Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Arti Sahabat


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, Hanna memutuskan untuk tetap membuka jasa laundry nya meskipun dengan keterbatasan waktu yang dia miliki. Yang patut dia syukuri, sebentar lagi dia akan wisuda. Setidaknya nanti dia akan punya banyak waktu untuk mengurusi laundry nya.


Hanna mengemasi barang-barang yang dia butuhkan, termasuk skripsinya. Skripsi yang hari ini akan dia jilid dan dia serahkan ke kampus sebagai tanda bahwa salah satu kewajibannya telah usai. Hanna tersenyum lega, andai ayahnya masih hidup, pasti akan senang sekali melihat Hanna berada di titik ini.


Hanna mengunci pintu rumahnya dan segera berangkat ke kampus dengan naik motornya. Sesampainya di sana, dia sudah ditunggu Panji yang juga akan melakukan hal yang sama.


"Akhirnya kita akan wisuda bareng," seru Panji, disambut tawa Hanna. Wajah-wajah lega terpancar dari mereka.


"Hoeee mau kemana kalian,?" teriak Kia dari kejauhan, Panji dan Hanna menoleh hampir bersamaan. Hanna menghentikan langkahnya, sebenarnya mereka berdua mau ke perpustakaan terlebih dahulu menyerahkan salah satu skripsi mereka.


"Ke perpus," jawab Hanna. Kia yang setengah berlari mengejar Hanna dan Panji terlihat ngos-ngosan dan sedang mengatur nafasnya.


"Duh senengnya yang udah beres skripsi," Kia nampak cemberut, tapi itu adalah ekspresi bercandanya.


"Kamu segera ya...," sahut Panji, Hanna pun mengangguk mengamini. Kia adalah teman seangkatan, tapi sayangnya dia molor dan tidak bisa wisuda bareng tahun ini.


"Doain, doain lancar deh," Kia nampak putus asa, beberapa hari yang lalu dia bercerita pada Hanna jika dosen yang membimbingnya sedang berada di luar negeri sehingga pengerjaan skripsi Kia terlambat. "Lagian aku juga sih nggak gercep kemarin, nah kalau sudah ditinggal gini kan nyesel, nggak bisa wisuda bareng kalian,"


"Nggak apa-apa, tetap semangaaaaat," Hanna mengepalkan tangannya di udara memberikan semangat pada bestie nya itu. Kia mengangguk.


"Aku ikut ke perpus, nggak ganggu kan,?" Kia mengerling, ke arah Hanna lalu berganti ke Panji.


"Apaan sih,?" Hanna menoyor lengan Kia.


"Eh tapi kalian cocok juga lho," bisik Kia di telinga Hanna, yang langsung disambut dengan cubitan tangan Hanna ke pinggang Kia.


"Aww sakit," teriak Kia.


"Sukurin," Hanna tertawa.

__ADS_1


"Apaan sih heboh kalian," Panji yang tidak tahu menahu dari tadi tak tahan untuk ikut berkomentar.


"Haha...ada deh," Kia tertawa.


Mereka bertiga tiba di perpustakaan kampus, tak butuh waktu lama, Hanna dan Panji sudah selesai dengan urusannya.


"Eh sorry....ada telp dari nyokap, aku dirusuh balik nih ada urusan penting," Kia baru saja mematikan panggilan telepon yang ternyata dari Mamanya.


"Yakin nggak mau nongkrong bareng,?" Hanna mengangkat kedua alisnya, mereka sedang berjalan menuju kantin kampus.


"Yakin Han, lain kali deh, balik dulu ya...kalian selamat berkencan," candanya. Hanna kembali mencubit Kia, kali ini lengan tangannya yang jadi sasaran.


"Duh duh...," Kia pura-pura kesakitan. "Daaah....balik dulu," Kia kembali berlari kecil sambil melambaikan tangan ke arah Hanna dan Panji. Kini mereka tinggal berdua lagi.


"Aku mau sarapan," ujar Hanna, semenjak ayahnya tiada, dia menjadi jarang masak di rumah, bahkan sering melewatkan waktu makan, kini tak ada yang menarik baginya.


"Ya udah aku temenin," Panji berjalan sejajar di samping Hanna. Kantin fakultas tak jauh dari perpus, Hanna duduk di sebuah tempat yang ada di pojok, karena kantin sedang ramai, dan hanya tempat itu yang masih kosong.


"Bubur ayam deh," Hanna sebenarnya juga nggak lapar-lapar amat, tapi daripada setelah pulang dia semakin tidak ingin keluar dan tidak ingin masak, maka sebelum lapar beneran melandanya, kini dia mengisi perutnya.


"Siap," Panji mengacungkan jempolnya.


Hanna mengamati sekitarnya, sebentar lagi dia tak akan menghabiskan waktu di tempat ini. Pasti dia akan merindukan masa-masa seperti ini nantinya. Waktu terasa sangat cepat berlalu, rasanya baru kemarin dia masuk kampus ini dengan status maba (mahasiswa baru) dengan segala kerempongan saat ospek. Salah satu hal yang dia ingat adalah saat pertama kali melihat Bian, si kakak tingkat yang pernah menjadi pacar singkatnya.


Hanna tersenyum kecil, kini tinggal hitungan hari dia akan menjadi alumni. Hanna masih ragu, apakah dia akan mencoba beasiswa atau bekerja untuk menyambung hidup.


"Silahkan...," suara Panji membuyarkan lamunannya, dua mangkok bubur ayam yang masih mengepulkan asap dan mengeluarkan aroma lezat itu terpampang di depannya.


"Sebentar aku ambil teh hangatnya dulu," Panji bergerak cepat, tidak ingin Hanna yang repot melakukannya. Tak butuh waktu lama, teh hangat pun sudah ada di depan Hanna.

__ADS_1


"Terima kasih Panji manusia superheroku yang selalu baik hati," Hanna memuji sambil bertepuk tangan riang, melihat tingkah Hanna, Panji pun tersenyum.


"Dah makan sana, hari ini aku yang traktir," ujar Panji.


"Serius,?" Hanna senang, karena dia sadar bahwa keuangannya sedang tidak baik-baik saja.


"Iya lah, anggap saja syukuran kelulusanku," Panji menyendokkan bubur ke mulutnya. Mendengar hal itu Hanna mendadak bersedih, air mukanya berubah. Menyadari hal itu Panji melihat ke arah Hanna.


"Kenapa,? nggak enak makanannya,?"


"Bukan...terus aku kapan syukuran bisa nraktir kamu?," ujarnya, tangannya memainkan sendok.


"Idih...nggak usah, nanti aku buatin syukurannya," Panji tergelak.


"Lah ngapain, orang kalau aku syukuran juga kamu yang aku traktir, gimana konsepnya,?"


"Ya sudah habisin sarapan telatnya ini, keburu dingin, nggak enak nanti," Panji tak mau Hanna memikirkan masalah yang nggak penting-penting amat ini. Akhirnya mereka berada di titik ini, lulus bareng. Mereka masuk ke kampus ini bareng, dan akhirnya bisa wisuda bareng nanti.


"Oh ya...nanti kalau pas wisuda, kamu bareng sama aku, nanti sekalian bareng orang tua aku," Panji yang sudah merencanakan jauh-jauh hari agar Hanna tidak sedih saat wisuda nantinya, karena Hanna akan sendirian tak ada yang mendampingi.


Hanna yang baru saja menyeruput teh hangatnya melihat ke arah Panji, seolah diingatkan jika dia sendirian di sini.


"Nggak usah sedih Han, ada superhero," Panji menaik turunkan alisnya, menghibur Hanna. Hanna tersenyum kecil.


Tak ada yang lebih berarti dibandingkan dengan keberadaan teman-teman terbaik, salah satunya adalah Panji.  Beruntungnya dia yang dipertemukan dengan Panji yang hampir selalu menjadi "penyelamat" dia di saat dia kepepet. Tugas-tugas yang belum terselesaikan pun biasanya digarap cepat oleh Panji. Hanna tak bisa berfikir jika saja tak ada Panji.


"Terima kasih Panjiii.....," teriak Hanna, membuat beberapa mahasiswa yang makan di kantin menoleh ke arahnya. Hanna bergegas menutup mulutnya dengan kedua tangannya lalu terkikik karena dia sadar menjadi bahan pandangan mahasiswa lainnya.


"Dasar...," Panji tertawa. "Ya...sama-sama...berjanjilah kamu akan selalu bahagia,"

__ADS_1


Hanna mengangguk, "Jangan ragukan Hanna," Hanna menepuk dadanya berlagak sombong. Kemudian mereka tergelak bersama.


__ADS_2