Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Maafkan Diriku


__ADS_3

"Apa tidak berarti apa-apa bagimu,?" Hanna mulai serius bertanya, dia meletakkan sendoknya di piring. Lalu menatap Rayyan dengan mimik serius. Rayyan menatap Hanna lekat, tiba-tiba rasanya Hanna terlihat seperti ini. "Jika kamu menganggap aku sebagai orang yang paling dekat denganmu, seharusnya kamu mengatakan apa yang terjadi sebenarnya, bukan menutupinya," Hanna kembali mengeluarkan unek-unek di hatinya.


Rayyan masih terdiam, Hanna sedang memprotesnya. Rayyan mengangguk sambil tersenyum kecil.


"Sorry sayang....," Rayyan mencoba menggenggam tangan Hanna yang berada di atas meja, namun Hanna menarik tangannya. Inilah saatnya agar Rayyan mulai membencinya.


"Han...,"


"Kiranya aku memang bukanlah orang yang pas untukmu, bahkan untuk mendengar keluh kesahmu pun kamu meragukanku," Hanna terus saja mencari celah, inilah kesempatannya. "Sudah berulang kali aku mengatakan, bahwa kita tak akan mencapai tujuan yang sama,"


"Han...kenapa jadi seperti ini, bukan ini Han...," Rayyan mencoba menjelaskan. Tapi Hanna yang sebenarnya sadar posisi Rayyan mencoba menolak penjelasan apapun dari Rayyan. Karena tujuannya memang ingin membuat Rayyan menjauhinya, kembali menata hidup dan karirnya agar seperti dulu.


"Rayyan....," Hanna meneguk ludahnya, tenggorokannya terasa tercekat. Antara bisa mengeluarkan unek-uneknya atau tidak, tapi harus, harus dia lakukan.


"Kita tidak bisa bersama," akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Dunia seakan berhenti berputar sekarang, kepalanya terasa berat dan pandangannya terasa kabur. Hanna hanya menatap meja, tidak berani menatap wajah Rayyan. "Aku lelah, aku lelah berada di sampingmu," imbuhnya sembari menahan air matanya, berharap jangan jatuh sekarang, karena itu akan menjadi Rayyan tahu jika ucapan itu tak benar adanya.


"Han....," Rayyan masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Iya, aku lelah bersamamu Rayyan, kita sangat berbeda, dunia kita sangat berbeda. Dan belum lagi umpatan mereka tentang aku, membuat aku sangat lelah, dan aku tidak sanggup," Hanna menegarkan diri, menahan agar suara terdengar lantang dan berani dengan keputusannya.


"Maksudmu,?"


"Iya, aku ingin kita putus," Hanna menegaskan. Rayyan menatap Hanna dengan nanar. Tatapan inilah yang membuat Hanna terasa lemah meskipun dia hanya melihat mata Rayyan sekilas, rasanya dia ingin memeluknya dengan erat.


Maafkan aku Rayyan, aku melakukan ini untuk kebaikanmu. Gumamnya dalam hati

__ADS_1


Rayyan memejamkan matany, mencoba memahami semua yang diucapkan oleh Hanna.


"Kamu bercanda kan Han,?" tanya Rayyan sambil tersenyum.


"Apa aku terlihat bercanda,?"


"Nggak mungkin, sini coba lihat mata kamu," Rayyan masih belum putus asa, dia sangat yakin jika apa yang dilakukan Hanna ini adalah tidak wajar. Pasti ada hal lain yang disembunyikan.


Hanna melengos. "Lebih baik kita pulang sekarang, karena apa yang aku katakan sudah jelas," Hanna bergegas mengambil tasnya dan segera berlalu.


"Han...Han...," Rayyan mengejar Hanna.


"Kita pulang masing-masing ya....," Hanna tidak melihat ke arah Rayyan, langkahnya terhenti saat Rayyan berhasil meraih lengan Hanna. Hanna sengaja tidak melihat Rayyan, karena air matany sudah mulai merebak.


"Ok kita pulang," Rayyan meraih tangan Hanna dan menggandengnya keluar, Hanna sudah tidak punya energi lagi untuk melepaskan tangannya. Batinnya sedang berperang, terasa sakit. Dengan sekuat tenaga dia menyimpan air matanya agar tidak tumpah.


Sepanjang perjalanan, Hanna terdiam meratapi isi di kepalanya. Begitu juga Rayyan yang merasa semakin kacau. Bukan ini yang dia inginkan. Bukan ini.


Kenapa Hanna bisa melakukan hal ini? apa yang salah dengannya? apakah alasan dia lelah gegara mendapat banyak hujatan dari para penggemarnya yang ekstrim?


Mobil berhenti di depan pagar rumah Hanna, Hanna membuka pintu mobil dan turun. Begitu juga Rayyan, sudah turun dan mendekat ke arah Hanna yang mematung di dekat mobil menunggu Rayyan. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir dengan laki-laki itu. Hanna sudah bisa menguasai perasaannya, dia mencoba tersenyum.


"Han...pikirkanlah baik-baik, aku yakin ini bukan keinginan hatimu yang sebenarnya," Rayyan memegang pundak Hanna lalu mengelusnya dengan lembut. "Aku selalu sama, aku akan ada untuk kamu,"


Hanna menunduk, lalu mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Masuklah, sudah mulai gelap," Rayyan berbicara dengan lembut, tak lupa senyumnya merekah.


Dan apa yang dilakukan Rayyan membuat batinnya semakin merasa bersalah, merasa teriris-iris. Karena ini memang bukan inginnya yang sebenarnya.


Hanna melangkah, meninggalkan Rayyan. Dia tidak berbalik, karena air matanya sudah mulai membanjiri pipinya. Benar-benar terasa sakit, tapi harus dia tahan. Rayyan melihat Hanna berjalan dengan tatapan nanar, ingin rasanya dia memeluknya. Apakah ini akhir hubungannya dengan Hanna? akan begini saja?


Hanna sudah masuk ke dalam rumahnya, dia tahu jika Rayyan masih mematung di tempat yang sama. Hanna segera menutup pintu rumahnya, dia berdiri mematung di sana. Menyandarkan tubuhnya di pintu tersebut, air matanya kini semakin deras. Perpisahan yang sama sekali tidak dia inginkan.


"Rayyan.....hu...hu...hu," tangisnya semakin menjadi, terdengar sangat pilu. Hanna terduduk di depan pintu, meletakkan tasnya di sampingnya dengan sembarangan. Hanna memeluk lututnya. Inilah pertemuan terakhir dengan Rayyan. Meskipun sakit, semua akan baik-baik saja. Rayyan akan melupakannya dengan mudah setelah ini. Rayyan harus menata hidupnya dengan baik setelah ini. "Maafkan aku Rayyan...maaf, gara-gara aku hidupmu jadi berantakan,"


Hingga beberapa lama Hanna terduduk di sana, air matanya sudah mengering. Tapi batinnya masih terasa sangat sakit.


"Kenapa aku sejahat ini,?" Hanna merutuki dirinya sendiri. "Semoga kamu mengerti nantinya Rayyan, aku mencintaimu, tapi ini jalan yang terbaik untuk kita,"


Beberapa lama Rayyan berdiri mematung di sana, masih sangat berharap Hanna membuka pintu rumah dan menghambur ke arahnya. Berharap bahwa ini hanya lelucon semata. Tapi ternyata pintu itu masih saja tertutup rapat. Dan akhirnya Rayyan meninggalkan rumah Hanna.


Sepanjang perjalanan, pikirannya semakin kacau.


"Haaaaaah," Rayyan memukul kemudinya, mengacak rambutnya. Ini pelampiasan amarahnya yang meledak. Amarah yang dia tahan setelah beberapa waktu dia pendam.


Apa yang akan dia lakukan kini? kenapa Hanna bisa seperti ini. Rayyan menepikan mobilnya, beberapa saat dia terdiam di dalam mobilnya. Rambutnya acak-acakan. Rayyan membuka kaca mobilnya, angin menerpa wajahnya.


Jalan terlihat lengang, malam mulai pekat dan semakin memperlihatkan sisi gelapnya. Rayyan membuka pintu mobil dan turun, memilih duduk-duduk di trotoar yang menghadap laut lepas. Merenungkan apa yang baru saja terjadi di hidupnya. Salah satu yang dia pegang erat mulai pergi meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.


"Maaf Han...jika selama ini hubungan kita memberatkan hidupmu,"

__ADS_1


__ADS_2