
Hari ini adalah syuting hari pertama, Hanna yang sudah makan dan istirahat cukup sudah kembali full stamina. Dia sudah siap berada di samping Rayyan selama syuting berlangsung. Bukan untuk ikut syuting, melainkan bersiaga di sana jika Rayyan membutuhkan sesuatu, namanya juga asisten.
Hanna senang sekali karena tidur semalam berjalan lancar, dan dia tidur nyenyak di atas ranjang. Sementara Rayyan tidur di sofa, Hanna pun nggak peduli karena badannya terasa aneh, sehingga dia tidak peduli.
Hanna menunggu di sebuah kursi malas di pinggir pantai, karena Hanna memang nggak peduli dengan cerita yang sedang dimainkan oleh Rayyan, maka dia memang hanya menunggu saja. Terlihat dari jarak yang tidak jauh, Rayyan sedang di make up oleh MUA. Hanna menjelajah pandangan lokasi syuting yang nampak sangat sibuk.
Meskipun semalam tidur di sofa, namun Rayyan tak protes. Bahkan dia merasa lega melihat Hanna tertidur dengan pulas. Beberapa kali dia mengecek keadaan Hanna, dengan cara melihat Hanna yang sedang tertidur. Tangannya juga beberapa kali mengecek dahi Hanna, memastikan jika gadis itu tidak demam. Dia terlalu khawatir dengan keadaan Hanna.
Tangan yang sudah ahli itu sedang me-make up Rayyan dengan cekatan.
"Ih...lama nggak ketemu nih" ujarnya centil, Rayyan hanya diam saja mendengar ocehan sang MUA. "Bagaimana kabar say....?" ujarnya lagi. Tangan kanannya sibuk memoles di wajah Rayyan.
"Yaaa....seperti yang kamu lihat, baik" jawab Rayyan pada laki-laki melambai itu. Sang MUA yang sudah mengenal Rayyan itu pun tersenyum genit, bulu matanya yang lentik karena disambung itu nampak cetar membahana badai.
"Tambah cakep aja say..." pujinya, Rayyan yang mendengarnya merasa sudah sangat biasa, bahkan tak aneh lagi rasanya. Rayyan mendengus.
"Kamu gimana? job lancar kan?"
"Uhhhhhh tralala....kangen sama aku ya say?" sang MUA girang karena Rayyan menanyakan kabarnya. "Aku baik donk....apalagi kalau ketemu klien seperti kak say....uhhhh bahagia deh aku" laki-laki kemayu itu tersenyum bahagia. Rayyan memejamkan matanya sambil mengangguk-angguk meladeni makhluk di depannya itu. "Jobku lancar say...berkat doa kamu kali ya...huhuhu". Hampir selesai dia memoles wajah Rayyan yang sudah sempurna itu.
"Mar...markonah! sudah selesai belum?" teriak salah seorang kru pada laki-laki yang dipanggil Markonah itu.
"Ihhh sebel deh, manggil kok Markonah, Merry gitu lho..." gumamnya. "Iya...ini sudah sentuhan akhir" teriaknya.
"Ok" balas sang kru sambil mengacungkan jempol dari kejauhan.
"Oh ya...kemana kak Mila? biasanya kan selalu sama dia?" Merry bertanya pada Rayyan, karena memang setiap kali dia melihat Rayyan kerja, dia selalu bersama dengan Kamila.
"Dia lagi sakit"
"Oh...makanya kamu kok sama dia yang ada di sana" Merry mengedikkan dagu menunjuk pada Hanna yang tengah sibuk membaca buku, begitu juga Rayyan, akhirnya dia memalingkan pandangannya melihat Hanna yang sedang sendirian membaca buku.
__ADS_1
"Iya" jawab Rayyan singkat.
"Aku mau donk jadi asisten kamu"
"Aku yang nggak mau" balas Rayyan cepat. Karena sudah selesai, Rayyan berdiri dari kursinya dan segera mengambil kertas script yang ada tak jauh darinya, kembali dia menghafalkan dialog yang akan diperankannya.
Hanna tersentak saat seseorang tiba-tiba ada di sampingnya.
"Kenalin aku Merry..." ujar sang MUA tadi menghampiri Hanna setelah dia selesai menjalankan kerjaannya.
"Oh" Hanna melihat Merry dari ujung rambut hingga ujung kaki, tampilan yang super modis, bahkan kelewat modis dengan celanan ketat warna merah terang dan kaos dengan warna terang hijau itu sungguh aneh di mata Hanna. Selain pakaian yang aneh itu, rambut Merry juga sangat aneh bagi Hanna karena dicat warna warni seperti permen.
"Eh malah bengong" sentilnya.
"Oh...ya...aku Hanna" Hanna mengulurkan tangannya, Merry pun menerima uluran tangan Hanna. Dia duduk di kursi sebelah Hanna. Hanna menutup bukunya dan menatap lawan bicara.
"Eh kamu asisten barunya Rayyan ya?"
Hanna mengangguk.
"Kemarin"
"Oh barusan? iri deh say sama kamu..."
Hanna mengernyit. "Kenapa?"
"Ya karena kamu bisa jadi asistennya Rayyan si tampan" Merry tertawa bahagia. Hanna semakin meringis mendengar jawaban Merry.
"Emang begitu ya?" Hanna mencoba mencari tahu.
"Iya lah...siapa sih yang nggak mau dekat sama dia, tampan, beken, duh pokoknya senang banget dah bisa dekat sama dia" ujarnya sambil bahagia.
__ADS_1
Hanna hanya tersenyum saja mendengar Merry ngoceh, apakah dia yang aneh karena dia tidak bahagia menjadi asisten Rayyan?.
"Kamu juga bahagia kan?" Merry mengerling. Hanna terkesiap, mengapa laki-laki itu nampak sangat gemulai begitu.
"Aku? ehm iya bahagia" Hanna menjawab demikian karena takut kalau Merry akan semakin panjang ngomongnya.
"Tuh kan.....memang sih, dia membawa bahagia" girangnya. '"Ya udah, aku balik dulu ya..."
Hanna mengangguk senyum, Merry beranjak sambil melambaikan tangannya. Hanna pun membalasnya sambil tersenyum nyengir.
Melihat Rayyan sudah bersiap ambil gambar, Hanna pun mendekat ke Rayyan, berjaga-jaga jika Rayyan membutuhkan sesuatu. Hanna membawa sebotol air dan duduk di sebuah kursi tak jauh dari Rayyan.
Karena dia tak paham tentang syuting, maka dia kembali membuka bukunya. Mencoba memahami isinya, karena dia tak mau nanti saat ujian dia mengalami kesulitan.
Pengambilan gambar pertama selesai, Hanna berlari ke arah Rayyan.
"Minum?" Hanna mengangsurkan sebotol air minum. Rayyan menerimanya dan meneguknya hingga hampir tandas.
"Terima kasih"
"Ok" Hanna hanya melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan oleh Kamila, maka dia ikut saja. Semoga dia tidak mengecewakan, karena bagaimanapun dia sedang bekerja dengan Rayyan, maka dia harus profesional.
"Kamu sudah makan?" tanya Rayyan di sela break. Hanna menggeleng, karena sedari tadi dia memang berada di sini menunggu Rayyan. Rayyan menarik tangan Hanna dan mengajaknya meninggalkan lokasi. Hanna pun tak berkutik.
"Nggak apa-apa, nanti saja makannya, kan kamu belum selesai" Hanna menolak.
"Daripada kamu pingsan lagi" Rayyan tak peduli, dan masih saja menarik tangan Hanna, menggandengnya. Hanna menelan ludahnya, ada yang aneh di hatinya. Getarannya seolah menjalar di seluruh tubuhnya. "Aku nggak mau kamu pingsan, paham?" Rayyan seolah mengulang kembali kekhawatirannya.
Rayyan mengajaknya ke sebuah tempat makan yang tak jauh dari lokasi syuting, siang yang terik membuat Hanna harus meneguk air yang ada di depannya itu hingga hampir tandas. Dia yang hanya menunggu saja merasa berjuang kepanasan, apalagi yang sedang bekerja di lokasi.
"Perlakukan aku seperti asistenmu" Hanna membuka obrolan di sela Rayyan sedang memilih menu makan. Karena dia merasa jika terlalu diistimewakan. Rayyan menatap mata Hanna tajam, seolah mengatakan tak mau. Hanna yang ditatap oleh Rayyan pun merasa ciut.
__ADS_1
Sial...kenapa rasanya begini?
Hanna merutuki dirinya, jika dulu dia suka mendebat Rayyan dan bahkan tak peduli, kini dia merasa bagai terkungkung dan tak berkutik.