Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Kesal


__ADS_3

Setelah selesai acara, Rayyan segera ke belakang dan tanpa sengaja melihat seseorang yang sepertinya tak asing baginya. Mereka berpapasan, hanya saja Bian tak menyadari bahwa itu adalah Rayyan karena dia melihat ke arah lain. Rayyan masih memperhatikan Bian hingga Bian kembali ke kursinya. Dan di sana Rayyan melihat Bian tengah makan dan bercengkerama dengan perempuan yang tak lain adalah Hanna.


Rayyan terdiam melihat Bian dan Hanna. Ingin marah, tapi merasa tak berhak, tapi dia juga jengkel dengan Hanna, sudah dia ingatkan agar Hanna tak dekat dengan siapapun.


Para wartawan mencoba mewawancarai Rayyan, namun Rayyan dengan ramah menolak dan segera masuk ke dalam mobil. Hatinya masih terasa dongkol karena ingat dengan Hanna dan Bian yang tertawa-tawa tadi.


"Kamu kenapa?" Kamila menyenggol. Rayyan menggeleng, tak menjawab. "Ada yang salah? terima kasih buat hari ini, karena kamu tak jadi membatalkan agenda padat kita" Kamila tersenyum. Dia tidak tahu penyebab Rayyan tak jadi menggagalkan aksi mogoknya.


"Hem" jawab Rayyan yang nampak ogah-ogahan, dia melihat ke kanan, ke jalan raya. Mobil menuju lokasi kedua kerja hari ini, ada syuting hingga nanti malam.


"Kamu kenapa? marah sama aku?" Kamila melihat dengan tegas ke arah Rayyan.


"Enggak" sergah Rayyan, dia sedang tidak ingin membicarakan hal ini.


Kamila akhirnya terdiam, sementara Rayyan asyik dengan pikirannya sendiri. Hanna..mengapa dia masih saja berhubungan dengan laki-laki itu, apakah benar dia adalah teman dekat alias pacar Hanna?.


"Hah...dasar cewek nggak bisa dibilangi" gumamnya, Kamila menoleh ke arah Rayyan, namun tak menyahut. Rayyan nampak gelisah, bagaimana istrinya bisa begitu dengan orang lain?. Dia tak berkaca dengan dirinya, bagaimana dia juga melakukan hal yang sama dengan Talitha, bahkan lebih dari yang Hanna lakukan.


***


"Han...seru nggak sih kalau kita jadian?" tanya Bian tiba-tiba. Hanna yang tengah minum mendadak tersedak, seolah sedang diterpa badai.


"Uhuk...uhuk" Bian mengambilkan tisu untuk Hanna. Hanna mengelap bibirnya yang menahan batuk.


"Sorry" Bian menaikkan kedua alisnya sambil mengembangkan senyum.


Hanna kembali minum dengan hati-hati, agar tidak tersedak lagi. Apa yang baru saja dia dengar benar-benar terasa menyengat.

__ADS_1


"Mas Bian kalau bercanda memang lucu" celos Hanna, dia sudah tak batuk lagi, senyumnya mengembang.


"Eh gimana? kelihatan bercanda ya?" Bian tertawa kecil. Hanna mengangguk, tak ada lagi kalimat pengulangan dari Bian. Dan Hanna pun tak mau memperpanjang adegan tadi, mungkin dia sedang bermimpi, mungkin dia yang terlalu berhalusinasi. Kalaupun Bian serius, maka Bian tak akan diam, begitu pikirnya.


"Sudah malam, pulang yuk" ajak Hanna.


"Oh oke" Bian mendadak kikuk. "Semoga acara dies natalis yang akan segera terlaksana bisa sukses ya Han"


"Amin" jawab Hanna sambil berjalan sejajar dengan Bian. Mereka keluar restoran dan menuju parkir.


Dalam perjalanan, Hanna terdiam, begitu juga Bian. Mereka sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.


Hanna menuju dapur setelah masuk rumah, dia membuka lemari es dan menuangkan air dingin ke dalam gelas, lalu meneguknya. Rumah nampak sepi seperti biasa, Rayyan belum kembali dari jadwal kerjanya. Hanna menutup pintu lemari es dan duduk di kursi makan. Tangannya memainkan gelas bekas minumnya yang masih terlihat berembun.


Harusnya mimpinya menjadi nyata saat Bian menyatakan perasaannya padanya, tapi mengapa dia merasa resah sekarang?. Hanna melamun sambil menatap gelas kosong yang ada di depannya.


"Bukannya kamu kerja?" Hanna balik bertanya.


"Kenapa emang? terus kalau aku kerja, kamu bebas berduaan gitu di luar sama laki-laki lain?" Rayyan melipat kedua tangannya di dada. Hanna menyipitkan mata.


"Ngomong apaan?"


"Kamu berduaan dengan pacarmu kan?"


"Hah? pacar?" Hanna semakin dibuat bingung.


Rayyan menarik salah satu kursi, lalu duduk di sana. Kemudian dia menghembuskan nafas, melihat Hanna dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


"Ow....Bian?" Hanna mulai paham arah pembicaraan Rayyan.


"Bian?"


Hanna mengangguk, "Ketua pelaksana acara kampus yang mau ngundang kamu, kita sedang....rapat...iya rapat" Hanna berbohong.


"Ok, berarti acara batal"


Hanna mendelik, "Whaaat??" pekik Hanna, Rayyan nampak cuek mendengar suara Hanna. "Apa maksudnya? masalahnya di mana?"


"Mana ada ceritanya rapat cuma berdua saja?" ungkap Rayyan.


"Ya kan memang rapat" Hanna tak mau kalah, dia akan berjuang agar Rayyan tak membatalkan agenda itu.


"Batal" Rayyan kekeh.


"Kamu jangan arogan gitu lah, kan kamu artis besar, sudah deal acara kampusku, masa iya dibatalin sepihak, mana udah dekat waktunya, ayolah..." Hanna mulai merayu. "Apa masalahnya sih?" Hanna kembali mencecar, karena dia memang merasa tak buat salah apapun.


"Bodo amat" Rayyan beranjak dari kursinya dan kembali ke kamarnya.


"Woi....woi Rayyan...Rayyan Sebastiaaaaan" teriak Hanna kesal. Rayyan tak peduli. Dia berlalu dan tak menghiraukan teriakan Hanna.


"Maksudnya apa coba?" Hanna geleng-geleng kepala.


Rayyan merebahkan diri di ranjangnya, dia mengusap wajahnya dengan bantal warna putihnya, dia nampak kesal. Kesal dengan apa yang dia rasakan, kesal karena dia tak bisa menjawab pertanyaan dari Hanna mengapa dia harus membatalkan acara di kampus Hanna.


Mengapa gadis itu yang sekarang membuatnya sering kesal. Bukankah dia yang masih patah hati gegara Talitha harusnya kesal dengan Talitha, kenapa Hanna malah yang selalu muncul dan mengacaukan emosinya. Rayyan kembali menutup wajahnya dengan bantal.

__ADS_1


Di sana malah muncul bayangan Hanna dengan wajah lucunya sedang tertawa-tawa, Rayyan kembali menurunkan bantal dari wajahnya dan membuka matanya, agar wajah Hanna tak lagi menghantuinya. Rayyan mengangkat kedua kakinya ke udara ssambil berbaring, lalu dia mengubah posisinya menjadi duduk. Rambutnya nampak acak-acakan, ditambah lagi dengan tangannya yang mengacak rambutnya asal. Karena dia pusing dan bingung dengan apa yang dia rasakan.


__ADS_2