Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Bermain Peran


__ADS_3

"Aku tunggu keserius kamu, aku sudah tak peduli apapun sekarang" ancam Talitha sebelum mereka berpisah, mereka memutuskan untuk pulangĀ  sendiri-sendiri. Rayyan mengangguk emndengarkan kalimat Talitha. Perempuan itu memang keras kepala, tapi entahlah dia sungguh mencintainya.


Selepas berpisah dari bandara, Rayyan memutuskan untuk naik taksi online saja. Seperti sebelumnya, dia benar-benar mencoba tak terlihat bahwa dia adalah selebriti papan atas.


"Sesuai alamat ya mas?" tanya sopir taksi tersebut sambil melihat dari kaca.


"Iya" jawab Rayyan singkat. Tangannya meraih ponsel yang ada di tasnya. "Sial, mati" ucapnya.


"Kenapa mas? ini ada colokan kalau mau isi daya" tawar sopir tersebut, mobil mulai melaju. Rayyan menggeleng, dia memutuskan untuk menyenderkan kepalanya di sandaran mobil tersebut, matanya terpejam tapi dia tidak sedang ingin tidur. Dia hanya teringat kalimat Talitha. Apakah setelah ini dia akan benar-benar menikah dengan perempuan itu? Rayyan menggeleng, lalu memijit pelipisnya. Sesekali sopir taksi tersebut melihat Rayyan dari kaca depan. Rayyan tak peduli.


Jika dia menikah dengan Talitha, itu artinya dia membenarkan jika dia ada main belakang dengan perempuan yang tidak lain masih istri dari Brian Wicaksono, bijakkah jika dia akhirnya cerai dan langsung menikah dengan Talitha. Tapi jika dia tidak segera bertindak memutuskan, maka Talitha akan lepas. Rayyan menghela nafas dengan masih memejamkan matanya. Jalanan agak macet sore ini. Sopir taksi memutar lagu yang tak lain adalah lagu Rayyan. Rayyan tersenyum tipis.


"Semoga mas suka dengan lagu yang saya putar, tapi jika tidak suka saya siap mengganti"


"Oh...tidak...terserah" Rayyan membuka matanya dan menatap balik sopir taksi tersebut, hanya terlihat kepala bagian belakang.


"Saya suka suaranya, tapi..." sopir itu tidak melanjutkan kalimatnya. Rayyan memicingkan matanya, penasaran dengan lanjutan cerita orang tersebut.


"Tapi kenapa?" Rayyan akhirnya bertanya agar tak semakin penasaran.


"Tapi sedih dengan kisah hidupnya, kenapa begitu"


"Kenapa memangnya?" Rayyan seolah sedang membicarakan orang lain. Berarti sopir tersebut tak mengenali dirinya sekarang.


"Iya, katanya jalan sama si Talitha atau siapa itu" sopir itu mendadak seperti emak-emak komplek yang suka ngrumpi. Rayyan terdiam, dia memikirkan kalimat sopir itu. Terasa menghujam.


"Ada yang salah?" Rayyan bertanya dengan tenang, agar tidak terlihat bahwa dialah orangnya.


"Kataku sih iya mas, kan Talitha sudah punya suami, Rayyan keren, pasti banyak yang mau, kenapa juga sama dengan Talitha" Kalimat demi kalimat meluncur, semakin membuat kepala Rayyan penuh. Ini hanya penilaian dari satu orang, dan ini mengusiknya.

__ADS_1


"Iya sih" imbuh Rayyan.


"Masnya juga suka sama dia? ehm...maksud saya ngefans?"


"Biasa saja" jawab Rayyan singkat.


Rayyan sampai di depan gerbang rumahnya, sopir taksi tersebut membantu Rayyan menurunkan kopernya.


"Terima kasih" Rayyan mengeluarkan 5 lembar seratus ribuan dan memberikannya pada sopir tersebut.


"Sama-sama mas..." sopir tersebut menerima uang. Rayyan sudah bersiap masuk ke dalam.


"Eh mas...ini kebanyakan" sopir tersebut mengembalikan uang kembalian yang sebenarnya hanya seratus ribu itu.


"Buat masnya, terima kasih sudah diputarkan lagu Rayyan, dan juga diajak ngerumpi" Rayyan tertawa kecil.


"Ah mas bisa saja" sopir itu tertawa kecil. "Terima kasih banyak ya mas, murah rezeki" ucapnya lagi sambil menunduk.


"Selamat datang mas" sambut security itu, dia segera mengambil alih koper yang ada di samping Rayyan. Rayyan menghentikan langkahnya sesaat setelah melihat ada sebuah mobil yang terparkir di salah satu sudut halamannya yang luas.


"Oh itu ada tamu" ucap security saat menyadari Rayyan bertanya-tanya meskipun tak terucap.


"Tamu?" Rayyan mengerutkan keningnya.


"Iya, mencari mbak Hanna"


"Hanna?" Rayyan semakin penasaran.


"Iya"

__ADS_1


Rayyan memberikan kode agar security tak mengikutinya dan membiarkan Rayyan mengecek sendiri.


"Apa dia sedang selingkuh dan bersama pacarnya?" gumamnya lirih sambil terus melangkah mendekati pintu. Tidak segera masuk, Rayyan berada di dekat pintu. Sayup terdengar suara obrolan dari dalam. Terdengar suara Hanna sedang berdebat manis dengan laki-laki, dia mencoba mengenal siapa suara itu. Rayyan tak juga segera masuk ke dalam rumah, dia masih memilih mematung dan mendengarkan.


"Tuh kan kamu tidak bisa membuktikan di mana suamimu berada sekarang, aku yakin bahwa dia berselingkuh dengan istriku" ucap laki-laki yang tak lain Brian itu.


Rayyan bisa mendengar apa yang tengah mereka perbincangkan. Rayyan masuk ke dalam rumah. Brian dan Hanna terkejut.


"Nah kan...aku bilang apa, suamiku pulang, dia kerja keras untuk kita, iya kan sayang?" Hanna tersenyum manis sambil bergelendot manja di lengan Rayyan. Rayyan agak terkejut mendapat perlakuan mendadak dari Hanna. Hanna mengedipkan mata manja ke arah Rayyan.


"Kita?" Rayyan menggumam pelan. Brian menyelidiki kedua makhluk yang ada di depannya itu, ada yang aneh.


"Ah...sayang....hehm....gara-gara kedatangan tamu ini aku tidak jadi memberikan kejutan indah ini untukmu" Hanna melirik ke arah Brian.


"Maksud kamu apa?"


"Iya...kita sayang, aku, kamu dan calon anak kita" Hanna mengelus perutnya sambil tersenyum. Sesungguhnya Rayyan merasa sangat aneh Hanna bisa bertingkah seperti itu. Tapi dia menangkap apa yang dilakukan Hanna adalah untuk menyelamatkannya.


"Hah? serius?" Rayyan ikut memainkan peran, matanya berkaca-kaca. Hanna ingin menimpuk Rayyan dengan apapun barang yang ada di situ, mengapa laki-laki itu sungguh pandai sekali bermain drama. Hanna sekejap lupa jika Rayyan adalah aktor hebat.


Hanna mengangguk, jaraknya begitu dekat dengan Rayyan, bahkan wnagi tubuh Rayyan yang khas dengan parfumnya itu sungguh masuk ke dalam penciumannya. Wangi dan membuatnya nyaman, baru kali ini dia memeluk idolanya itu, yang tak lain adalah suaminya.


"Bahkan pernikahan kita dipertanyakan" Hanna memandang Rayyan dengan mata sayu.


"Sial...pinter banget dia bermain drama" gumam Rayyan sangat lirih. Hanna tertawa. "Kamu capek sayang?'


"Oh...ada Brian, nanti sayang, kamu masuk saja dulu, biar aku bercengkrama sebentar dengannya, masuklah...nanti kita berbagi kebahagiaan kita akan calon anak kita di dalam" Rayyan melanjutkan aksinya.


"Iya sayang...tolong jangan lama-lama ya...kangen..." Hanna bertutur manja, membuat Rayyan ingin pingsan karena merasa sungguh aneh dengan tingkah Hanna.

__ADS_1


"Iya"


Hanna segera meninggalkan dua laki-laki itu di ruang tamu, dia mengelus dadanya dan menahan tawanya, teringat aktingnya tadi. Dan yang paling parah adalah saat dia melihat ekspresi Rayyan saat melihatnya seperti itu, dia yakin Rayyan sungguh geli. Sekarang dalam hatinya dia berdoa agar mereka berdua baik-baik saja, tidak ada perang fisik maupun kata-kata di ruang tamu sana.


__ADS_2