
Rayyan tersenyum-senyum sendiri melihat ponselnya, melihat pose Hanna sebelum ber make up hingga proses dan hingga Hanna selesai memakai make up. Pose Hanna yang kebingungan dengan kedatangan para MUA ke rumahnya di pagi buta. Rayyan tertawa hingga bahunya terguncang, betapa dia merindukan tingkah polos Hanna. Rasanya ingin segera dia menemui Hanna, hanya saja dia menahannya. Rayyan hanya meminta foto-foto dari para MUA tersebut, agar mengabadikan setiap pose Hanna dan mengirimkan untuknya.
Begitu juga dengan sopir kantor yang sengaja dia siapkan untuk menjumput Hanna dari rumah hingga lokasi wisuda yang berada di kawasan kampus. Semua sudah dia rencanakan, dan berharap Hanna menikmatinya. Lagi-lagi, Rayyan meminta sopir tersebut untuk melaporkan setiap apa yang dilakukan Hanna dan juga dokumentasi.
Rayyan mematut dirinya di depan cermin, pakaian semi formal dengan kemeja putih dan celana panjang hitam dan sepatu pantofel. Bersiap untuk berangkat kerja hari ini. Dengan melihat Hanna yang ceria, Rayyan menjadi lebih bersemangat menjalani hari ini.
Hanna memasuki gedung dengan hati gembira, sudah banyak calon wisudawan yang berada di kursinya masing-masing. Hanna duduk di deretan yang sudah ditentukan, karena dia bukanlah mahasiswa yang berprestasi tertinggi. Jadi dia berada di barisan tengah, sama dengan kebanyakan mahasiswa lainnya. Yang berada di deretan depan adalah mereka yang memiliki prestasi cemerlang.
Tak mengurangi rasa bahagia Hanna, dia duduk di samping Meta.
"Huh, gilak Han...make up kamu bagus banget," puji Meta, tangannya dengan cepat mengambil cermin kecil yang ada di dalam tasnya. Bukan Meta namanya jika semenit tanpa berkaca. "Make up di mana? nggak ajak-ajak," gerutunya, dia menutup cerminnya dan melihat ke arah Hanna. Hanna hanya tersenyum meringis, jika dia menceritakan apa adanya, maka Meta akan heboh banget.
"Para wisudawan segera memasuki area wisuda dan segera menempati kursinya masing-masing," ujar seseorang di depan sana. Hanna tak menjawab pertanyaan Meta, karena konsentrasi mulai pecah dengan para calon wisudawan yang mencari kursinya.
"Huh, udah cantik belum aku,?" Meta menunjukkan riasannya pada Hanna. Hanna mengangkat kedua jempolnya. "Foto yuk," Meta menyalakan mode foto di ponselnya, beberapa kali mengambil foto bareng Hanna.
"Langsung pasang IG ah," ujarnya sambil membuka media sosialnya, Hanna menggelengkan kepalanya. Para wisudawan sudah memasuki gedung, hampir semua sudah terisi. Hanna memperhatikan deretan kursi yang ada di lantai atas, dipenuhi oleh para orang tua wisudawan yang tengah berbahagia. Senyum Hanna menguap, teringat akan ayahnya. Inilah salah satu hari yang ditunggu oleh ayahnya.
"Nanti saat kamu wisuda, ayah akan datang dengan baju batik ini," Pak Handi mengangkat kemeja batik warna coklat itu dengan senang. Bahkan ayahnya sudah menyiapkan batik itu jauh-jauh hari. Hanna meneguk ludahnya, mengingat wajah ayahnya yang tersenyum tak sabar menanti hari itu. "Ayah akan menggandeng kamu setelahnya, dan kita berfoto, anak ayah sudah lulus kuliah,"
Memori Hanna teringat akan kebersamaannya dengan ayahnya, Hanna memejamkan mata, matanya berkaca-kaca.
"Han...," colek sebuah tangan di bahunya, suara itu dari Panji yang tepat berada di belakangnya. Hanna menoleh. "Kamu baik-baik saja kan,?" tanya Panji memastikan. Buru-buru Hanna menguasai dirinya dan tersenyum lalu mengangguk. "Sudah sarapan kan,?"
"Cieee...perhatian banget," bukan Meta kalau nggak usil dan kepo.
"Sudah," jawab Hanna lirih sambil mengacungkan jempolnya pada Panji. Panji mengangguk lega.
Acara demi acara pun dimulai, dan prosesi wisuda akan segera dimulai. Satu per satu para wisudawan berjalan dan mengantri untuk menerima ijazah dari rektor yang berada di atas panggung. Hanna dengan hati yang campir aduk sudah berada di barisan antrian, menunggu giliran dirinya.
Mona dan gengnya juga berada di gedung tersebut, sama-sama wisuda di hari yang sama. Tempat mereka tak jauh dari Hanna, hanya berbeda deret saja. Jika Hanna tak memikirkan mereka, berbeda dengan mereka, mereka memperhatikan Hanna sejak tadi.
Hanna bersalaman dengan rektor dan berfoto bersama, kemudian dia berjalan kembali dan duduk di kursinya. Salah satu momen yang tak akan pernah dia lupakan dalam hidupnya, dengan semangat dari ayahnya, akhirnya dia bisa lulus kuliah. Jika bagi mereka ini adalah hal yang biasa, berbeda dengan Hanna. Karena ketidakberdayaan ekonomi keluarga, maka lulus kuliah tepat waktu menjadi kebanggaan baginya.
"Dan...selamat buat para wisudawan atas prosesi wisudanya, dan sebagai hadiah terimalah persembahan ini untuk kalian semua, kita sambut Rayyan Sebastian,"
__ADS_1
Seisi gedung tengah bersorak dan bertepuk tangan, terdengar sangat bergemuruh. Hanna terpaku, bisa-bisanya ada Rayyan. Karena memang sebelumnya tidak ada informasi jika Rayyan akan menjadi salah satu penampil.
Waktu pertama kali
Kulihat dirimu hadir
Suara merdu itu, diiringi suara alunan musik pengiring. Hanna masih terpaku melihat Rayyan yang di matanya hari ini snagat-sangat keren dan meningkat ketampanannya. Sudah berapa lama dia tidak bertemu dengan Rayyan, ah Hanna merindukannya. Hanna menepuk pipinya, kembali menyadarkan dirinya.
"Eh cie...Han, tuh," Meta menyenggol lengan Hanna.
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa geloranya hati ini tak ku sangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu
Kamu bukan orang biasa, kamu terlalu tinggi untuk aku gapai. Batin Hanna, dia sungguh menikmati alusan suara merdu serta nada indah di sana. Sedangkan Mona dan teman-temannya bisik-bisik nggak jelas tak jauh dari Hanna duduk.
Hari hari berganti
Kini cintapun hadir
__ADS_1
Melihatmu memandangmu bagai bidadari
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggung terikat
Rasa ini tak tertahan
Hati ini slalu untukmu
Sudah sama-sama saling melupakan, ingin saling melepaskan dan tak kembali mengingat satu sama lain. Rayyan tak peduli dengan apapun, Hanna sudah mengobrak-abrik hatinya. Hanna yang merasa tak pantas mendapatkan Rayyan pun tak bisa menolak hatinya yang masih saja teringat akan Rayyan, entah disadari atau tidak.
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia tulus padamu
(Andmesh Kamaleng, Cinta Luar Biasa)
Seluruh penghuni gedung bertepuk tangan dengan sangat meriah, merasa sangat senang dengan kejutan kampus yang menghadirkan Rayyan di acara wisuda kali ini. Rayyan membungkukkan badannya sebagai wujud terima kasihnya karena sudah mendapatkan sambutan luar biasa di acara ini. Dia berjalan ke belakang dan mengambil sesuatu.
"Selamat untuk kalian semua yang wisuda hari ini, semoga langkah kalian semakin cemerlang ke depannya," ujar Rayyan dengan bersemangat. "Saya mencintai kalian semua," imbuhnya.
Tepuk tangan kembali bergemuruh.
Buket bunga mawar merah super besar berada di tangannya, semua semakin berteriak histeris. Berharap mendapatkan bunga tersebut. Rayyan masih berdiri di atas panggung sambil terus tersenyum manis.
__ADS_1