Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Maaf


__ADS_3

Melihat Rayyan masih tidur molor, Hanna memutuskan untuk keluar dari kamar dan menuju lobby hotel untuk sekedar melihat suasana di luar. Hujan turun dengan derasnya, Hanna duduk di sebuah kursi di dekat kaca. Melihat air yang turun dengan derasnya. Hanna memegang kedua lengannya dan mengusapnya, membuang rasa dingin yang mulai menyeruak.


Karena hujan turun disertai badai, maka syuting hari ini terpaksa batal. Itu artinya kepulangan Hanna juga akan bergantung dengan jadwal syuting yang molor. Hanna mendesah, apakah itu artinya dia akan melewatkan hari ulang tahun Bian. Hanna memandangi layar ponselnya, tidak ada pesan masuk. Dan sampai detik ini pun Bia tak tahu jika dia sedang bekerja bersama Rayyan.


Hujan semakin deras turun, disertai angin kencang. Hanna melihat keluar, di mana terlihat pohon-pohon bergoyang diterpa angin. Kebanyakan dari crew dan talent menginap di tempat yang sama, karena pulau ini memang kecil dan khusus untuk wisata, sehingga hampir semua terpusat di sini untuk penginapan.


"Kenapa aku merasa jika dia ada sesuatu dengan Rayyan" ucap seorang gadis yang duduk tepat di kursi sebelah Hanna duduk. Hanna terdiam, serasa sudah biasa menjadi bahan ghibahan bagi orang yang sama sekali tidak dia kenal.


"Kucel, kumal, jelek, hiiih" gumam seorang temannya. Kedua gadis itu adalah orang yang berbeda dengan orang yang kemarin. Hanya saja Hanna tau, jika keduanya adalah bagian dari proyek ini. Mereka memang cantik, bahkan sangat cantik menurut Hanna.


"Kenapa sih dia bisa sedekat itu sama Rayyan?".


Hanna yang memunggungi mereka, Hanna yang masih melihat luar pun merasa geram dengan ocehan mereka. Apa yang salah darinya? apa yang dilakukannya apakah mengganggu hidup mereka?. Hanna menghela nafas panjang. Padahal ini bukan apa-apa, hanya sebagai babu Rayyan yang dekat saja sudah begini menyakitkannya, apalagi jika dia harus menjadi pacar Rayyan atau istri sungguhan dari Rayyan. Apa yang akan dilakukan mereka? apa yang akan dilakukan oleh para penggemar Rayyan. Sungguh Hanna tak bisa membayangkan.


"Katanya sih asistennya, soalnya asisten manajernya lagi sakit, jadi digantiin sama dia"


"Tapi menurutku agak aneh sih Rayyan memperlakukan dia, dan aku yakin dia pasti besar kepala tuh. Benar-benar mengganggu pandangan mata"


Hanna bangkit dari duduknya dan menuju meja dua gadis yang asyik mengghibahnya itu, nampak mereka terkejut melihat Hanna mendekati meja mereka. Itu menandakan bahwa dua gadis itu tadi tidak menyadari jika Hanna berada di sana.


"Sudah selesai menjelakkan aku?" Hanna menatap dua gadis itu bergantian. Kedua gadis itu melihat Hanna sambil terdiam. "Kenapa kalau aku dekat dengan Rayyan?".


"Siapa juga yang menjelakkan kamu, GR banget" ujar gadis satunya sambil membenahi jaketnya.


"Syirik aja jadi orang, bersihin tuh hati, biar bisa dilirik sama Rayyan" Hanna meninggalkan mereka berdua dengan perasaan sebal. Dia masuk ke dalam lift untuk kembali ke kamar.


        Rayyan menggosokkan handuk di rambutnya selepas keluar dari kamar mandi, terdengar bunyi langkah kaki dari arah pintu. Rayyan melihat Hanna datang dengan wajah bersungut-sungut.


"Nggak ada syuting, hujan badai" ucapnya dengan nada ketus. Membuat Rayyan hanya memandangi gadis itu dengan heran. "Dan aku ingin pulang" ucap Hanna sambil membanting tubuhnya di sebuah kursi dekat jendela, kini dia melihat hujan dari jendela kaca kamar tersebut.

__ADS_1


Rayyan masih menggosok rambutnya dengan handuk.


"Kamu kenapa?" tanyanya.


"Hiiiiisssshhhh pokoknya aku bosen, setelah ini aku nggak mau jadi asisten kamu. Titik!" Hanna kembali bersungut-sungut, terlebih saat mengingat hinaan dari para teman perempuan Rayyan itu, membuat otaknya terasa mendidih.


"Kamu kenapa sih? kamu lapar ya? makanya aneh begini?" Rayyan berdiri di depan Hanna yang masih duduk, Rayyan menunduk melihat Hanna. Hanna mendongak sambil memegangi dua lututnya.


"Enggaaaak" jawabnya dengan ketus.


Rayyan seolah sedang melihat singa yang sedang marah, lalu dia tersenyum. "Ok, aku keluar dulu cari makan, lapar" Rayyan memegang perutnya. Dan dia meninggalkan Hanna yang hanya melihatnya sekilas sebelum keluar kamar.


        Rayyan ke bawah dan pergi ke restoran yang satu area dengannya menginap. Melihat Rayyan berada di kursi sendirian sedang makan. Dua gadis yang membuat Hanna bad mood itu segera menghampiri.


"Hey boleh gabung?" Rayyan menyipitkan mata, mencoba mengingat siapa dua orang yang sudah berdiri dengan jarak dekat darinya itu.


"Sayang sekali agenda hari ini harus batal" ujar seorang gadis yang memakai jaket.


"Hehm.." Rayyan tersenyum kecil.


"Oh ya...sendirian aja nih? kok nggak ikut asistennya?" tanyanya lagi.


Rayyan menyipitkan mata kembali, seolah sedang bertanya siapa yang dimaksud.


"Hanna?" Rayyan balik bertanya dengan menyebutkan nama Hanna.


"Oh namanya Hanna? itu asisten rumah tanggamu kah?" ceplosnya. Rayyan menatap gadis berjaket itu dengan sinis, lalu meninggalkan mereka begitu saja. Seolah dia tahu apa yang membuat Hanna jengkel. Rayyan hendak masuk ke dalam lift tak jadi sarapan.


Saat dia tepat berada di depan lift, Hanna keluar dari lift dengan membawa tas selempang dan juga kopernya, seperti hendak meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" Rayyan mencegah gadis itu pergi. Hanna tak peduli, dia tak menjawab dan tetap saja berjalan. Rayyan menarik tangan Hanna, mereka berdua tidak peduli saat menjadi tontonan orang yang ada di sekitar mereka.


"Pulang" jawab Hanna akhirnya, tanpa menatap wajah Rayyan.


"Kamu serius?" Rayyan menatap gadis itu.


"Iya" jawab Hanna masih dengan nada ketus.


"Kamu serius mau pulang hanya gara-gara ocehan nggak jelas dari mereka?" Rayyan menunjuk ke arah dua gadis yang masih di sana melihat Rayyan dan Hanna sedang berdebat. Lalu dua gadis itu pura-pura tak melihat Rayyan dan Hanna, mereka pura-pura mengobrol dengan satu sama lain. Hanna ikut melihat ke arah dua gadis itu.


"Bukan, aku hanya ingin pulang" jawab Hanna.


"Nggak bisa gitu donk, kamu sudah bersedia kerja sama aku, maka kamu ikut prosedurnya, lagian...ayolah Han...ini hanya masalah kecil" Rayyan memegang kedua pundak Hanna, Hanna yang tak mau disentuh pun bergeser agar tangan Rayyan lepas dari tubuhnya. Rayyan melepas kedua tangannya.


"Aku pengen pulang, jika aku lama di sini aku nggak bisa ngerayain ulang tahunnya Bian" ceplos Hanna tanpa basa-basi.


Mendengar jawaban Hanna, Rayyan tersenyum hambar.


"Oh itu alasannya, kapan?"


Hanna tak menjawab, dan dia tak akan menjawab.


"Ok, kalau kamu ingin pulang biar kau antar kamu pulang, asal kamu tahu, aku tak akan membiarkan kamu pulang sendirian" Rayyan menarik tangan Hanna kembali masuk ke dalam lift dan kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Hanna yang seperti anak kecil itu pun menurut saja. Rayyan masih memegang tangan tangan Hanna, sedangkan tangan kirinya menarik koper Hanna.


"Kita tunggu sampai hujan dan badai reda, setelah itu kita pulang" ucap Rayyan tanpa ragu. Mendadak membuat nyali Hanna ciut, bagaimana bisa Rayyan bisa berbicara dengan mantap hanya untuk itu. Lalu bagaimana dengan syutingnya?.


"Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri" Hanna menjawab tanpa melihat ke arah Rayyan.


Rayyan mendekati Hanna dan memeluk Hanna erat. "Ini salahku, maka aku akan mengantar kamu pulang, kamu bisa merayakan ulang tahun kekasihmu, aku janji" ujar Rayyan masih sambil memeluk Hanna. Hatinya berkecamuk, tapi dia tak mau mendebat perasaannya sendiri. Yang penting Hanna senang. "Maaf" kembali Rayyan bergumam.

__ADS_1


__ADS_2