
“Masuklah” pintu mobil itu seperti sudah tahu jika Hanna akan keluar dari gerbang secepat itu, Hanna melihat ke arah pengemudi sejenak, lalu tanpa pikir panjang dia masuk ke dalam mobil. Mobil pun melaju.
Hanna masih saja diam, sibuk dengan kekalutan yang baru saja dia alami. Tak ada air mata yang menetes, bahkan kini bibirnya menyunggingkan senyum.
“Maaf, sudah mengacaukan pestamu” gumam Talitha sambil memegang kemudi, jalanan malam mulai padat kendaraan lalu lalang. Nampaknya hari minggu benar-benar dimanfaatkan orang untuk melepas penat dari aktivitas rutin selama seminggu.
Hanna menggeleng sambil menyunggingkan senyum piasnya. Banyak sekali pertanyaan yang memenuhi otaknya, bagaimana bisa? Yang dia tahu, Talitha memiliki hubungan dengan Rayyan, bukan Bian.
“Kamu pasti bertanya-tanya\, kenapa bisa?” Talitha seolah bisa menebak apa yang memenuhi pikiran Hanna. “Kamu tahu siapa aku\, aku wanita jal*ng\, brengs*k yang mungkin baru kamu temui dalam hidupmu. Inilah aku” Talitha tertawa kecil\, menertawakan dirinya sendiri.
Hanna melihat ke arah perempuan yang ada di sampingnya itu, dia tahu jika sebenarnya banyak luka yang dia rasakan, hanya saja Talitha tak menampakkannya.
“Aku tidak tahu, tapi aku berterima kasih padamu”
“Untuk apa?” Talitha kembali tersenyum, tak ada lagi luka yang dia rasakan kini tentang Bian, rasanya dia bahagia sudah melihat Bian hancur reputasinya di mata banyak orang, tak peduli dengan dosa yang dia lakukan hari ini, Talitha senang.
“Kamu sudah menunjukkan bagaimana seorang Bian yang sebenarnya”
“Kamu percaya?”
Hanna melihat ke arah Talitha kembali, melihat sudut mata perempuan itu yang sedang menatapnya juga, kemudian dia kembali sibuk melihat jalanan untuk mengemudi. Hanna yakin jika yang dilakukan oleh Talitha bukanlah hal yang disengaja untuk mencemarkan nama baik seseorang.
Hanna mengangguk, “Iya, aku percaya”
“Ya…beginilah aku yang terlalu frustasi dengan apa yang menimpaku, tentang kisah cintaku yang tak pernah bahagia, tentang hidupku yang berantakan, hah…semoga kamu mendapatkan apa yang membuat kamu bahagia, Han. Terima kasih sudah mau menjadi temanku selama ini, dan sekali lagi maaf aku sudah mengacaukan semuanya”
“Kamu berhak bahagia, Litha” Hanna menimpali, rasa sakit hatinya karena Bian menguap sementara di hatinya, dia malah sedih melihat Talitha yang sebenarnya sedang ripuh.
“Tak perlu lah kamu sibuk melihat aku yang menyedihkan ini, aku akan baik-baik saja setelah ini. Kalau nanti ada kesempatan, kita bertemu ya, entah kapan”
__ADS_1
“Kamu mau kemana?”
“Aku mau menenangkan diriku untuk sementara waktu”
“Kemana?” Hanna kembali bertanya.
“Tenang saja, aku aman, dan aku nggak mau mati konyol kok” Talitha tersenyum. “Jalani hidupmu dengan baik, dan asal kamu tahu, Rayyan adalah cowok yang baik, kamu berhak bahagia Han” Talitha menghentikan laju mobilnya di
sebuah tempat yang asing bagi Hanna.
“Aku pergi dulu, seseorang akan menjemput kamu di sini, Han, sampai jumpa. Jaga diri baik-baik ya…” Talitha memeluk Hanna, awalnya Hanna mematung, lalu dia juga mengelus punggung Talitha sebelum perempuan itu masuk ke dalam mobilnya. Hanna yang tidak tahu maksud Talitha pun hanya diam saja, kalaupun tak ada orang yang menjemputnya, dia akan pulang naik ojek online.
Langit malam yang gelap, ditambah dengan mendung yang menggelayut, sesekali nampak kilatan cahaya di langit. Tetes-tetes gerimis mulai turun, Hanna membiarkan dirinya basah oleh gerimis yang turun. Dia melihat beberapa
orang mulai mencari tempat berteduh, tapi tidak dilakukannya. Dia berada di sebuah taman dengan ada kolam air mancur berhias lampu warna-warni. Hanna memilih duduk di bangku taman.
Ingatannya kembali kepada peristiwa tadi, di mana dia melihat ekspresi Bian yang nampak pasrah saat Talitha memberikan bukti foto USG kehamilannya. Dia sama sekali tidak menyangka jika Bianlah yang meminta Talitha menggugurkan bayi itu. Tenggorokan Hanna terasa sakit, air matanya turun membasahi pipinya. Begitu juga gerimis yang tadinya hanya setetes dua tetes, kini mulai deras membasahi bumi. Hanna bergeming, dia membiarkan hujan itu menerpa tubuhnya.
Haruskan dia percaya pada Talitha? Hanna menundukkan kepalanya, melihat tanah yang dia jejak. Tubuhnya mulai basah, hujan masih saja deras.
Bayangan tentang cintanya yang kandas dengan menyakitkan itu membuat batinnya terluka. Hanna merasakan tubuhnya tak lagi terguyur air hujan. Hanna mendongak menengadahkan tangannya, tak ada air yang turun di tubuhnya. Sebuah payung dengan warna bening transparan berada di atas kepalanya, bahkan dia bisa
melihat titik hujan dari atas payung tersebut.
Hanna memutar tubuhnya, dan di belakangnya, berdiri seorang laki-laki yang rela tubuhnya basah hanya demi untuk bisa memayungi tubuhnya. Hanna berkedip, lalu bangkit dari kursi. Payung itu masih mengikuti gerakan Hanna.
“Apakah kamu masih ingin di sini?” tanya Rayyan, mereka berdiri berhadapan dengan menggunakan satu payung yang dipegang oleh Rayyan. Hanna nampak tergugu, air matanya beradu dengan air hujan yang mengalir. Rambut Hanna basah, airnya menetes di wajahnya. Riasan yang sejak sore tadi dia poleskan di wajahnya kini kalah dengan hadirnya air mata.
Rayyan perlahan memeluk Hanna, membiarkan gadis itu meratap. Menangis dan patah hati oleh laki-laki lain.
__ADS_1
“Menangislah selagi kamu masih ingin menyelesaikan tangisanmu” ujarnya. Membiarkan Hanna membenam di dadanya.
Tak ada kalimat yang meluncur dari bibir Hanna, dia masih ingin menangis dan menangis. Rayyan merasakan betapa Hanna tengah merasakan pedih di hatinya, ada rasa cemburu yang dia rasakan.
Satu menit, dua menit, hingga hampir 10 menit Hanna menangis di dada Rayyan, akhirnya Hanna menarik wajahnya dari dada Rayyan, mendongak dan menatap wajah laki-laki yang sudah meminjamkan dadanya itu.
“Kali ini gratis, lakukanlah…kalau besok bayar” Rayyan tersenyum, Hanna pun ikut tersenyum meski dia masih menangis. “Selesaikan patah hatimu malam ini, besok tak ada lagi tangisan untuk laki-laki itu, karena jika kamu ingin meminjam dada atau bahuku, kamu harus membayar mahal” imbuhnya. Hanna mengusap pipinya dengan tangan, namun nihil, karena tangannya pun basah oleh air hujan.
Flashback…
Setelah mendapat informasi dari informan yang dia sewa, Rayyan yakin jika Bian bukanlah orang yang baik buat Hanna. Itu menjadi salah satu alasan mengapa Rayyan hingga detik ini belum menceraikan Hanna. Dia ingin setidaknya membalas budi Hanna dengan cara menjauhkan dari Bian. Namun dia tidak mau gegabah begitu
saja, karena dia tahu Hanna tak akan dengan mudah percaya jika dia mengatakan tentang keburukan Bian secara langsung.
“Jadi dia laki-laki yang sudah menghamili kamu?” Rayyan bertemu Talitha setelah meminta bertemu.
“Kamu sudah tahu?” Talitha memainkan gelas yang ada di meja.
“Bantu aku melakukannya” Rayyan menatap Talitha. Perasaan yang dulu sudah tak bersisa.
“Tanpa kamu minta aku akan melakukannya, untuk diriku sendiri dan pertemananku dengan Hanna” Talitha tidaklah bodoh, dia tahu saat berada di rumah sakit tempo hari jika Bianlah yang bersama dengan Hanna. Dia sudah mengira jika Bian dekat dan bahkan suah berpacaran dengan Hanna. “Setelahnya, jaga dia baik-baik” Talitha meneguk minumannya.
Rayyan melihat Talitha tanpa mengatakan apapun, kini tugasnya hampir selesai untuk membuka tabiat Bian tanpa harus melibatkan dirinya sendiri.
“Tak perlu kamu melakukannya, karena kamu cukup beresiko jika nanti sampai orang luar tahu. Cukup percayakan padaku, karena aku yang banyak terluka karena dia”
“Terima kasih”
“Tak perlu, karena sekali lagi, aku melakukannya untukku, anakku dan Hanna temanku, tugas kamu selanjutnya adalah menjaga Hanna. Karena pasti perasaannya akan terluka” Talitha sangat memahami bagaimana peristiwa yang akan terjadi pada Hanna.
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca, bantu author dengan cara memberikan like, komen, vote, rate. Biar semakin semangat menulisnya, membantu biar karya ini bisa naik.