Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Rindu Keluarga


__ADS_3

"Assalamualaikum ayaaaaahhhh" teriak Hanna dari halaman rumahnya, dia baru saja mematikan mesin motornya. Melepas helemnya dan meletakkannya di atas jok motornya.


"Waalaikumsalam...eh anak yang yang paling demplon datang, sudah sarapan?" tanya Pak Handi sumringah melihat putrinya datang. Dia mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Hanna, Hanna mencium punggung tangan  Pak Handi.


"Sudah, ayah sudah sarapan juga?" Hanna balik bertanya.


"Sudah" Pak Handi


"Nayo mana yah?" Hanna melemparkan tas ranselnya di sofa usang ruang tamunya.


"Ada di dalam" Pak Handi kembali melanjutkan mencuci baju para pelanggan.


Hanna masuk ke dapur, dilihatnya Nayo sedang sarapan di kursi dekat jendela dapur. Hanna mengacak rambut Nayo dengan asal. Nayo melihat ke samping da menatap kakaknya tajam.


"Apaan si kak?" Nayo nampak sedang tak ingin diganggu saat makan.


"Kangeeeennn" sahut Hanna dengan riang. Hanna menarik kursi dan mendekatnya di dekat adiknya duduk. Hanna mencomot tempe goreng yang masih ada di piring Nayo.


"Kebiasaan" protes Nayo. "Tuh ambil di atas meja" Nayo menunjuk sepiring tempe goreng yang ada di atas meja, tapi Hanna tak peduli.


"Kak" sahut Nayo sesaat setelah dia meletakkan piring di sampingnya.


"Hem?" sahut Hanna, dia terlihat sibuk menikmati tempe gorengnya. "Apa?" tanya Hanna.


"Apa kakak sudah hamil?" tanya Nayo tiba-tiba, tempe goreng yang ada di tenggorokan rasanya ingin kembali keluar karena Hanna terbatuk, dilihat dari mana kok tiba-tiba Nayo bertanya demikian.


"Kamu ngomong apa?" Hanna menjitak kepala adiknya.


"Yaaah...kan nanya kak, kakak menikah, jadi nggak salah kan?" Nayo melihat kakaknya dengan tatapan aneh. "Kakak menikah tapi aneh"


"Aneh kenapa?" Hanna melihat adiknya dengan tatapan serius.


"Aneh..karena kakak tiba-tiba menikah dengan idola kakak, lalu menikah harus diam-diam, aku curiga" Nayo melihat Hanna dengan tajam.


Hanna membuang pandangan, dia menghela nafas panjang. Kenapa juga Nayo harus membahas ini.

__ADS_1


"Sudah, jangan kau pikirkan urusan rumah tanggaku, belajar yang bener biar bisa masuk fakultas kedokteran seperti impianmu, aku mau bantu ayah dulu" Hanna beranjak dari kursinya dan meninggalkan Nayo begitu saja. Niat melepas rindu dengan Nayo kandas, adiknya terlalu kritis.


        ***


Hanna membantu ayahnya menyetrika baju pelanggan, hatinya berkecamuk, memikirkan apa yang dipertanyakan oleh Nayo tadi. Tapi Nayo tak boleh mengerti dengan apa yang dia lakukan. Cukup dia dan ayahnya saja yang tahu rahasia ini.


"Han..Hanna....ada pelanggan di depan, layani dulu ya..." Pak Handi sedikit berteriak, mendengar teriakan ayahnya, Hanna segera ke depan dan melihat seorang Ibu-Ibu membawa sekantong pakaian yang akan dilaundry.


"Bisa saya bantu Bu...?" Hanna menyambut kedatangan Ibu tersebut dengan ramah, Ibu itu hanya terdiam dengan raut wajah dingin.


"Cuci setrika" ucapnya kemudian.


"Baik bu..." balas Hanna ramah.


"Kilat, nanti sore aku ambil"


"Iya Bu" jawab Hanna lag.


"Bayar nanti aja, aku buru-buru"


"Siap Bu" jawaban Hanna masih sama, ramah. Sejurus kemudian Ibu itu meninggalkannya. Hanna geleng-geleng kepala, berbagai macam pelanggan sudah pernah dia hadapi, dari yang pendiam baik hati sampai yang cerewet tukang protes. Hanna terima dengan senang hati, karena pelanggan adalah raja.


"Aku bantu ya yah? ini maunya kilat" Hanna masih memegang bungkusan yang ada dalam kantong kresek merah itu.


"Nggak usah, sini biar ayah yang kerjakan, kamu tolong selesaikan setrikaan tadi aja, setelahnya sudah, berangkatlah ke kampus, jangan sampai anak ayah terlambat" Pak Handi meminta bungkusan itu dan meletakkan di barisan pakaian yang akan dia cuci."Maafkan ayah ya...kamu kesini malah sibuk bantuin ayah" Pak Handi tersenyum menatap Hanna.


"Tak masalah ayah....Hanna juga minta maaf jarang kesini, agak sibuk akhir-akhir ini" Hanna merasa bersalah, kesibukan di kampus dan juga di rumah Rayyan membuatnya jarang bertandang.


"Tak usahlah kau pikirkan itu Han, yang penting urusan kamu beres, ayah sudah sangat senang" Pak Handi kembali berkutat dengan cuciannya. Hanna melihat ayahnya begitu bekerja keras, ada rasa iba melihat ayahnya yang seharusnya menikmati masa tuanya itu harus bekerja keras.


"Apa ayah merekrut pegawai saja yah?" tanya Hanna, tak tega rasanya dia melihat ayahnya kelelahan.


"Ah..kamu ini, kamu meragukan kemampuan ayahmu ini ya?" Pak Handi tertawa riang sambil memperlihatkan kedua otot lengannya yang nampak tidak kekar itu. "Ini masih lebih dari kuat, dan ayah belum butuh pegawai, percayalah"


Hanna menghela nafas panjang, ayahnya begitu keras kepala.

__ADS_1


"Sudah..sana lanjutkan setrikanya"


"Iya yah"


Hanna menurut, dia kembali melanjutkan aktivitas menyetrika di depan. Setelah selesai, Hanna merapikan pakaian tersebut dan menatanya dalam kantong kresek, siap diambil pemiliknya.


"Bagimana di rumah Rayyan? apakah kamu senang?" tanya Pak Handi, dia duduk di dekat Hanna setelah menyelesaikan cuciannya di belakang.


"Yaa....begitulah yah, harus dijalani" Hanna berbisik, tak ingin jika Nayo mendengar apa yang mereka bicarakan. Pak Handi menutup mulutnya, lupa jika Nayo ada di rumah.


"Sabarlah anak ayah, ayah berdoa semoga kelak kamu akan bahagia dengan hidupmu"


"Iya yah, Amiiiin"


Sebenarnya Hanna ingin berbicara panjang lebar dengan ayahnya, namun karena khawatir Nayo akan mendengarnya, maka hal tersebut urung dia lakukan.


"Kapan-kapan kalau ada waktu senggang, aku pasti kesini"


"Iya, sekarang makanlah sebelum ke kampus" pinta Pak Handi.


"Nggak yah, nanti aku makan di rumah aja setelah kuliah, hari ini kuliah juga cuma satu mata kuliah saja kok" Hanna menolak, karena dia tahu ayahnya hari ini hanya memasak sedikit, dia tak ingin membuat ayahnya repot dan masak lagi untuk nanti malam, jadi dia memutuskan untuk makan di rumah saja.


        Hanna melambaikan tangan dan menyalakan motornya, meninggalkan rumahnya untuk menuju kampus. Sepanjang perjalanan dia berdoa agar orang tuanya, yaitu ayahnya senantiasa diberikan kesehatan dan selalu bahagia, dia juga berharap selepas ini dia bisa kembali membantu orang tuanya bekerja dan mengurus semuanya, karena Hanna merasa iba melihat ayahnya yang bekerja terlalu keras.


Sepanjang jalan menuju kampus, Hanna juga terusik dengan pertanyaan yang diutarakan oleh adiknya. Mengenai pernikahannya dengan Rayyan. Jangan sampai Nayo tahu jika ini menyangkut biaya kuliahnya nanti.


Hanna tiba di parkiran kampus, dia berjalan keluar dari parkiran dengan langkah santai. Ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang, Hanna menoleh.


"Ngelamun aja" sapa Bian.


"Mas Bian?" Hanna kaget.


"Tuh kan ngelamun, makanya sampai kaget, dipanggil-panggil dari tadi juga nggak dengar. Bian berjalan di samping Hanna.


"Oh ya? maaf, nggak denger, telinganya lagi rehat" Hanna terkekeh. Dia heran, Bian masih bersikap biasa saja padanya meskipun kemarin dia menolak permintaan Bian menjadi pacar pura-puranya. Hanna pikir Bian akan sakit hati padanya.

__ADS_1


Mereka ngobrol hingga di persimpangan, karena kelas gedung perkuliahan mereka yang berbeda. Bian melambaikan tangan, dibalas oleh Hanna dengan lambaian dan senyum sumringah.


"Ngajak pacaran tapi pura-pura...coba beneran, pasti nggak nolak" Hanna tersenyum jahil.


__ADS_2