
Perjalanan yang terasa panjang bagi Hanna, tidak banyak yang dia bicarakan. Karena rasa segan saat bersama dengan Farel. Farel yang menurut banyak orang menyukainya, tapi lagi-lagi Hanna tidak percaya jika Farel menyukai dirinya yang apa adanya begini.
"Kamu sudah tahu jika akan ada pertemuan antar kantor semacam study banding nanti,?" Farel memecah keheningan, meskipun suara kendaraan terdengar di luar mobil yang sedang berjalan.
"Tadi sempat dengar dari Ratna," Hanna tersenyum simpul, jelas Farel lebih tahu dari Ratna. "Kapan pak,?"
"Mungkin minggu depan, kamu ikut,"
"Oh," Hanna mengangguk.
"Ada beberapa lah dari kantor, ya...semacam gathering juga sih,"
"Iya pak,"
"Oh ya, kamu nggak sekalian pulang nanti,?"
"Oh, pulang? memang acaranya di mana pak,?"
"Di kota kampung halaman donk," Farel melihat ke arah Hanna.
Hanna mangguk-mangguk, boleh juga sekalian nanti dia pulang. Sudah rindu rumahnya dan juga adiknya, sekalian mengajak Ratna ketemu dengan Nayo.
Hanna masuk ke dalam kontrakan mungilnya, meletakkan tas kerjanya di tempatnya. Kaos kaki dilepasnya dan diletakkan di tempat cucian. Kemudian dia menuju kamar mandi untuk mandi agar tubuhnya terasa segar karena seharian belum tersentuh air.
Sehabis mandi, Hanna menuju dapur membuat kopi untuk menemaninya duduk di sofa sambil melihat ponselnya, aktivitas yang dilakukan sebelum tidur.
Baru akhir-akhir ini Hanna berani membuka media sosialnya kembali, dan agak lebih tenang sekarang. Tidak banyak yang memberikan komentar jahat, mereka semua sudah tahu jika Hanna sudah tidak lagi dengan Rayyan. Hanna memberanikan diri membuka profil media sosial Rayyan. Betapa dia merindukan laki-laki itu.
"Dasar, foto profilnya nggak pernah berubah," Hanna mengusap layar ponselnya yang menunjukkan foto Rayyan sedang memegang kacamata, terlihat sangat keren.
__ADS_1
Tidak ada postingan terbaru dari Rayyan, Hanna menganggap Rayyan mulai sibuk sekarang dan tak sempat memposting apapun. Semoga saja Rayyan menjalani hidupnya dengan baik, dan kini dia baik-baik saja.
Hanna melihat gelas kopinya yang sudah hampir tandas, kemudian dia melihat jam di ponselnya, sudah cukup larut. Dia harus segera tidur jika tidak mau besok terlambat ke kantor. Hanna menurunkan kakinya yang tadi bersila di kursi, membawa ponsel dan juga gelas kopinya. Meletakkan gelas di dapur lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengistirahatkan tubuhnya.
***
Suasana sibuk terlihat di kantor Rayyan, karena semakin sibuk, sejak dua bulan yang lalu Rayyan memperkerjakan seorang sekertaris pribadi.
"Ini proposal dari berbagai perusahaan pak," ujar Annet sambil mengulurkan beberapa proposal yang perlu dia tunjukkan.
"Seharusnya nggak perlu ke saya kan, kamu sudah bisa mengeceknya," gumam Rayyan, ini urusan remeh yang tak harus dia yang pegang.
"Baik pak, dan apakah Bapak yang akan turun langsung untuk memberikan pengarahan nantinya? biar sekalian saya masukkan jadwal,"
Rayyan nampak berpikir, ini sebenarnya sepele juga baginya. tapi...
"Ok nggak apa-apa, tapi nanti prioritasnya untuk kepala produksi saja, saya hanya formalitas saja,"
"Saya mau makan, kita keluar saja,"
"Baik pak," jawab Annet dengan perasaan gembira.
Rayyan bergegas bangkit dari kursinya dan segera keluar, Annet membuntuti Rayyan dengan perasaan berbunga-bunga. Gadis cantik itu merasa sangat beruntung bisa bekerja dengan Rayyan dan sedekat ini dengan Rayyan. Jelas saja posisinya akan membuat banyak orang lain iri dengan posisinya.
Rayyan mengendarai mobilnya tanpo sopir, inilah kebiasaannya sekarang. Annet duduk di samping Rayyan, sudah menjadi kebiasaannya makan ditemani oleh Annet. Bukan tanpa tujuan, Rayyan melakukannya agar jika sewaktu-waktu dia ingat kerjaan penting yang harus dicatat, Annet akan segera mencatatnya.
"Maaf pak, bolehkah saya tanya sesuatu,?" Annet memberanikan diri, karena dia memang seorang gadis cantik yang sangat percaya diri.
"Hem," jawab Rayyan dengan berdehem.
__ADS_1
"Kenapa bapak lebih suka di balik layar sekarang? padahal karir bapak sangat moncer, dan saya adalah salah satu penggemar yang merindukan bapak kembali ke dunia entertainer," ceplos Annet tanpa basa-basi.
Rayyan terlihat tersenyum kecil, banyak orang yang menanyakan hal ini apadanya. Tidak hanya satu dua orang, bahkan Kamila sang mantan manager pun mempertanyakan. Tapi keputusan Rayyan sudah bulat, dia lebih suka berada di balik layar seperti ini. Dia sudah nyaman.
"Karena seseorang," ujarnya penuh misteri, lalu senyumnya mengembang.
"Seseorang,?" Annet penasaran.
Rayyan tidak menjelaskan lebih detail kepada Annet, cukup hanya untuknya alasannya itu. Seseorang yang dimaksud adalah Hanna. Dia ingin menjadi dirinya yang sekarang, karena jika suatu saat dia masih ada kesempatan untuk bertemu dengan jodoh yang bukan dari kalangan seleb, setidaknya pasangannya akan merasa nyaman dan tidak akan mendapatkan sumpah serapah karena tidak sesuai ekspektasi dari mereka.
Mobil sudah sampai di tujuan, sebuah restoran cepat saji. Baru kali ini Annet melihat Rayyan di tempat makan cepat saji. Tapi dia tidak menanyakan alasannya pada Rayyan. Bukan tanpa alasan, karena perbincangannya dengan Annet tadi, dia kembali teringat akan Hanna. Dan merindukan Hanna. Salah satu hal yang sering dilakukan bersama Hanna adalah makan di tempat makan cepat saji.
"Kamu susun saja jadwalnya dengan baik, nanti kamu konsultasikan ke bidang yang bersangkutan, buat sebaik mungkin, layani tamu sebaik mungkin, ini adalah bisnis, saya yakin akan ada investor yang meliriknya setelah ini,"
"Baik pak," Annet kembali membuka buku catatan dan mencatat perintah Rayyan. Karena memang ini tugasnya, jangan sampai terlewat perintah Rayyan satupun.
Makan datang dengan cepat. Annet menutup bukunya.
"Makanlah," titah Rayyan.
"Iya pak, terima kasih,"
Mereka makan dengan lahapnya, jika orang asing yang melihatnya, pasti mereka disangka adalah pasangan. Dan bagi Rayyan, lumrah jika bekerja seperti ini. Namun berbeda dengan apa yang dirasakan oleh Annet, dia merasa begitu istimewa. Rayyan menyukai cara kerja Annet yang cekatan dan bagus.
Dalam 3 bulan ini, perkembangan perusahaan begitu pesat kemajuannya. Bahkan melebihi apa yang dia bayangkan, sehingga banyak perusahaan lain yang ingn belajar dan menjalin kerjasama dengan perusahaannya. Ini adalah terobosan yang bagus, dan Rayyan tidak akan membuang kesempatan ini.
"Saya ke toilet dulu pak," ijin Annet. Rayyan mengangguk, tanganya mencomot tisu dan mengelap bibirnya.
Sementara itu Annet yang selalu bahagia bisa sedekat dengan ini dengan Rayyan sedang bercermin di toilet, membenahi lipstiknya yang sedikit memudar karena makan.
__ADS_1
"Ini adalah kesempatan emas," bisiknya pada diri sendiri, matanya mengerling genit sebelum dia kembali ke meja di mana Rayyan sudah tidak berada di sana. Nampak celingukan mencari Rayyan, dan akhirnya dia melihat Rayyan di pintu keluar. Dengan tergesa Annet mengambil bukunya di meja dan berlari kecil mengejar Rayyan.