Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Kita Selanjutnya


__ADS_3

Hanna mengemasi barang-barang yang sekiranya bisa dia simpan, Hanna masih bingung memutuskan untuk melanjutkan usaha laundry ayahnya atau tidak. Di satu sisi dia membutuhkan biaya, dan juga adiknya untuk kuliah. Hanna memasukkan barang-barang ke dalam kardus dan menyimpannya ke dalam sebuah kamar yang dialih fungsikan menjadi gudang.


"Han...Hanna...."


Mendengar ada orang yang memanggilnya, Hanna bergegas keluar dari gudang dan segera ke depan menemui sumber suara. Terlihat Kia berada di depan pintu rumahnya.


"Kamu lagi apa,?" seru Kia melihat Hanna yang belepotan.


"Lagi beres-beres barang yang sudah nggak kepakai," jawab Hanna sambil membersihkan tangannya dengan lap yang menempel di sakunya. "Masuk yuk...tapi banyak debu, apa di luar aja,?" Hanna menawarkan.


"Iya sini aja," Kia beringsut dan duduk di teras rumah Hanna. "Belum selesai? sini aku bantuin," Kia menawarkan diri untuk membantu temannya itu.


"Nggak usah, udah beres, tadi tinggal memasukkan saja, dan sudah selesai, kamu duduk manis saja," Hanna menepuk tangannya. Tangannya lalu menarik sebuah kursi dan duduk di sana, hampir seharian dia membersihkan rumah.


"Nih aku bawain makanan, kamu pasti belum makan kan?" Kia meletakkan kresek yang berisi makanan ke atas meja yang ada di tengah-tengah mereka.


"Tau aja, makasih ya....sering-sering Ki," Hanna tergelak, Kia ikut tertawa melihat tingkah Hanna yang sudah mulai ceria, dia ikut lega melihatnya.


"Gimana, mau lanjut laundry nya?"


"Nah itu dia, bingung ih. Di satu sisi, ini laundry sudah punya banyak pelanggan, di satu sisi aku harus menyelesaikan kuliah yang tinggal bentar aja, sayang kalau nunda," Hanna menempelkan jempol dan telunjuknya, memberikan gambaran betapa tinggal sedikit kuliahnya menuju lulus.


"Iya juga sih," Kia menimpali. "Kamu bisa kerja di tempat Rayyan kan?,"


"Hish....please deh Ki...kenapa baliknya ke dia,?" Hanna mengibaskan tangannya. Tutup buka tentang Rayyan, ingatannya sudah kembali ke surat cerai yang dia simpan di lemari.


"Eh kemarin ayahnya Rayyan meninggal ya? bener nggak sih beritanya,?"

__ADS_1


"Iya bener," jawab Hanna.


"Terus itu beneran ayahnya ditelantarin sama Rayyan?" Kia ikut kepo.


Hanna memejamkan matanya, lalu menepuk dahinya dengan tangan kanannya. Sesaat kemudian dia membuka matanya dan melihat ke arah Kia. "Kamu kepo juga,?". Kia menyeringai lalu menggaruk rambutnya, Hanna nampak bersungut.


"Sekarang kalau mau tahu tentang Rayyan, kamu adalah sumber yang pertama," Kia masih saja membahas Rayyan. Hanna menghela nafas panjang.


"Sekarang sudah selesai," Hanna mengangkat kedua tangannya.


"Ya sudah ya sudah...kamu fokus selesaikan kuliahnya, nanti kita cari kerja bareng-bareng," Kia tak lagi membahas tentang Rayyan. "Eh tapi kalau nggak lanjut laundry nya ini, sayang juga. Ambil karyawan aja bagaimana Han,?" usul Kia. Hanna juga sudah memikirkan hal itu, hanya saja jika dia ambil karyawan, nanti operasionalnya bagaimana. Karena usahanya ini masih kecil, jika untuk membayar karyawan, dia merasa belum mampu.


"Masih bingung,"


"Ya sudah, makan aja dulu biar nggak bingung," putus Kia akhirnya. Hanna melangkah ke dalam mengambil piring untuk menyiapkan makannya. Hanna juga membawa minuman kaleng untuk Kia.


        ***


Semua persiapan sudah siap, salah satu tempat yang berada di kantor management Rayyan sudah siap digunakan sebagai tempat konfrensi pers. Para wartawan sudah bersiap di tempat tersebut. Mereka menunggu kedatangan Rayyan dengan berbagai pertanyaan yang sudah tersusun di buku masing-masing. Hari ini hari yang dinanti bagi mereka untuk mendapatkan berita.


Rayyan tengah bersiap memasuki ruangan tersebut, nampaknya dia mendapatkan bocoran dari asistennya jika ruangan yang berkapasitas sekitar 50 orang itu sudah hampir penuh. Baiklah, semakin banyak media yang ada di sini semakin baik pula. Karena informasi yang didapat mereka satu pintu.


Rayyan memasuki ruangan dan duduk di depan sendirian, tanpa ada pendamping satu orang pun.


"Selamat siang," Rayyan menyapa para wartawan yang sudah duduk di kursinya masing-masing, banyak yang mengarahkan kamera mengambil gambar Rayyan. "Terima kasih teman-teman atas kehadirannya, dan maaf sudah membuat kalian cukup lama menunggu," Rayyan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Para pewarta nampak khusyu mendengarkan suara Rayyan.


"Maaf untuk berita yang beredar akhir-akhir ini, maaf jika sudah membuat keributan," Rayyan tersenyum kecil. Ini bukan salahnya, karena ini sebenarnya urusan pribadinya. Hanya karena dia adalah public figur, maka setiap gerak geriknya akan menjadi perbincangan banyak orang. "Jadi yang pertama berita tentang orang tua saya, khususnya ayah saya itu memang benar beliau meninggal kemarin, dan beliau adalah ayah kandung saya," Rayyan mulai bercerita. Karena dia tidak ingin terlalu lama membuka cerita tentang kehidupannya.

__ADS_1


"Dan tentang penelantaran seperti yang beredar selama ini itu tidak benar, karena kita sudah berpisah sejak lama, ayah saya memilih kehidupan sendiri. Dan kita, saya dan Ibu saya tidak mempermasalahkan hal itu," agak tercekat saat Rayyan mengatakan bahwa ini bukanlah masalah besar, tapi nyatanya dalam kehidupan sebenarnya, hubungan dengan ayahnya adalah sebuah bencana. "Beliau datang pada saya dalam keadaan yang kurang baik hingga meninggal, jadi di mana letak saya menelantarkan ayah saya? sedangkan keadaan ayah saya hingga detik ini adalah orang yang mampu secara finansial? saya kira itu cerita singkat tentang ayah saya,".


"Bagaimana hubungan anda dengan ayah anda,?" teriak seorang wartawan. Rayyan tersenyum kecil, menatap wartawan tersebut.


"Semua baik-baik saja, dan anda kawan-kawan semua bisa melihat kan kemarin saat pemakaman, kalaupun hubungan kami tidak baik, maka saya tidak akan pernah berada di sana," ucap Rayyan dengan tenang. Dia teguh untuk berada pada pesan Hanna.


"Yang kedua, isu mengenai perceraian saya dengan seseorang. Ini adalah urusan pribadi saya dan sangat privasi, jadi tak perlu saya menjelaskannya,"


"Apakah dia Talitha? mantan istri Brian?" ceplos salah satu wartawan lainnya, kali ini seorang perempuan. Rayyan hanya tersenyum simpul.


"Saya dan Talitha hanya berteman, itu yang perlu dicatat oleh kawan-kawan, tidak lebih dari itu," Rayyan menegaskan.


"Siapa gadis yang akhir-akhir ini selalu dekat dengan anda? seperti saat di pemakaman? nampaknya anda sangat akrab sekali,?" jiwa kepo para pewarta memang tak perlu diragukan lagi. Rayyan meyakini jika yang dimaksud adalah Hanna.


"Iya, siapa mas,?" ruangan menjadi riuh.


"Saya juga tidak bisa menjelaskan apapun tentang dia, karena dia memang apa ya..." Rayyan benar-benar tidak bisa menjawab kali ini, dan kalaupun mau dijawab dengan jawaban bohong juga tidak memungkinkan.


"Apakah anda memang sedang banyak mendapatkan penalti sehingga banyak kerjaan yang batal,?" dan kali ini pertanyaan semakin terdengar julid. Namun Rayyan tetap santai menanggapinya.


"Tidak ada hubungannya dengan semua ini, saya menjalani pekerjaan dengan senang hati, rezeki mah nggak perlu terlalu ngoyo. Bukan lah...bukan karena itu. Jadi kawan-kawan....saya memang sudah mengurangi jatah saya di dunia hiburan,"


"Mas tolong jelaskan tentang gadis yang selalu bersama anda, apakah dia yang saat ini dekat dengan anda? kenapa kita sebagai para pewarta tidak pernah tahu tentang dia di dunia hiburan? apakah dia memang dari kalangan biasa,?" tanya wartawan lainnya kembali menanyakan tentang Hanna.


"Iya, saya dekat dengan dia, doakan...untuk ke depannya kita tidak tahu. Apapaun dan siapapun dia, dari kalangan mana saja, yang penting dia manusia," Rayyan melemparkan candaan. Beberapa wartawan dibuat tertawwa oleh jawaban Rayyan. "Jadi ada pertanyaan lainnya?" Rayyan merasa sudah cukup.


        Para wartawan masih saja melontarkan berbagai macam pertanyaan pada Rayyan, tidak hanya seputar orang tua Rayyan, tetapi juga tentang Hanna. Dan ada pula yang masih kepo mengorek tentang perceraian Rayyan.

__ADS_1


__ADS_2