Suamiku Seleb Hits

Suamiku Seleb Hits
Kemarahan Nayo


__ADS_3

Kembali ke aktivitas semula, Hanna membantu ayahnya untuk mencuci, menyetrika, kemudian mengepak semua baju-baju ke dalam plastik. Meskipun sudah hampir 6 bulan tak melakukannya, Hanna sama sekali tak kagok. Tangannya masih sangat terampil dan cekatan.


Hanna melihat ke arah jam dinding, jam menunjukkan pukul 6 sore. Hanna menyudahi pekerjaannya meskipun belum selesai, begitu juga dengan Pak Handi, ayahnya. Mereka memutuskan untuk melanjutkan nanti seusai isya dan juga makan malam.


"Hanna ke kamar dulu yag, sehabis maghrib nanti Hanna siapin makan malam" Hanna berpamitan.


"Iya"


Tak berapa lama Hanna masuk ke kamar, Pak Handi melihat Nayo masuk rumah. Dia baru datang dari kampus. Nayo menjabat tangan Pak Handi seperti biasanya.


"Mandilah, setelah maghrib kita makan bersama"


"Iya yah" jawab Nayo tak panjang lebar, dia bergegas masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan tas yang berisi banyak buku di atas meja. Sejak tadi pagi sebenarnya dia ingin berbicara dengan Hanna, tapi masih dia urungkan. Dia merasa ada yang aneh dengan apa yang dilakukan oleh Hanna. Selepas mandi, Nayo bergegas menunaikan kewajiban sebelum dia bergabung dengan Pak Handi dan Hanna di meja makan.


"Nah ini dia sudah datang" Pak Handi tersenyum melihat Nayo bergabung untuk makan malam. "Sudah lama sekali rasanya kita tidak makan bersama seperti ini" Pak Handi melihat wajah Hanna, kemudian beralih ke wajah Nayo yang datar. Hanna membalas senyum ayahnya.


"Gimana kuliah kamu?" tanya Hanna pada Nayo, tangannya sambil mengambilkan sayur untuk Nayo yang sudah lebih dulu mengambil nasi ke atas piringnya.


"Baik" jawabnya singkat. Hanna hafal betul dengan adiknya, dia tahu bahwa setelah ini dia akan diberondong dengan pertanyaan dari adiknya itu.


"Sudahlah, makanlah dulu. Ayah sudah lapar, yuk" ajak Pak Handi menengahi, dia juga sudah sangat hafal dengan perangai kedua anaknya tersebut.

__ADS_1


        Tak ada percakapan di meja makan, mereka sibuk menikmati makanannya masing-masing. Selepas makan, Hanna membereskan piring dan sisa makanan yang ada di atas meja dan memindahkannya ke dapur. Agar tak terlalu menumpuk, Hanna lekas mencuci piring kotor tersebut. Dan kini dapur dan meja makan sudah rapi.


Nayo menunggu kakaknya di ruang makan, Hanna menarik kursinya dan duduk di sana. Sementara Pak Handi kembali mengerjakan pekerjaan yang masih belum beres.


"Apa yang ingin kamu dengar?" tanya Hanna pada adiknya.


"Apa yang sebenarnya terjadi kak? kakak ada masalah dengan Rayyan?" Nayo menatap Hanna tajam, dia sama sekali tidak tahu cerita yang sebenarnya.


Hanna menghela nafas panjang, "Kakak terpaksa melakukannya..."


"Kenapa kakak melakukan ini hanya demi aku? kakak menjual harga diri kakak" Nayo berkata dengan dingin.


"Bukan...bukan...kamu nggak tahu akar masalahnya, jadi kakak mohon...kamu jangan menghakimi kakak"


"Bukan karena kamu juga, anggap saja ini takdir, dan lagian kakak nggak kenapa-napa kok, kakak baik-baik saja, see..." Hanna merentangkan kedua tangannya.


"Kakak terlalu memaksakan agar aku bisa kuliah di jurusan yang aku inginkan"


"Hei....hei...no, kakak bilang, ini takdir" Hanna meraih tangan Nayo, Nayo membiarkan Hanna memegang tangannya meskipun dia sangat kecewa dengan Hanna. Mengapa kakaknya melakukan ini semua? hanya karena ingin dia bisa kuliah.


"Kakak menyakiti diri kakak sendiri, dan kakak juga melukaiku" ujar Nayo dalam. Hanna terdiam, dia melihat sorot mata adiknya itu. Baru kali ini dia melihat Nayo semarah ini padanya. "Aku nggak mau kuliah lagi" ancam Nayo.

__ADS_1


"Hei....hei....Nayo" Hanna menahan tangan Nayo yang hampir saja pergi meninggalkannya.


"Buat apa aku kuliah jika ternyata ini menyakitkan untuk semua orang"


"Hei dengar..." suara Hanna agak meninggi, dia tidak mau jika kuliah Nayo akan pupus, karena semua uang kuliah Nayo akan cukup hingga lululus. Dan apa yang dia lakukan tak akan sia-sia. "Dengar ya...apa yang kakak lakukan padamu bukanlah hal yang merugikan orang lain, semua ini kakak lakukan karena kesepakatan, apakah kakak mengemis? jawabannya TIDAK! apa kakak menjual diri? TIDAK juga" Hanna menahan rasa sakit di tenggorokannya, dia tidak mau semua ini sia-sia. "Dengar...dengar kakak, kita ini sudah berjuang, kalu lihat ayah bagaimana dia berjuang kan, dan kemudia Tuhan memberikan jalan yang tanpa kakak duga, dan ini sama sekali tak merugikan kakak, sama sekali" Hanna menegaskan.


"Apa kakak tidak malu dengan predikat janda?" tanya Nayo hingga sejauh itu, dia sangat memikirkan masa depan kakaknya.


"Hei...kakak baik-baik saja, kakak adalah kakak terkuat hingga kini, percayalah" Hanna tersenyum kecil menatap Nayo, lalu dia memeluk adiknya itu. Tak terasa air matanya meleleh, Hanna mengusap punggung Nayo dengan lembut. "Berjanjilah pada kakak, kamu akan bisa menjadi dokter yang hebat kelak, ini cita-cita kamu" imbuh Hanna masih sambil memeluk Nayo, suaranya mulai berubah, kini terdengar dia sedang menangis. Nayo pun membalas pelukan kakaknya, hatinya terasa sakit. Perjuangan Hanna sungguh luar biasa untuknya, mata Nayo berkaca-kaca.


Tanpa disadari oleh keduanya, Pak Handi melihat kedua anaknya itu, air matanya tak terbendung. Inilah jalan yang diambil oleh anaknya, rasa bersalah kembali menyeruak di dadanya, andai saja dia kaya, maka Hanna tak akan melakukan ini. Pak Handi mengusap air matanya, lalu kembali keluar untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Hanna dan Nayo sudah kembali ke kamar masing-masing, Hanna memutuskan untuk menyendiri di kamar dan tak membatu ayahnya bekerja, hatinya terasa tak karuan. Begitu juga Nayo, merasa ada beban yang dia tanggung. Tapi detik ini juga dia bertekad akan mewujudkan mimpinya menjadi dokter, untuk ayah dan kakaknya.


Hanna mengusap air matanya yang masih meleleh, dia duduk di atas ranjang usangnya. Dia memperhatikan sekeliling, poster dengan gambar Rayyan masih menempel rapi di dindingnya. Laki-laki yang dia idolakan sejak lama, yang sama sekali tak ia duga jika dia akan menikah dengannya, dan tak ia duga bahwa laki-laki itulah yang membuatnya akan segera menyandang status janda.


Hanna mengusap sisa-sisa air matanya, dia turun dari ranjang dan perlahan mengambil satu per satu poster yang menempel. Dia rapikan semua poster tersebut. Dan dia letakkan di tempat sampah yang ada di luar kamarnya. Hanna menghela nafas panjang, tapi ini harus dia lakukan. Sudah cukup dia mengidolakan Rayyan dengan segala halunya. Dia harus menatap masa depan.


Tak ada sisa satupun poster di sana, Hanna benar-benar ingin melupakan Rayyan. Bersamaan dengan lamunannya, ponsel Hanna bergetar, ada pesan masuk, belum sempat Hanna membukanya, ada panggilan masuk.


"Iya mas?" Hanna mendapat panggilan dari Bian.

__ADS_1


Setelah panggilan selesai, dia memeriksa pesan masuk, pesan itu dari Rayyan yang meminta waktu untuk bertemu. Hanna tidak membalasnya karena dia sudah terlanjur mengiyakan untuk bertemu dengan Bian malam ini.


Untuk menghilangkan suntuk di hatinya, Hanna memutuskan untuk bertemu dengan Bian, dan mungkin saja dia akan memberikan jawabannya untuk Bian malam ini juga.


__ADS_2