
Hari ini ada jadwal pengambilan toga di kampus, dengan senang hati Hanna pergi ke kampus. Dan meskipun Kia tidak ada jadwal, dia ingin sekali ke kampus sekedar menemani Hanna dan juga bertemu dengan Panji. Seperti biasa, Hanna lebih suka mengendarai motornya ke kampus.
Hanna menenteng tas kain yang berisi toga yang akan digunakan lusa, rasanya tak sabar dia menunggu hari itu tiba. Panji mengekor di belakang Hanna dan Kia yang sedang asyik mengobrol. Sesekali Kia tergelak, entah apa yang diobrolkan oleh mereka.
"Kita kemana,?" tanya Kia berjalan mundur, dia melihat Hanna dan Panji bergantian.
"Terserah, nanti aku yang traktir," Hanna nampak gembira.
"Ok, aku suka kalau ada yang traktir," Kia bersemangat. "Kemana Nji,?" tanya Kia sambil mengedikkan dagu.
"Terserah,"
"Kok terserah sih,?" Kia menaikkan kedua alisnya.
"Shabu Shabu mau nggak,?" Hanna menawarkan pada kedua sahabatnya itu, sekali waktu boleh lah makan agak mahalan dikit, sebagai bentuk rasa syukur atas kelulusan Hanna.
"Mauuuuu," teriak Kia semakin semangat. Dan mereka pun berangkat dengan mengendarai mobil Panji, sementara motor Hanna dan mobil Kia ditinggal di parkiran kampus.
Panji yang menjadi pengemudi, Hanna duduk di depan dan Kia berada di belakang Hanna. Sesekali mereka tergelak.
"Duh sumpah aku iri banget sama yang udah lulus, doain aku cepat nyusul ya...nanti kalian aku traktir liburan," Kia berseloroh.
"Huh...beneran,?" Hanna menatap ke belakang, Kia tanpa ragu mengangguk.
"Serius lah, sekalian doain aku punya pacar segera," Kia terkekeh, Hanna mencebik lalu ikut tertawa dengan permintaan Kia.
Mobil memasuki sebuah restoran jepang, Hanna dan Kia turun hampir bersamaan. Sementara Panji kembali mengekor dua cewek itu.
"Tahu nggak Han, Panji kayak lagi momong dua bininya," bisik Kia, lalu tertawa.
"Nggak usah ghibahin orang," yang merasa menjadi bahan obrolan pun protes. Kia menutup mulutnya.
Mereka sudah duduk di salah satu meja, Hanna mempersilahkan Kia dan Panji memilih menu terlebih dahulu. Setelah memilih menu, mereka kembali asyik mengobrol.
"Aku ke toilet dulu ya, kebelet nih," Kia segera meninggalkan Hanna dan Panji. Sesampainya di toilet, Kia bertemu dengan Mona and the gang di toilet.
__ADS_1
Kia sengaja memperlambat keberadaannya di dalam toilet, guna menuntaskan hasrat keponya kepada Mona dan temannya itu. Kali aja ada pembahasan yang mengusik telinganya.
"Gimana kemarin,? berhasil nggak minta si Hanna buat ngomong ke bokap sama nyokap kamu,?" tanya salah satu teman Mona.
"Gila itu Hanna ya...udah nggak punya uang belagu," Mona terdengar kesal.
"Jangan-jangan gosip selama ini benar?" tanya salah satu teman Mona yang lain, Kia tahu karena nada suaranya berbeda dari suara yang pertama.
"Apa? gosip kalau dia pacaran sama Rayyan.?" tanya teman yang pertama.
"Iya," timpalnya.
"Hish...jangan ngimpi, amit-amit dah Rayyan mau dengan orang modelan seperti Hanna, langit dan bumi," ejeknya. Kia menelan ludahnya, dan dia masih saja terdiam dengan tenang di dalam sana.
"Info Om kamu gimana.?" tanya Mona.
"Nggak bilang sih, cuma duh udah deh kalian nggak usah mikir sejauh itu, Hanna sama Rayyan,?" suara cewek itu meninggi khas sedang meremehkan, lalu diikuti suara tertawa merendahkan.
"Akan aku traktir kalian liburan seminggu kalau memang iya," ejeknya dengan senyuman miring.
"Ih...apaan sih," gertak salah satu teman Mona dengan lantang, namun Kia tak peduli. Dia mencuci tangan dengan santainya, lalu menarik tisu dan mengeringkan bekas air yang menempel. Lalu dia membalikkan bdan, melihat ketiga cewek yang ada di depannya.
"Hai para cewek cantik dan beken di kampus, kalian lagi ngomongin Hanna,?"
"Ups...ada temannya ternyata,?" ejek salah satu teman Mona dengan santainya.
"Ada salah apa Hanna sama kalian? kok sampai mulut kalian pada jahat ke dia? lagian dia nggak pernah ganggu hidup kalian pada, heran deh," Kia bersedekap. Rasanya amarahnya sudah ingin meledak begitu saja. "Oh ya...apakah tawaran liburan berlaku buat aku juga,?" Kia tersenyum smirk pada mereka bertiga. Seolah sangat yakin jika akan menang taruhan.
"Hah...? silahkan saja, kamu boleh deh ikut liburan kita kalau memang Hanna beneran sama si Rayyan, ngimpi," tawanya.
"Deal," Kia mengangkat jempolnya, lalu keluar.
"Kamu serius,? jangan-jangan beneran tuh si Hanna memang pacaran sama Rayyan.
"Please deh ah, pakai logika dengan jernih, nggak ada cerita itu Hanna pacaran sama Rayyan, palingan kemarin mereka terlihat hanya karena sempat ada urusan kampus. Bahkan omku yang wartawan handal pun belum bisa menemukan bukti itu,"
__ADS_1
Kia kembali duduk di dekat kedua sahabatnya dengan masih menahan emosi.
"Kamu lama banget, mules,?" tanya Hanna khawatir.
"Enggak, lagi gedek aja sama virus,"
"Virus,?" Panji penasaran. Lalu dia mengedarkan pandangan di sekitar.
"Nggak usah dicari, sebel banget aku sama mereka,"
"Mereka? siapa,?" Hanna ikut penasaran.
"Ah bodo ah," Kia mencomot daging grill dengan menggunakan sumpit, nampaknya kepergiannya ke toilet memang agak lama. Sehingga makanan sudah tersaji semua di atas meja.
"Udah makan aja biar kenyang, jangan marah mulu," bisik Hanna santai. Sekilas dia melihat ada Mona dan teman-temannya, dan mungkin itulah yang membuat Kia uring-uringan.
Setelah membayar semuanya, Hanna meninggalkan restoran tersebut menyusul Kia dan Panji yang terlihat sedang mengobrol di parkiran. Dan mereka bersiap untuk pulang.
***
Hari yang dinanti tiba, Hanna tidak akan menggunakan jasa rias untuk wisudanya. Berbekal belajar mandiri dari video di internet, Hanna bisa sedikit untuk rias wajah. Dan ini yang akan dilakukannya esok hari. Hanna bahagia sekaligus sedih. Baru saja Nayo melakukan panggilan video call, di mana adiknya itu terlihat kurusan. Dan mengatakan sangat merindukan kakaknya itu, masih ada beberapa hal yang harus diselesaikan di sana sehingga dia belum bisa kembali pulang.
Hanna memaklumi dan terus menyemangai adiknya itu. Setelah menutup panggilan video kepada adiknya, Hanna bergegas keluar kamar dan masuk ke dalam kamar ayahnya.
"Ayah...besok Hanna wisuda, ini adalah salah satu impian ayah melihat Hanna wisuda kan,? semoga ayah senang ya...," Hanna berdiri di depan foto ayahnya yang menempel di dinding kamar. Hanna menyapukan pandangannya ke seluruh kamar. Dan dia sangat merindukan ayahnya itu. Hingga dia tertidur di sana.
Acara wisuda akan berlangsung sekitar pukul 8 pagi, Hanna terbangun saat mendengar adzan subuh berkumandang. Hanna terbangun dan menyadari dia tertidur di kamar ayahnya. Hanna mengucek matanya dan segera keluar dari sana, menuju kamar mandi untuk mandi sekalian.
Selepas menjalankan ibadah subuh, Hanna hendak membuat sarapan karena dia tahu prosesi wisuda tidaklah sebentar. Agar dia tidak pingsan di sana nantinya. Belum juga Hanna berjalan ke dapur, terdengar suara pintu diketuk.
"Siapa pagi-pagi begini.?" gumamnya sambil melangkah ke pintu depan, Hanna menyibak gorden dan melihat ada tiga orang perempuan di sana dengan seragam rapi. Hanna membuka pintu.
"Iya, ada apa ya,?" Hanna terheran, karena ini masih terlalu pagi untuk bertamu. Sebuah mobil berada di depan pagar rumahnya. dan tiga perempuan itu nampak sangat rapi. Kalaupun mau nagih hutang atau apa kenapa sepagi ini? pikir Hanna. Mereka nampak tersenyum.
Dan lagi-lagi, kalaupun mereka mau merampok juga tidak mungkin, apa yang mau dirampok dari rumah ini.
__ADS_1