu bukanlah dia.
"Untuk Hanna, saya tahu kamu ada di salah satu yang ada di sini," suara Rayyan menggema di seisi gedung. Banyak suara yang kecewa, tapi juga banyak yang merasa kagum dan ingin menjadi Hanna. "Izinkan saya menjadi bagian dalam hari bahagiamu hari ini," imbuh Rayyan.
Mona dan teman-temannya nampak melihat ke arah Hanna.
"Jangan-jangan kamu kalah taruhan sama Kia setelah ini," ledek salah satu teman Mona yang kemarin taruhan dengan Kia.
"Gila aja si Hanna dapat bunga dari Rayyan, ngebabu apa gimana dia di rumah Rayyan," ejeknya.
__ADS_1
"Bukan ngebabu, kan kamu tahu sendiri kalau dia pernah dikontrak sama Rayyan, camkan itu, dia adalah sampah," Mona bersedekap tak peduli.
Rayyan turun dari panggung dan diarahkan ke barisan Hanna. Hanna yang merasa sebagai tersangka pun hanya bisa senyum kaku seperti kanebo, bukan ini yang dia inginkan.
"Hassh...kenapa begini,?" Hanna menggerutu, sedangkan Meta yang duduk di sampingnya nampak heboh.
"Kok bisa sih...kok bisa...,tapi aku suka sih, ya udah Han aku ikhlas kalau kamu sama mantan bos kita," Meta memasang tampang pura-pura menangis. Hanna melihat Meta dengan tatapan benar-benar kaku dan cemberut.
Rayyan hampir tiba di deretan kursinya, kebetulan Hanna berada di pinggir. Sehingga memudahkan Rayyan mendekatinya. Dan Rayyan sudah berada di pinggirnya, Hanna hanya bisa tersenyum kaku.
Buket bunga itu terulur untuknya.
"Wah beruntung sekali....," ujar sebagian wisudawan.
"Nggak gini juga kali, aku kan malu," Hanna menggerutu pelan. Bunga itu masih terulur. Meta menyenggol lengan Hanna agar tak membiarkan Rayyan berdiri sambil tetap memegang bunga itu.
Hanna pun berdiri, menatap Rayyan yang ketampanannya benar-benar meningkat kali ini. Ada rindu di dalam dadanya, sudah lama dia tidak melihat mata indahnya, paras tampannya. Ah Hanna lagi-lagi terhipnotis laki-laki itu. Hanna merasa ruangan ini hening, padahal nyatanya ruangan ini sangat ramai dan bergemuruh. Seakan ruangan ini hanya ada di dan Rayyan saja.
Rayyan kembali mengulurkan bunga itu, "Selamat wisuda," ucapnya singkat. Hah dunia seakan berhenti berputar bagi Hanna. Kenapa seperi ini? Hanna tersenyum kaku, jantungnya berdetak semakin kencang. Perlahan tangannya menerima buket itu, dia tidak peduli dengan banyaknya suara yang terdengar.
"Apa,?" Rayyan ingin memperjelas, Hanna buru-buru menggeleng. "Lalu harus bagaimana,? rasanya sulit sekali bertemu," Rayyan seperti sedang mengeluarkan unek-unek hatinya.
Hanna meneguk ludahnya, "Terima kasih," Hanna mencoba mengakhiri, karena tak ingin menjadi pusat perhatian terlalu lama.
Rayyan mendekat ke Hanna, "Nanti kita bertemu lagi, tolong jangan kabur," Hanna mengerjab, dan dia hanya mengangguk saja akhirnya. Karena semakin lama dia begini, maka akan semakin menajdi pusat perhatian.
Sementara itu Panji dan Meta hanya melihat saja dengan tatapan tak percaya, "Kamu pake pelet apaan,?" Meta nyablak. Hanna memeluk buket bunga itu dengan tatapan tak percaya dengan yang baru saja terjadi. Degup jantungnya masih belum beraturan. Apa yang dilakukan Rayyan sungguh di luar dugaannya. Untung saja hanya sebatas memberikan buket.
Hanna menutup mulutnya, apakah dia mengharapkan lebih dari ini? Hanna memukul dahinya sendiri dan tangannya masih erat mendekap buket bunga tersebut.
Rayyan sudah kembali ke balik panggung, Hanna tak berani melihat ke atas panggung. Di kursi deret seberang Mona dan gangnya semakin panas.
"Sialan," umpat salah satu dari mereka.
Tak berapa lama, acara pun usai. Hanna segera mencari celah untuk keluar gedung. Jika teman-teman yang lain sedang berfoto dengan para keluarga, tak begitu Hanna. Dia merasa sendirian, dan kabur adalah pilihannya.
__ADS_1
Hanna berada di pintu keluar, seseorang menariknya dan mengajaknya ke sebuah ruangan.
"Maaf, kakak ditunggu di sebalah sana," dari seragam dan kartu namanya, perempuan yang menarik dirinya adalah salah satu panitia wisuda yang dimintai tolong oleh Rayyan.
Dan tak jauh dari posisinya tadi, Rayyan tengah berbincang dengan seseorang yang sedang memegang kamera.
"Owh ini sudah datang," Rayyan lantas mendekati Hanna dan menarik tangan Hanna, bersiap untuk berfoto, bahkan tanpa persetujuan Hanna.
"Foto Gil," Rayyan memanggil fotografer laki-laki itu. Dia tengah berdiri di dekat Hanna, tak lupa memegang pundak Hanna. Karena begitu tiba-tiba, senyum Hanna pun terlihat kaku dan aneh.
"Please...senyum manis," Rayyan membisikkan kalimat di telinga Hanna.
"Oh," Hanna merasa ini adalah mimpi. Apa yang diberikan Rayyan sudah melebihi normal. Puas berfoto, Rayyan mengajak Hanna menuju mobilnya.
Hanna bisa bernafas lega karena sudah terhindar dari pandangan ratusan pasang mata, karena sejak tadi dia menjadi pusat perhatian mereka.
"Mau kemana,?" tanya Rayyan, Hanna duduk di sebelah Rayyan dengan sudah melepas baju toganya, kini dia berbalut kebaya ungu muda.
"Terima kasih sudah mau menerima semua ini,"
"Aku yang harusnya terima kasih, ini berlebihan," Hanna melihat ke arah Rayyan.
"Kamu cantik," Rayyan melontarkan kalimat simple yang membuat jantung Hanna kembali jedag jedug tidak karuan, Hanna menahan bibirnya agar dia tidak senyum-senyum gegara mendapat pujian gombalan dari Rayyan.
"Serius," Rayyan menegaskan.
"Aku jadi pusat perhatian," Hanna protes.
"Aku nggak peduli, dan kamu jangan selalu bilang kamu tidak pantas untuk ini," Rayyan membentengi agar Hanna tak lagi kembali mengulang kalimat itu.
Hanna menarik nafas, sudah berkali-kali Hanna menggunakan alasan tersebut. "Iya, terima kasih untuk semuanya, kamu tahu aku sendirian hari ini," Hanna menunduk.
"Ok, kita jalan-jalan biar kamu nggak sendirian.
Mobil Rayyan melaju ke sebuah tempat yang belum Hanna ketahui, hari ini Rayyan berjanji akan membuat Hanna senang dan tidak merasa sendirian.
__ADS_1
\~\~Maaf ya nggak bisa selalu update sesuai keinginan pembaca\, karena memang author kudu ngajar\, selain itu sebagai emak-emak\, author juga harus punya waktu buat bocil di rumah. Karena ini memang karya on going juga\, jadi paling cuma bisa 1 bab sehari. Terima kasih buat para pembaca yang masih membaca dan bersabar\, terima kasih banyaaak....\~\~