
Mie kuah instan buatannya yang bercabe 5 biji terasa nikmat memenuhi perutnya yang keroncongan. Hanna mengelus perutnya yang kini terasa kenyang.
"Mau keluar kemana dia sama si Gerry,?" gumamnya perlahan pada dirinya sendiri. Hanna kepo juga akhirnya.
Hanna berjalan ke arah dapur sambil membawa mangkok bekas mie kuahnya dan mencucinya sekalian. Rak piring basah menjadi pelabuhan terakhir si mangkok sebelum akhirnya ditinggal Hanna masuk ke kamar untuk mencari ponselnya.
"Nanya nggak ya,?" Hanna menimbang keputusannya. "Ah nggak usah, dia kan sudah bilang mau keluar, terserah mau kemana," Hanna meletakkan kembali ponselnya di ranjang, Hanna kemudian berbaring meluruskan tubuhnya. Penat yang sudah terkumpul di tubuhnya pun perlahan terasa menguap dengan berbaring.
"Perut kenyang, bentar lagi tidur, ah nikmatnya," gumamnya sambil merapatkan selimut di tubuhnya. Siap masuk ke alam mimpi, menunggu pagi dan kembali kerja. Ah rutinitas itu.
***
Karena motornya berada di kantor, maka Hanna harus menyiapkan diri lebih pagi menuju kantor. Jangan sampai dia terlambat datang.
Hanna berlari kecil setelah mengunci pintu rumahnya. Bersiap menunggu ojek online yang akan dia pesan.
"Duuuh..." gerutunya, karena pesan ojek pun belum sempat dia lakukan.
Tiiin...Tiiiin....
Suara klakson membuyarkan fokus Hanna yang sedang sibuk memencet tombol di ponselnya untuk memesan ojek online. Hanna mendongak. Sebuah tangan melambai, dan Hanna melihat wajah Farel di balik kaca yang baru saja diturunkan. Senyum manis Farel terpampang nyata dari jarak Hanna berdiri. Hanna meringis, jemarinya tidak jadi memesan ojek online yang sedianya akan mengantarnya ke kantor.
"Yuk," ajak Farel yang baru saja turun dari mobil. Hanna masih meringis.
"Kenapa harus repot-repot pak,?" Hanna menggaruk rambutnya.
"Enggak, kan kita searah, tadi aku lihat barangkali belum berangkat, eh ternyata bener,"
"Tapi...saya...ehm...mau," Hanna beralasan, merasa tak enak hati jika harus berangkat bersama Farel. Apa kata teman yang lain nantinya.
"Udah naik, keburu telat, nanti kamu dapat SP," ujar Farel.
Hanna akhirnya naik dengan ragu, tapi bagaimana lagi, ini sudah terlanjur. Dan tadi pun dia sudah pamitan dengan Rayyan jika akan berangkat ke kantor naik ojek.
"O ya, nanti siapkan data yang sudah direvisi kemarin, soalnya aku mau ada rapat keluar nanti,"
Mobil mulai melaju.
"Oh iya pak, sudah siap kok," untung saja Hanna sudah menyelesaikannya sejak kemarin. "Jam berapa pak,?"
__ADS_1
"Sekitar jam 10 an, mau ikut,?"
"Eh enggak Pak," Hanna buru-buru menolak.
"Loh ini ada kaitannya dengan kamu juga loh,"
"Enggak pak, selama saya nggak wajib ikut, saya di kantor saja," Hanna senyum menyeringai.
Farel mengangguk-anggukkan kepalanya.
Setelah beberapa lama, mobil pun memasuki area parkir kantor tersebut. Hanna berdoa dalam hati agar karyawan tak melihatnya turun dari mobil Farel, agar tidak menimbulkan spekulasi yang tidak-tidak. Hanna celingukan masih duduk manis di mobil.
"Nggak turun,?" Farel melepaskan sabuk pengamannya. Hanna melihat ke arah Farel dan tersenyum nyengir.
"Ah hiya...turun," Hanna meraba sabuk pengamannya dan melepaskannya perlahan, sembari masih berdoa dalam hati tidak ada mata yang melihatnya. Tapi harapan tinggalah harapan, karena memang di jam masuk, jadi yang berada di area parkir juga banyak. Termasuk para karyawan suka nongkrong di pantry.
Hanna menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menghempaskan pandangan orang-orang dengan wajah cueknya.
Terlihat Farel mengambil jalan yang berbeda dari Hanna, dan ini menjadi kelegaan bagi Hanna.
Kantor terasa semakin panas, jam istirahat tiba dan benar saja. Pantry menjadi tempat paling nyaman untuk mereka-mereka bergosip.
"Eh anak baru," sergah seorang cewek. Hanna berhenti dan tersenyum menyapa, mencoba berbuat baik dan sopan.
"Iya,?" Hanna menjawab dengan senyum masih mengembang di bibirnya.
"Kamu maunya apa,?" tanyanya ketus.
"Kerja," jawab Hanna enteng.
"Setelah kamu membuat heboh jagat hiburan negeri ini, sekarang kamu mau membuat heboh kantor ini,"
"Maksudnya,?" Hanna menyipitkan matanya.
"Jangan pura-pura bego, dasar anak baru songong,"
"Iya tuh," timpal lainnya. "Setelah katanya pacaran sama Rayyan, sekarang ngedeketin gebetan kamu,".
Hanna semakin menyipitkan matanya, lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Maaf mbak, saya tidak mengerti arah pembicaraan kalian, dan saya memang orang baru, tapi saya tidak seperti apa yang anda tuduhkan," Hanna melawan. Rasanya ingin dia mengguyur kopi ke mereka, hanya saja tidak dia lakukan. Itu sama dengan dia merendahkan dirinya sendiri.
Hanna membalikkan badannya dan melangkah hendak meninggalkan gerombolan para penggosip.
"Dasar jal*ng!" umpat salah satu yang katanya sedang PDKT dengan Farel itu. Hanna memejamkan matanya menahan amarahnya, jangan sampai kopi itu benar-benar terbang ke baju mereka.
Hanna berlalu dan menuju ruangannya dengan sebal.
"Hiiiis," Hanna meletakkan cangkir kopinya. Untung saja Farel masih di luar, jadi dia bisa mengekspresikan rasa marahnya tanpa harus dilihat oleh orang lain.
"Bisa-bisanya berkata buruk, maunya apa,?" Hanna menyesap kopinya lalu meletakkan dengan sedikit kasar. "Haaassh...bener kata Rara, toxic," Hanna merasa serba repot, jika mau mundur juga baru beberapa harikerja. Nggak mundur rasanya huuuuh.
"Enggak...enggak, aku nggak boleh kalah sama mereka," Hanna mengepalkan tangannya. Apapun yang mereka lakukan, nggak akan mempengaruhi dirinya untuk mundur dari perusahaan ini.
Terdengar suara derit suara pintu, Hanna mendongak dan melihat ke arah pintu. Di balik pintu, senyum Rara mengembang. Badannya masih di luar, sementara kepalanya melongok ke dalam.
"Kirain siapa, sini masuk," Hanna memanggilnya dengan tangan. Rara yang tahu jika Farel tak ada pun segera masuk ke dalam.
"Ada apaan,?" Rara menarik kursi dan duduk di depan meja Hanna. Kopi yang ada di tangannya dia letakkan di meja Hanna, dari kopi yang dibawa, Rara mungkin saja baru keluar dari pantry.
"Hah? dengar apa,?" tanya Hanna.
"Tuh nggak berhenti sih mulut-mulut mereka, gosip semakin bertebaran,"
"Bodo amat," jawab Hanna sok santai, padahal hatinya lelah juga sebenarnya.
"Beneran kamu berangkat sama Pak Farel? dan kemarin diantar pulang,?" Rara baru saja menyeruput kopinya, dia bersiap mendengarkan cerita dari Hanna.
Hanna membenahi rambutnya, benar saja gosip itu sudah menggaung di mana-mana.
"Siapa sih aku ini? kenapa seolah jadi artis," ungkap Hanna kesal.
"Kamu lebih dari artis di sini," bisik Rara.
"Jangan berlebihan," Hanna mengibaskan tangannya.
"Buktinya pak Farel saja sampai begini," Rara terkikik.
"Huuush.....enggak, kemarin itu haduh...bukan begitu, cuma kebetulan saja karena searah, udah jangan percaya mereka," imbuh Hanna. Kopinya sudah tandas dan tinggal ampasnya saja. Suasana di tempat kerja hari ini sungguh-sungguh membuatnya tidak nyaman dan terasa panas dengan gosip baru yang memuakkan itu. Baru begini saja sudah menjadi bahan ghibahan. Hanna menepuk dahinya, sementara Rara melihatnya sambil tertawa kecil.
__ADS_1