
Musim hujan belum lewat, dan sore ini kembali turun hujan. Hanna lupa membawa jas hujan, Hanna melihat dari jendela, titik-titik air hujan mulai turun dari langit. Hanna membereskan barang-barangnya dan mematikan komputer, sebentar lagi jam pulang kantor.
Hanna mengetukkan jemarinya di meja, sambil berdoa gerimis ini tak menjadi hujan lebat seperti kemarin. Karena dia bertekad menerobos gerimis hingga rumah.
Hanna keluar dari ruangannya dan segera menuju lantai bawah dengan naik lift, suasana kantor sudah mulai ramai karena hampir semua karyawan bersiap pulang juga.
Hanna keluar dari lift, dan berlari kecil menuju tempat parkir. Gerimis kecil masih terlihat dan kini terasa di badannya. Hanna sudah berada di area parkir yang masih beratap. Hanna menatap ke area luar.
"Ok, aku adalah temannya hujan, dan mari kita pulang," Hanna membungkus tasnya dengan tas plastik agar tidak basah sampai rumah.
Hanna memakai helmnya yang posisinya masih sama, berada di atas jok motornya seperti sedia kala. Hanna sudah bersiap menyalakan mesin motornya. Namun berkali-kali Hanna mencoba, ternyata mesin motornya tidak bisa nyala.
"Haiiishhh, masa iya mogok sih," Hanna kembali mencoba, tapi tetap saja tidak bisa. Hanna kesal, tapi tidak tahu ditujukan kepada siapa. Hanna mengela nafas panjang sambil menahan rasa kesalnya.
"Ampun dah...," Hanna berkacak pinggang. Tak ingin membuang waktu, Hanna mengambil tasnya yang sudah dia simpan di depan, memungutnya dengan kasar. Melepaskan helmnya dan menaruhnya di jok, kemudia dia berlari ke pinggir jalan untuk menunggu ojek online.
Ada halte tak jauh dari kantornya, Hanna berlari kecil menuju kesana untuk menunggu ojeknya. Belum juga sampai sana, gerimis kecil berubah menjadi hujan lebat. Hanna mempercepat langkahnya menghindari air hujan.
Tiba-tiba sebuah payung berada di atasnya dari belakang, Hanna terdiam melihat ke atas. Lalu dia menoleh ke belakang dan ternyata itu adalah Farel. Farel di belakangnya sambil tersenyum, tangannya masih sigap memegang payung itu.
"Pak Farel," Hanna terkejut dan tidak menyangka.
"Hujan-hujan, kenapa nekat menerobos air hujan,?" tanya Farel, mereka masih berdiri di tengah hujan dengan satu payung yang sama.
"Itu pak, saya menunggu ojek, hendak pulang,"
"Bareng lagi,?" tanya Farel. Hanna menggeleng. Dia masih kaget dari mana tiba-tiba Farel muncul, bukankah tadi dia dinas luar kantor? kenapa secepat itu membuntutinya.
"Tidak pak, saya naik ojek saja, sudah terlanjur memesan," Hanna berbohong, dia sama sekali belum mengambil ponsel dari tasnya, ponselnya masih di tasnya yang berbalut tas plastik. Sial, kenapa juga nggak memesan ojek dari area parkir kantor saja. Hanna menepuk dahinya.
"Nggak apa-apa, aku juga sudah mau pulang, kalau berkenan," Farel kembali tersenyum, hujan semakin deras, dan terlihat kilat juga membuat Hanna memejamkan mata.
__ADS_1
Sementara itu di seberang jalan, Rayyan melihat semua yang terjadi, hanya saja tidak bisa mendengar perbincangan dua manusia yang berdiri di tengah hujan dengan satu payung itu. Tatapan Rayyan nampak tajam memperatikan.
"Siapa itu,?" bisiknya, namun jelas saja tidak ada yang menjawab karena yang ada di mobil hanya dia saja. Mestinya dia berada di luar kota selama tiga hari, namun karena bisa dipercepat, dan terutama dia benar-benar merindukan Hanna, maka secepat mungkin Rayyan kembali pulang.
Rayyan masih memperhatikan Hanna dari balik mobilnya. Dan akhirnya dia menjalankan mobilnya, mengambil jalur menuju tempat Hanna kini berdiri.
Tiiin...Tiiiinn.....
Rayyan membunyikan klakson mobil memberikan kode pada Hanna. Hanna yang sadar dengan suara klakson itu pun menoleh, begitu juga Farel. Hanna yang sudah hafal pun tahu jika itu Rayyan. Hanna menyipitkan matanya, meskipun sedang deras, Hanna bisa melihat siapa yang ada di balik kaca mobil yang diturunkan itu. Manusia tampan dengan kacamata hitamnya.
Ih, hujan-hujan pakai kacamata hitam? bisik Hanna dalam hati, dia merasa heran dengan tampilan Rayyan yang terlihat cool itu.
"Yuk pulang," ajak Rayyan.
Farel yang menyadari Hanna tengah dijemput pun mengangguk, Hanna yang merasa serba sungkan pun menyunggingkan senyum pada Farel, sebagai ucapan pamit. Di satu sisi Hanna merasa lega akhirnya dia tidak jadi pulang bersama Farel. Farel pun mengulurkan payung hingga Hanna masuk ke dalam mobil dengan keadaan aman.
"Mari Pak," Hanna mengucapkan salam sebelum kaca mobil kembali naik. Farel mengangguk, tangan kanannya melambai. Rayyan dengan posisi masih mengenakan kaca mata hitamnya pun diam saja.
"Kurang gelap,?" sindir Hanna. Rayyan melirik ke arah Hanna dengan wajah datarnya.
Akhirnya Hanna bisa melihat Rayyan, jujur dia merindukan kehadiran Rayyan. Tapi dia juga heran, kenapa secepat itu, karena katanya 3 hari di sana.
"Jadi...selama aku nggak ada di sini, kamu berduaan sama cowok,?" gumam Rayyan dengan dingin. Mendengar pertanyaan itu membuat Hanna terbahak-bahak. Rayyan semakin heran dengan Hanna. Bisa-bisanya Hanna tertawa. "Siapa dia,?" selidik Rayyan.
"Dia atasanku," jawabnya.
"Hah? atasan,?"
"Iya, kenapa,?" Hanna menahan tawanya. "Haaah....kamu cemburu,?" Hanna menggoda. Rayyan terdiam, jika itu pertanyaannya, maka dalam hatinya dia menjawab iya. Iya, dia merasa cemburu melihat Hanna dengan cowok itu.
"Tenang saja, ini cuma buat kamu," Hanna memegang degup jantungnya sambil tersenyum. Rayyan yang sejak tadi wajahnya datar pun kembali mengulum senyum. "Katanya 3 hari,?" Hanna melontarkan pertanyaan yang sejak tadi dia pendam.
__ADS_1
"Kenapa? kamu nggak suka aku pulang cepat,?" Rayyan melihat Hanna dengan cemberut.
"Bukan....," Hanna menghela nafas panjang, melihat Rayyan yang ngambek seperti anak kecil membuatnya ingin menguyel wajah itu.
"Udah nggak usah dibahas, kamu ganti baju, kita pergi," ujarnya memungkasi perdebatan yang dia mulai sendiri itu.
"Kemana,?"
"Udah lah, pokoknya ikut saja,"
"Kenapa hobby banget sih nyulik orang, ganti baju mendadak dan make up," gerutu Hanna. Kali ini senyum Rayyan mengembang, tangan kirinya mengusap puncak kepala Hanna.
Kepala Rayyan mendekat ke telinga Hanna, "Karena aku kangen kamu," bisiknya. Hanna memundurkan tubuhnya lalu mengucek telinganya yang terasa geli karena terlalu dekat dengan bibir Ryayyan, Rayyan meringis tersenyum.
"Udah pokok ikut saja, aman kok,"
Hanna melihat Rayyan tanpa protes.
"Kenapa hujan-hujan nekat nerobos hujan? kamu pengen sakit,?" Rayyan bertanya dengan nada bicara yang normal, tidak bersungut-sungut seperti tadi.
"Niatnya naik motor, e tapi mogok," Hanna kembali teringat motornya yang dia tinggal di parkiran.
"Ya udah, ganti aja,"
"Eh jangan, itu motor sejarah, nggak bisa gitu,"
"Nggak gitu juga Han, simpan saja di rumah, nanti aku kirim baru,"
"Enggaaaak, aku nggak mau banyak berhutang sama kamu," Hanna menolak, tidak mau membiarkan Rayyan selalu memanjakannya.
Rayyan melihat Hanna tanpa bertanya lagi, mobil menuju sebuah butik langganan di mana biasanya Hanna dibawa untuk di make over. Sudah bukan hal baru lagi, Rayyan memang suka yang mendadak seperti ini. Dan Hanna pun hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dilakukan Rayyan.
__ADS_1