
Rayyan beberapa kali mengecek ponselnya, sedari tadi pesan yang dia kirim untuk Hanna belum juga dibalas.
"Gusar amat," Gerry memperhatikan Rayyan, mereka sedang berada di ruang tunggu. Menunggu mobil yang ditugaskan untuk menjemput mereka. Ini adalah acara Rayyan di luar kota, kebetulan Gerry juga ada urusan di kota yang sama, sehingga mereka bareng.
Rayyan tersenyum miring, sudah berapa kali Gerry seolah ikut campur dengan apa yang dilakukan akhir-akhir ini.
"Hey, nanti malam kalau kerjaan udah beres, bisa lah kita party," Gerry tersenyum sambil melihat Rayyan yang masih melihat ponselnya.
"Lihat saja nanti," jawab Rayyan singkat, ogah baginya. Lebih baik mendengarkan suara Hanna sampai benar-benar dia terlelap.
Asisten Rayyan mendekat dan memberi tahu jika mobil yang menjemput telah tiba. Karena menginap di hotel yang sama, Gerry ikut bareng dengan Rayyan.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, Rayyan masih saja memantau ponselnya. Ada pesan masuk, buru-buru dia membuka ponselnya, namun bukanlah dari Hanna.
"Kemana ini anak? sudah sampai rumah apa belum," gumamnya pada layar ponselnya. Gerry yang melihat Rayyan sebucin itu pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia merasa ini bukan Rayyan yang dia kenal.
"Kenapa,?" tanya Rayyan tanpa melihat wajah Gerry.
"Bucin,"
"Kayak nggak pernah aja," Rayyan balik meledek, senyum miringnya menghiasi wajahnya. Selain Gerry yang mengenalnya, dia juga tahu tentang bagaimana Gerry. Di mana laki-laki yang menjadi temannya sejak dulu itu juga seorang playboy yang sering ganti-ganti cewek, dan juga pernah menjadi makhluk bucin yang pernah dia lihat.
"Itu dulu bro, sekarang bebaaaaas," ungkapnya sambil tertawa. "Aku nggak mau lagi bucin sama cewek,"
"Halah itu sekarang, coba aja nanti kalau pas ketemu yang pas, baru deh kerasa," ejek Rayyan. Gerry terdiam.
Rayyan sudah tiba di kamarnya, bersiap untuk membersihkan diri sebelum nanti malam akan bertemu dengan beberapa rekan bisnis. Sebelum esok hari ada acara syuting.
Ponselnya berbunyi sesaat dia hendak masuk ke dalam kamar mandi. Rayyan berbalik dan berlari mengambil ponselnya. Dikira Hanna, ternyata bukan.
***
"Kamu tinggal sendirian?" Farel turun dari mobilnya sambil memegangi payung untuk Hanna. Karena hanya ada satu payung, akhirnya Farel mengantar Hanna hingga teras rumahnya dengan satu payung berdua.
"Oh tidak Pak, ada adik,"
Farel mengusap kemejanya yang terkena percikan air hujan, lalu mengusap rambutnya yang terasa lembab. Hanna segera beringsut begitu mereka tiba di teras rumahnya. Hujan masih turun dengan derasnya, Hanna meletakkan tasnya di meja teras.
"Silahkan duduk Pak," Hanna dilema, apakah mempersilahkan atau membiarkan Farel segera pulang saja. Hanya saja kalau tidak menawarkan mampir rasanya kok tidak enak. Duh Hanna merasa serba salah, Hanna menggaruk rambutnya.
"Terima kasih Han, tapi aku harus segera pulang, sudah sore,"
__ADS_1
"Oh...begitu...iya...ehm...terima kasih Pak sudah berkenan mengantar saya,"
"Nggak usah formal-formal, panggil saja Farel,"
"Ih...eh...nggak enak pak, nggak sopan,"
"Nggak apa-apa Han,"
Hanna menggeleng, bersikukuh tidak mau memanggil dengan panggilan itu, baginya tidaklah sopan dengan memanggil atasannya hanya nama.
"O ya besok aku jemput, lagian kita searah ternyata," imbuh Farel. Buru-buru Hanna menggeleng.
"Tidak usah pak, nggak usah, saya bisa naik ojek, iya naik ojek, aman saya pak," Hanna meringis. Apa jadinya kalau sampai Farel rajin mengantar jemputnya, bukannya dia terlalu percaya diri atau bagaimana, tapi NO, dia tidak mau membuat pergosipan di pantry semakin panas.
Farel tersenyum,"Ya sudah, terima kasih sudah boleh mengantar," Farel mengambil payungnya dan segera meninggalkan teras Hanna, menyibak tanah yang lembek menuju mobilnya. Hanna melihat Farel masuk ke dalam mobil, sebelum mobil melaju, Farel melambaikan tangan dari jendela mobil yang dibuka kacanya setengah. Hanna mengangguk sambil tersenyum.
"Haah," Hanna mengusap lenngannya, membuang rasa dingin yang dia rasakan. Buru-buru Hanna ke dapur, menyalakan kompor dan merebus air untuk mandi, karena dia merasa kedinginan.
Hanna masuk ke dalam kamar sembari menunggu air mendidih dan siap digunakan untuk mandi, Hanna meletakkan tas kerjanya di atas meja. Hanna meraih ponsel dan mengeceknya, Hanna menepuk dahinya, ada banyak pesan yang masuk.
"Rayyan..Rayyan..." bisiknya sambil membaca pesan yang masuk.
Sudah sampai belum?
Aku sudah tiba di bandara.
Han
Sayang....di mana? sudah sampai rumah?
Aku sudah sampai hotel.
Rayyan mengirimkan fotonya dengan rambut basahnya, Hanna memperhatikan foto Rayyan sambil mengusap layar ponselnya. Pesan dari jam ke jam itu belum juga dia balas.
"Kenapa kamu gila,?" gumamnya sambil tersenyum gemas. Kenapa? karena sampai detik ini dia merasa Rayyan hanyalah sedang bersandiwara pacaran dengannya.
Iya, aku sudah sampai. Hujan...jadinya agak riweh. Balas Hanna. Hanna buru-buru melepaskan blazernya, lalu dia keluar kamar dengan membawa handuk dan baju ganti. Menuju dapur dan segera ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa lengket.
Hanna menyesap teh hangatnya di dalam kamar sambil memainkan ponselnya, membuka media sosialnya yang sudah beberapa hari tidak dia tengok. ke-barbaran para warganet yang menyerangnya cukup membuatnya migrain. Dan ternyata masih sama, mereka belum bisa menerima keberadaan Hanna di samping Rayyan. Rayyan menghela nafas panjang saat membaca komentar satu demi satu yang kebanyakan menyerangnya itu.
Belum juga Hanna selesai membaca komentar itu, ponselnya berdering. Hanna menggeser tombol hijau.
__ADS_1
"Hallo,"
Sudah tidur?
Hanna menggeleng, meskipun jelas yang ada di sana tak dapat melihat ekspresinya.
Maaf kalau membangunkanmu.
"Aku belum tidur," jawabnya.
Sudah makan?
"Oh aku lupa kalau aku belum makan," Hanna menyeringai.
Heleh...habis ini makan, aku habis ini keluar sebentar ya...
Hanna menaikkan alisnya sebelah, dia merasa aneh saja saat Rayyan meminta izin padanya untuk keluar. Berasa menjadi pasutri saja. "Loh iya nggak apa-apa," balas Hanna.
Tapi kalau kamu nggak ngebolehin aku nggak jadi keluar lho.
"Hiiish....apaan? udah kalau mau keluar ya keluar aja, apa masalahnya,?" Hanna tersenyum kecil.
Han...
"Apa,?"
Rindu sih, nggak lihat senyum kamu.
"Gombal hah gombal, udah aku lapar mau makan," Wajah Hanna memerah, untung saja Rayyan tidak bisa melihatnya.
Serius, pengen dengar kecerewetan kamu, lihat wajahmu
"Aku lapar, dan kamu boleh keluar sekarang,"
Hahaha....aku bisa menebak bagaimana wajah kamu sekarang.
"Udah ih," Hanna memegang pipinya dengan sebelah tangannya, memang wajahnya kini terasa panas, kepalanya juga terasa membesar karena terlalu merasa disanjung oleh Rayyan.
Tuh kan
"Ya udah aku mau makan,"
__ADS_1
Ya udah makan yang kenyang, aku keluar dulu.
Panggilan pun berakhir. Hanna meletakkan ponselnya begitu saja, lalu dia keluar menuju dapur dan membuat mie rebus lengkap dengan 5 biji cabe yang diiris tipis untuk menambah cita rasa pedas. Tak butuh waktu lama, mie kuah instan pun jadi, Hanna meletakkannya ke dalam mangkok warna putih lalu membawanya ke meja makan. Terasa sepi, teringat akan ayahnya. Selepas berdoa, Hanna menikmati mie instannya hingga tandas.