
Rayyan membanting tubuhnya di ranjang apartemennya, dia sudah pindah kesana mulai hari ini. Kamila yang sedang membawa jadwal Rayyan di bukunya segera memencet bel setelah dia sampai di depan pitu apartemen Rayyan. Rayyan yang masih ogah-ogahan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Siapa lagi?" gerutunya, padahal juga tidak ada siapa-siapa sejak tadi, dan hanya orang tertentu saja yang mengetahui dia tinggal di sini. Rayyan mengintip dari kamera yang berada di dekat pintu. Mengetahui jika yang datang adalah Kamila, Rayyan lantas segera membukakan pintu.
"Sudah makan? mau aku pesankan makan?" Kamila nyerocos, dia tahu jika Rayyan sekarang sudah tidak ada lagi yang "merawat" seperti dulu, Kamila tersenyum seolah mengejek. Terlebih saat melihat wajah Rayyan nampak suntuk.
"Kenapa lagi?" Kamila kembali bertanya, dia duduk di sofa warna krem itu. Rayyan iku duduk di sana, rambutnya nampak tidak rapi.
"Kamu sudah membatalkannya kan?" Rayyan tak menjawab dan malah melontarkan pertanyaan sendiri. Kamila mengerti arah pertanyaan itu, tentu saja yang dibatalkan adalah perihal perceraiannya. Kamila membenahi posisi duduknya, dia penasaran kenapa tiba-tiba Rayyan ingin membatalkannya.
"Kamu pasti bertanya kenapa? kenapa?" Rayyan menebak, Kamila mengangguk mantap.
"Kamu suka sama dia?" Kamila menebak. Rayyan meliriknya sinis, Kamila tertawa. "Jangan begitu, ini perjanjian lho ya...selesai ya selesai, biarkan dia melanjutkan hidupnya, begitu juga kamu" ungkapnya. Rayyan diam, lalu dia menguyek rambutnya sendiri dengan kedua tangannya.
"Panjang ceritanya Mil...."
"Sejak kapan aku tak mendengarkan kamu bercerita?" Kamila menatap Rayyan dengan mimik serius.
"Pokoknya pending dulu perceraiannya, aku nggak mau dia kenapa-napa, mungkin dengan cara ini aku melindungi dia" Rayyan berdiri meninggalkan Kamila, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tahu jika Rayyan belum makan, Kamila segera memesan makanan lewat ponselnya. Kali ini dia tidak tahu arah rencana Rayyan berkaitan dengan Hanna.
***
Hanna dan Kia sudah berada di sebuah cafe, mereka memilih tempat yang tidak jauh dari jendela.
"Sudah berapa lama kita nggak nongkrong begini ya Han?" Kia menarik kursi lalu duduk di sana, begitu juga dengan Hanna. Mereka duduk berhadapan.
"Lama banget"
"Kenapa nggak ngajak Panji?" Kia membuka buku menu yang disodorkan oleh pelayan cafe.
"Panji lagi ada urusan keluarga, udah kita khusus cewek aja hari ini" Hanna tersenyum.
__ADS_1
"Iya deh, lagian aku pengen tahu sesuatu" Kia mengulum senyum memberikan kode pada Hanna.
Mereka sudah memesan makanan dan minuman, lalu pelayan cafe meninggalkan mereka untuk membawa pesanan mereka.
"Apaan?" Hanna bertanya.
"Mas Bian"
"Eh" Hanna seperti sedang diingatkan jika dia punya hutang jawaban pada laki-laki itu.
"Kalian jadian belum sih?"
Hanna menarik nafas panjang, melihat sekelilingnya, jari jemarinya mengetuk meja lalu kembali menatap Kia sambil tersenyum.
"Entahlah" jawabnya.
"Sepertinya mimpimu sempurna Han, kelihatannya Mas Bian juga punya perasaan yang sama sama kamu, so nunggu apa lagi?" Kia ikut sumringah. Tapi Hanna seolah mengulur waktu untuk memberikan jawaban, tidaklah salah apa yang diucapkan oleh Kia, tapi Hanna tidak bisa menerima Bian begitu saja karena sampai sekarang surat cerainya dengan Rayyan belum dia terima.
"Doakan saja yang terbaik" Hanna mengulum senyum.
"Termasuk kamu?" Hanna tertawa.
"Oh...enggak....nanti aku saingan sama kamu donk...."
Mereka menikmati pertemuannya hingga maghrib hampir tiba, mereka berpisah di halaman parkir menuju rumah masing-masing.
***
"Ada kiriman" Pak Handi menunjuk sebuah buket bunga mawar besar di atas meja ruang tamu. Hanna memicingkan matanya melihat buket tersebut. Seumur-umur baru kali ini dia mendapatkan hadiah buket bunga dari seseorang.
"Dari siapa yah?" Hanna masih belum mendekat.
__ADS_1
"Tidak tahu, ayah tidak mengeceknya"
Hanna mendekat ke arah meja, dan mengambil buket tersebut. Bunga warna merah segar di depan pandangannya, Hanna melihat sebuah kertas yang menggantung.
Semoga harimu menyenangkan....
Hanya tulisan itu yang tertulis di sana, tidak ada nama pengirim, bahkan inisial sekalipun.
"Apa ini tidak salah kirim yah?" tanya Hanna pada Pak Handi memastikan.
"Tadi kurirnya mengatakan benar namamu, mungkin diam-diam kamu punya penggemar berat" Pak Handi terkekeh. Hanna mengelus bunga tersebut, lalu membawanya masuk ke dalam kamar. Pak Handi tersenyum manis melihat Hanna masuk dengan membawa bunga tersebut.
Meskipun kembali ke kehidupannya yang seperti dulu, nyatanya Hanna masih merasa ada yang janggal dengan hidupnya. Dia meletakkan ranselnya di meja dekat dengan ranjangnya, kini dinding kamarnya sudah bersih dari poster Rayyan.
Hanna duduk di ranjangnya dengan masih memegang bunga tersebut, bunga yang entah dari siapa.
"Sampai kapan kamu akan begini?" gumamnya. Dia ingin segera menerima surat cerai dari Rayyan, dia tidak ingin ada ikatan apapun dengan laki-laki itu. Laki-laki yang dia idolakan itu, ternyata tak seindah dengan apa yang dia bayangkan. Rayyan yang nampak sangat sempurna itu rapuh dengan kehidupannya.
Hanna menarik nafas panjang, mengingat kejadian di mana saat dia masih tinggal satu atap dengan Rayyan. Rayyan yang kelihatan glamour dengan kehidupan keartisannya tak nyana berbeda dengan kesehariannya. Dia kesepian. Hanna menelan ludahnya saat dia tahu jika Rayyan menyukai masakannya karena Rayyan selalu bisa bernostalgia dengan Ibu kandungnya.
"Lalu, apakah kamu baik-baik saja sekarang?" Hanna bertanya seolah ada Rayyan di depannya.
Hanna menggelengkan kepalanya dan menatap bunga tersebut, Hanna meyakini jika bunga tersebut dari Bian, tapi dia urung menanyakannya pada laki-laki yang ada di hatinya tersebut.
Hanna sadar jika yang nyata di hidupnya adalah Bian, bukan Rayyan. Itulah salah satu alasan dia membuang semua poster di kamarnya. Rayyan adalah mega bintang, sedangkan dirinya hanya butiran debu di bumi, setidaknya itu yang dia rasakan.
Rayyan semakin merasa tersiksa, beberapa kali dia mengetik pesan yang ditujukan untuk Hanna. Hanya saja dia kembali menghapusnya dan tak jadi mengirimnya. Bisa-bisanya gadis itu mengobrak-abrik hatinya, ingatannya masih saja ke Hanna. Di mana Hanna tertawa nyaring, tak goyah walau dia mengusilinya, dan herannya lagi, Hanna yang ternyata fans garis kerasnya mampu menahan perasaan saat serumah dengan dia, dan malah menjadi sangat cuek padanya.
Rayyan tengah duduk di dekat jendela, dia melihat lampu yang terlihat seperti berlian yang berkilauan dari kamarnya berada. Dia membuka ponselnya dan melihat fotonya dengan Hanna saat mereka camping di samping rumahnya tempo hari. Sesederhana itu dia bisa merasakan bahagia. Tidak melulu tentang kemewahan.
"Aku akan melindungimu sebelum aku melepasmu" gumamnya pelan sambil masih melihat foto tersebut.
__ADS_1
Terdengar bel berbunyi, membuyarkan lamunannya. Rayyan menengok ke arah pintu, dia meletakkan ponselnya dan berjalan ke arah pintu.
Rayyan tertegun dengan seseorang yang ada di depan pintu apartemennya, dia menatapnya. Apakah dia sedang bermimpi kali ini?