Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Kesalahan Satu Malam


__ADS_3

"Bukankah kita sudah membuat kesepakatan untuk tidak bertemu lagi?" ujar Bian pada perempuan yang ada di depannya.


Perempuan itu nampak angkuh, melipat kedua tangannya dan menatap wajah Bian dengan kesal, sangat kesal. Bian menarik nafas dalam.


"Kita sudah punya jalan masing-masing" imbuh Bian. Perempuan itu mendekatkan wajahnya ke wajah Bian, dengan sekat meja makan sehingga tak bisa lebih dekat lagi.


"Kamu jangan brengs*k!" pekiknya, meskipun pelan tapi mengancam. Pertemuan singkat yang penuh dengan amarah dari keduanya membuat mereka berdua berada dalam kubangan masalah yang memuakkan.


Berawal dari Bian yang sebenarnya gaya hidupnya agak liar, yang gemar berada di dunia malam, seperti biasa dia menghabiskan malam dengan berkumpul bersama gengnya. Mabuk dan bermain perempuan, tak berbeda dengan perempuan yang ada di depannya, dia sedang galau dan meradang karena hubungan percintaannya tak kunjung jelas kemana arahnya.


Malam itu, dengan keadaan sama-sama dipengaruhi minuman keras, mereka berkenalan singkat, dan terjadilah malam kelam yang membuatnya sama-sama terbuai dengan hasrat terlarang itu.


"Tak peduli seberapa bejatnya aku, namun kita sudah sepakat kan?" Bian tak mau kalah. "Bayi di kandunganmu sudah tidak ada, jadi aku tak memberikan bekas apapun padamu"


Plaaak


Suara tamparan itu terdengar keras, hingga ada beberapa pengunjung cafe yang melihat ke arah mereka, perempuan itu tak peduli dengan pandangan orang. Bian tersenyum sinis.


"Lalu apa yang kamu inginkan?"


"Aku ingin kamu bertanggung jawab" ujarnya dengan menatap tajam Bian.


"Buat apa?"


Perempuan itu nampak sangat marah, dia nampak sangat menyesal dengan apa yang terjadi di kehidupannya. Dia yang rela meninggalkan Brian suaminya yang sebenarnya ingin memperbaiki hubungan dengannya, namun kini dia sudah tak peduli padanya. Rayyan yang sebenarnya masih bisa dia tunggu, kini dia harus melepaskannya juga.


Perempuan yang tak lain Talitha itu nampak memegang kepalanya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Kamu sudah menghancurkan hidupku, menghancurkan semuanya"


"Aku tidak tahu siapa sebenarnya kamu, tapi aku pikir kamu juga bukan perempuan baik-baik" Bian berkata tanpa rasa bersalah.


"Kamu benar-benar brengs*k!" kembali Talitha mengumpat. Atas perintah Bian, Talitha menggugurkan kandungannya, hampir saja dia mati di tangan pelaku abortus ilegal. Dan kini Bian seolah lepas tangan.


"Talitha, ibaratkan kita adalah sebuah barang, jika sudah tak ada manfaatnya, bukankah kita harus membuangnya?" Bian menatap perempuan itu tanpa belas kasihan. "Anggap saja kita tak pernah kenal" Bian bangkit dari duduknya dan meninggalkan Talitha di sana sendirian dalam tangis.


        Hampir satu jam dia berada di sana, diam tak melakukan apa-apa, hingga akhirnya dia menyeka air matanya dan meninggalkan tempat itu. Merasa sudah tidak ada lagi artinya dia hidup. Talitha berada di mobilnya dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.


        Bayangan-bayangan tentang hidupnya yang terasa glaomur itu menguap begitu saja, karena sebenarnya dia rapuh sangat rapuh. Hingga inilah kehancuran hidupnya. Talitha mengemudi mobil dengan sembarangan. Dan selebihnya gelap.


***


Karena kesehatan Pak Handi yang belum membaik, Hanna mengantarkan ayahnya ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan ayahnya.


"Harusnya kita nggak usah kesini" Pak Handi masih saja menolak.


Mereka masih menunggu antrian untuk diperiksa oleh dokter. Pak Handi dan Hanna duduk di kursi antrian.


"Yah, tunggu dulu ya...aku mau ke toilet" pamit Hanna.


"Iya" jawabnya.


        Hanna meninggalkan Pak Handi di kursi tunggu, dia bergegas mencari toilet. Dan saat melewati selasar saat mencari toilet, Hanna berpapasan dengan pasien yang sedang dibawa menuju sebuah ruangan.


Hanna merasa tak asing dengan wajah itu. Begitu Hanna selesai ke toilet dan kembali ke Pak Handi, tibalah giliran Pak Handi masuk ke ruangan.

__ADS_1


Seorang perawat meminta Pak Handi rebahan di bed untuk diperiksa. Pak Handi nampak pasrah saja saat dokter memeriksanya.


"Bagaimana dok, ayah baik-baik saja kan?" Hanna nampak gusar, Pak Handi turun dari bed dan duduk di samping Hanna. Dokter yang sudah duduk di kursinya menerangkan keadaan Pak Handi.


"Jangan capek-capek ya pak, Bapak kecapekan" ujar dokter laki-laki itu ramah.


"Tuh kan yah, ayah mah gitu" Hanna melihat ke arah ayahnya. Pak Handi tersenyum saja mendengar Hanna mengoceh.


"Istirahat yang banyak dalam beberapa hari, itu saja, nanti saya kasih resep, semoga lekas sehat kembali" ujar dokter.


"Iya dok, terima kasih" jawab Pak Handi dan Hanna hampir bebarengan.


Mereka keluar dari ruang pemeriksaan. Hanna segera menuju apotek dan menebus obat yang telah diresepkan, Pak Handi kembali menunggu duduk di kursi tunggu apotek.


"Ayaah....jangan ambil kerjaan dulu ya, nanti kalau ayah sudah sehat kita kerja lagi"


"Nanti pelanggan ayah lari"


"Ayah lupa ya...kalau rejeki itu tak akan tertukar" Hanna mencoba menasehati ayahnya, ayahnya terkekeh mendengarnya. Putrinya sudah semakin dewasa.


"Iya" jawabnya pasrah.


        Sambil berdebat cantik, akhirnya nama Pak Handi dipanggil untuk menerima resep. Hanna bergegas menerimanya.


"Terima kasih mbak" ucap Hanna.


         Sesudah sampai rumah, Hanna mengambilkan makan Pak Handi dan kembali memintanya istirahat setelah minum obat.

__ADS_1


"Kamu mau kemana nak?"


"Hanna mau ada urusan sebentar yah, jangan lupa segera tidur" Hanna melihat Pak Handi mengangguk. Sebenarnya Hanna akan kembali ke rumah sakit untuk melihat Talitha, dia sangat yakin jika yang dia lihat itu adalah Talitha.


__ADS_2