Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Time To Holiday


__ADS_3

Kamila menepati janjinya, setelah rangkaian syuting usai, dia menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan permintaan Rayyan. Dia mengurus tiket serta tempat liburan yang diinginkan oleh Rayyan, yaitu di sebuah pulau yang indah dan terbatas untuk wisatawan.


"Terima kasih Mil" ucap Rayyan sambil melambaikan tangan sebelum Kamila masuk ke dalam mobil, mereka akan berpisah dengan tujuan yang berbeda kali ini. Jika biasanya mereka akan berangkat dan pulang bersama.


"Ok, nikmati liburanmu dan pulanglah dengan bahagia" Kamila membalas lambaian tangan Rayyan. Kini dia lebih membiarkan Rayyan memilih jalan hidupnya, dia hanya berharap pada doa agar Rayyan tak kembali membuat sensasi sepulang liburan nanti.


Rayyan masuk ke dalam mobil yang akan mengantarkannya ke bandara, tangannya sibuk menekan ponsel dan mengirimkan pesan kepada seseorang. Mereka akan bertemu di bandara, Rayyan menyunggingkan senyumnya. Akhirnya. liburan yang dia inginkan sudah ada di depan mata, dengan seseorang yang dia inginkan.


        Rayyan berpenampilan santai, dengan kaos dan jaket serta celana jeans dan sepatu kets. Tak lupa dia memakai topi dan masker agar tidak banyak mengundang para penggemar yang mengenalnya nanti. Rayyan keluar dari mobil yang mengantarnya dan membawa kopernya sendiri, sejauh ini masih aman tak ada yang mengenalinya sebagai artis besar di negeri ini. Rayyan berjalan santai hingga tempat yang dia tuju. Sesampainya di sana, seorang perempuan nampak datar memandangnya.


"Sorry telat" Rayyan mengusap rambut perempuan itu dengan lembut, dia tahu jika perempuan di depannya itu cemberut menunggunya. "Macet" imbuh Rayyan. Dia meletakkan koper di samping lalu dia duduk di dekat perempuan itu.


"Lamaa" jawab perempuan itu sambil bergelondot manja di lengan Rayyan.


"Iya maaf...." Rayyan kembali meminta maaf. "Ya sudah, ayok pindah ke sana" Rayyan menunjuk sebuah ruangan VIP, agar kebersamaan mereka tidak ada yang mencurigai.


Rayyan dengan cekatan membawakan koper Talitha juga, sehingga perempuan cantik itu hanya berjalan melenggang di samping Rayyan sambil sesekali melihat Rayyan. Sementara Rayyan membawa dua koper.


        Sambil menunggu penerbangan, mereka duduk santai di ruang VIP bandara. Talitha mengacak-acak rambut Rayyan, Rayyan membiarkan perempuan itu berbuat sesukanya.


"Aku rindu kamu" ujar Talitha.


"Masa?" Rayyan tersenyum.


Talitha memukul pelan dada Rayyan, senyumnya mengembang. Dia sungguh merindukan laki-laki yang ada di sampingnya itu, sudah agak lama dia tidak melihat Rayyan. Kali ini dia benar-benar bahagia.


***


Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih satu jam, mereka tiba di tempat yang dituju. Rayyan keluar mobil dan membuka bagasi, mengeluarkan dua koper miliknya dan milik Talitha.

__ADS_1


Talitha berjalan di depan, Rayyan mengikutinya sambil menyeret dua koper tersebut. Dia benar-benar menikmati liburannya sebagai diri sendiri tanpa pengawalan. Setelah check ini di resepsionis, Rayyan dan Talitha menuju kamar masing-masing, tempat mereka berseberangan.


"Setelah ini kita makan" Talitha membuka pintu kamarnya.


"Ok" jawab Rayyan membuka pintu kamarnya juga.


Mereka masuk di kamar masing-masing, Rayyan meletakkan kopernya begitu saja di samping ranjang. Sebuah kamar yang mewah dengan pemandangan yang indah di luar sana. Rayyan melepaskan sepatunya dan segera masuk ke dalam kamar mandi, sebelum kembali keluar untuk makan malam bersama Talitha.


        Sebuah tempat makan dengan konsep outdoor tersaji di depan mata, Rayyan berjalan ke arah meja yang sudah dia pesan. Rayyan sengaja datang lebih dulu agar Talitha tak kembali marah padanya. Tak berapa lama, nampak dari arah agak jauh Talitha berjalan mendekat ke arahnya.


"Hay..." sapa Talitha, perempuan itu benar-benar menawan, sungguh jelita di mata Rayyan.


"Hay..." balas Rayyan, dia berdiri dan menarik kursi untuk Talitha.


"Terima kasih sayang" ujar Talitha.


"Ok sayang, oh ya aku baru pertama kali liburan di tempat ini, indah....terima kasih ya sayang"


"Iya, aku sudah dua kali ini kesini, memang indah...dan yang terpenting tempat ini bisa menjaga privasi, aman"


"Iya..."


"Tapi maaf ya...aku hanya bisa di sini tiga hari saja, dan setelah ini jadwalku padat banget"


Talitha menghela nafas panjang, sesungguhnya ini yang menjadi ganjalan di hatinya, Rayyan tak punya banyak waktu untuknya. Bertemu begini pun harus diam-diam. Talitha tak menjawab.


"Sayang....kamu jangan sedih, meskipun kita jarang bertemu, tapi kita bisa saling memberi kabar" Rayyan mencoba bernegosiasi.


"Aku benci dengan situasi ini, kenapa jadi serumit ini?" Talitha protes. Rayyan memegang pelipisnya, sesungguhnya ini bukan semua salahnya. Hubungan ini memang rumit dan banyak resiko.

__ADS_1


Percakapan mereka terhenti saat pelayanan membawa makanan ke meja mereka, Rayyan mengucapkan terima kasih, begitu juga Talitha.


"Kita makan dulu" ujar Rayyan. Mereka makan dengan suasana yang agak terasa aneh karena pembahasan yang belum usai.


Talitha nampak ogah-ogahan, wajah jelitanya tak menunjukkan rasa senang. Dia nampak kecewa, dia ingin selamanya berada di sisi Rayyan, tak peduli apapun resikonya.


"Sayaang....aku sudah berusaha sebisaku" Rayyan kembali membuka percakapan setelah makan malam usai.


"Aku ingin bersama kamu selamanya" Talitha menatap wajah Rayyan tegas. Rayyan berdiri dari kursinya lalu mendekat ke arah Talitha, menarik badan perempuan itu lalu mendekapnya. Suasanya tenang dan lampu temaram membuat suasana semakin syahdu.


"Aku juga ingin bersamamu" jawab Rayyan setengah berbisik. Dia berusaha meredam rasa kecewa Talitha. "Aku juga ingin bersamamu sayang...hanya saja kamu tahu kan? bahwa kamu sudah bersuami, dan ini yang membuat kita sulit" Rayyan masih memeluk erat Talitha.


"Kita menikah saja" pinta Talitha.


Rayyan melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Talitha.


"Andai bisa....tapi kamu tahu kan..."


"Kamu nggak berani?" Talitha mencoba memprovokasi.


Rayyan terdiam sejenak, mencoba menenangkan pikirannya. "Bukan masalah berani enggaknya, tapi banyak hal yang harus kita fikirkan"


"Aku mau cerai setelah ini" ungkap Talitha mantap. "Dan aku mau kita menikah"


        Percakapan malam ini seolah tak menemukan titik temu, sangat disayangkan jika liburan ini menjadi tidak menyenangkan. Rayyan mengetuk pintu kamar Talitha, agak berapa lama Talitha baru membuka pintu kamarnya. Matanya nampak sembab.


"Maafkan aku" kalimat itu yang meluncur dari bibir Rayyan saat  melihat Talitha, ini adalah ucapan maafnya yang kesekian kali untuk Talitha. "Boleh aku masuk?" Rayyan menyunggingkan senyum di bibirnya. Talitha tanpa menjawab berjalan masuk ke kamar, membiarkan Rayyan mengekornya. Jendela kamar Talitha masih terbuka, AC dalam kamar sengaja tidak dinyalakan. Mungkin perempuan itu sedang menikmati hawa alam asli pulai ini.


Rayyan duduk di tepi ranjang, sementara Talitha berdiri di dekat jendela. Menerawang melihat luar, gemerlap lampu dari tempat seberang terlihat kerlap-kerlip, pulau ini sungguh indah dan memberikan kenyamanan. Dilihatnya Rayyan sudah merebah di ranjang kamarnya, laki-laki itu nampak memejamkan matanya, nampaknya dia sudah terlelap tidur. Talitha menutup jendela kamarnya dan menyalakan AC, dia mendekat ke arah ranjang dan menutup tubuh Rayyan dengan selimut, kemudian ikut rebahan di samping Rayyan. Dia mengelus rambut laki-laki itu dengan lembut, melihatnya dengan seksama lalu mencium kening Rayyan.

__ADS_1


__ADS_2