
Jantung Hanna berdetak kencang, wajahnya terlihat sangat panik saat melihat kerumunan banyak orang di rumahnya. Kebanyakan adalah tetangga terdekat.
"Nah ini sudah datang" ujar seorang Ibu dengan daster warna biru, nampak dia juga panik.
"Kenapa? ada apa?" tanya Hanna. Belum juga ada yang menjawab, ada sekitar 3 orang yang mengangkat tubuh ayahnya ke atas kursi panjang yang ada di ruang tamu. "Kenapa dengan ayah?" Hanna masih saja bertanya.
"Barusan ayah kamu pingsan tiba-tiba saat tadi ada pelanggan yang mau mengambil laundry nak, kita memberikan pertolongan tadi sebelum memindahkannya ke kursi, tapi..." ujar seseorang dengan kopyah warna putih, dia adalah Pak RT di lingkungan tinggal Hanna.
"Tapi apa Pak?" Hanna melihat wajah Pak RT penuh tanda tanya. Hanna segera mendekat ke arah ayahnya, dia berjongkok di sampingnya. "Ayah bangun...ini Hanna." Hanna menepuk pelan kedua pipi ayahnya, berharap ayahnya bangun saat mendengar panggilannya. Namun nihil.
"Sepertinya ayahmu sudah tiada" ujar Pak RT. Mendengar kalimat itu meluncur, Hanna menatap Pak RT dengan mata membulat sempurna, ingin protes dan marah.
"Pak RT jangan bicara sembarangan, ayah baik-baik saja, bahkan saat aku pamit tadi ayah baik-baik saja." Hanna tidak mau menerima begitu saja ucapan Pak RT.
"Ini mobilnya sudah datang Pak, kita bawa sekarang.?" tanya seseorang tetangga Hanna pula, Pak Mamad namanya.
"Kita bawa ke rumah sakit untuk memastikan" ujarnya, beberapa orang kembali mengangkat Pak Handi yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran itu masuk ke dalam mobil ambulans.
Hanna dengan panik pun ikut naik dan menunggui ayahnya, didampingi Pak RT dan Pak Mamad. Hanna memegang tangan ayahnya sembari berdoa jika ayahnya hanya pingsan dan sebentar lagi akan baik-baik saja.
"Ayah...ayah akan baik-baik saja" ujarnya sambil menatap wajah ayahnya yang seperti orang tidur nyenyak. "Ayah bangun" Hanna mengusap wajah ayahnya dengan lembut. Mata Hanna mulai berkaca-kaca, tak sanggup rasanya jika apa yang diucapkan oleh Pak RT menjadi nyata. Sementara Pak RT yang ikut menemani hanya diam saja di dekat Hanna. Laki-laki yang seumuran dengan Pak Handi itu nampak tak tega melihat pemandangan yang ada di depannya itu. Bagaimana tidak, dia yang sebagai tetangga saja kaget dengan peristiwa ini, baru saja tadi pagi dia bertegur sapa dengan Pak Handi, dan sore ini tetangganya itu sudah tidak ada.
Mobil pun berhenti, sebuah brankar dorong menyambut kedatangan Pak Handi. Segera petugas membawanya masuk ke IGD. Hanna tergopoh masuk ditemani oleh Pak RT.
Dokter jaga dan perawat melakukan pemeriksaan awal pada Pak Handi. Hanna yang berjarak sekitar 5 meter dari dokter yang menangani ayahnya hanya bisa melihat, dia nampak panik dengan menggigit bibir bawahnya, hatinya masih terus berdoa untuk kesembuhan ayahnya.
Dia tidak bisa mendengar perkataan dokter dan perawat dengan baik, nampak dari wajah mereka tersirat keadaan yang tidak baik sedang mereka hadapi. Sekitar 30 menit, Hanna masih melihat dan terus berdoa.
"Siapa keluarga pasien?." tanya seorang dokter laki-laki yang tadi memeriksa.
"Saya dok." bergegas Hanna mendekat, hatinya semakin cemas. "Saya putrinya."
"Maaf, ayah anda sudah tiada." ujar sang dokter dengan gamblang.
__ADS_1
Serasa disambar petir, dunia seakan runtuh. Hanna menggelengkan kepalanya, pertanda dia tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh dokter. Hanna segera mendekat ke tempat ayahnya berbaring, perawat hendak menutup tubuh ayahnya. Namun Hanna merangsek mendekat dan memegang ayahnya, air matanya lolos begitu saja membasahi kedua pipinya tanpa bisa berkata apapun. Tangannya meraba pipi ayahnya, terasa dingin.
Apakah dia sedang bermimpi buruk? bukankah kemarin baru saja dia pergi bersenang-senang dengan ayahnya? tadi pagi masih sarapan bersama, masih pamit. Dia masih melihat senyumnya? Hanna memejamkan matanya, air mata semakin deras mengalir. Pak RT yang sedari tadi membiarkan Hanna untuk mencerna keadaan ini pun kini mendekat, memegang pundak Hanna untuk menenangkan.
Apa yang bisa Hanna lakukan saat ini? dia merasa sendirian, di saat adik satu-satunya tengah berada di luar negeri untuk belajar. Hanna terisak, dia tak kuat menopang tubuhnya, Hanna terduduk di lantai sambil tergugu. Dia sadar bahwa ini bukan mimpi.
"Sabar nak Hanna." Pak RT kembali menenangkan.
Perawat bersiap memindahkan jenazah Pak Handi ke kamar jenazah. Pak RT membantu memapah Hanna untuk keluar dari IGD dan mencari tempat agar Hanna lebih bisa menguasai diri. Hujan di luar mulai turun.
Hanna sedang duduk di sebuah kursi tak jauh dari IGD, tangisnya masih pecah. Bahunya terguncang hebat, sementara Pak RT sedang membantu mengurus surat-surat untuk memulangkan Pak Handi.
Langkah kaki jenjang itu nampak berlari mencari seseorang yang jelas kini sangat rapuh, matanya mendapati Hanna yang sedang duduk di sebuah kursi. Matanya benar-benar merah karena air mata. Tanpa menunggu, Rayyan duduk di samping Hanna. Menarik kepala Hanna dan menyenderkannya di dadanya yang bidang. Tak ada penolakan, Hanna tergugu di sana. Dia benar-benar rapuh, dunianya telah runtuh.
Hanna semakin terisak, Rayyan membiarkan Hanna membuang rasa sedihnya. Meskipun dia tahu itu tak mungkin. Setidaknya Hanna bisa sedikit bisa mengeluarkan beban yang ada di pikirannya. Entah apa yang dirasakan Hanna saat ini. Rayyan masih mendekapnya dengan erat.
Pak RT telah kembali ke tempat di mana Hanna berada, dia melihat Hanna tengah bersama Rayyan. Rayyan mengangguk saat Pak RT memperlihatkan kelengkapan surat dari rumah sakit untuk pulang. Rayyan kembali mengangguk untuk Pak RT mengurus semuanya. Dia akan mengurus Hanna di sini. Pak RT pun membalas mengangguk dan segera bersiap membawa pulang jenazah. Sebelumnya dia sudah mengabari para tetangga agar segera menyiapkan pemakaman.
Hanna menarik diri dari dada Rayyan.
Rayyan mengangguk, seakan memahami apa yang dirasakan Hanna.
"Ayah telah pergi, kenapa secepat ini.?" protes Hanna. "Tuhan kenapa secepat inii." Hanna kembali protes.
Rayyan menatap Hanna dengan iba, Hanna yang biasanya cuek itu benar-benar terlihat rapuh. Rayyan menggandeng Hanna dan mengajaknya pulang, karena Pak RT dan jenazah ayahnya sudah jelan terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan yang diterpa hujan, Hanna hanya menatap jalan. Rayyan sesekali melihat Hanna yang duduk di sampingnya. Merasa khawatir dengan Hanna, sementara dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Sesampainya di rumah, rumahnya nampak ramai dengan para pelayat. Di mana mereka sudah mendirikan tenda untuk para pelayat. Rayyan membantu Hanna turun dari mobilnya, di mana Rayyan tak peduli lagi dengan keberadaannya.
Di antara kepedihan, para pelayat yang menyadari bahwa Rayyan ada di sana nampak bergumam dan kagum dengan keberadaannya.
"Apanya Hanna?." tak sedikit yang berkasak kusuk bertanya demikian. Rayyan tak peduli, dia terus menggandeng Hanna masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Hanna melepaskan pegangan Rayyan. "Aku ganti baju dulu." pamit Hanna, dia memang masih mengenakan baju magangnya. Hanna masuk ke kamarnya dan mengganti dengan pakaian serba hitam serta kerudung warna senada. Dia duduk di samping jenazah ayahnya yang sudah terbujur kaku. Kembali air matanya turun melihat laki-laki yang paling dia sayangi di dunia ini. Kini tak ada gerakan dari laki-laki itu, tak ada lagi tawa. Hanna menatap kain yang menutup tubuh Pak Handi dengan nanar.
Para pelayat datang silih berganti, mereka membacakan ayat-ayat suci untuk mendoakan almarhum. Hanna yang masih sangat berduka masih sulit diajak berbicara panjang lebar. Rayyan sengaja duduk di dekat Hanna. Sesekali dia mengelus pundak Hanna dengan lembut untuk menenangkan.
Pandangan para pelayat tak luput dari mereka berdua, pasti mereka sangat penasaran dengan keberadaan Rayyan di sini. Ada apa dengan mereka?. Begitulah yang mereka pikirkan.
Karena ini sudah larut, maka pemakaman akan dilakukan pada esok hari. Hanna yang baru ingat tentang adiknya, dia mengambil ponsel yang ada di sakunya. Dan saat akan melakukan panggilan dengan adiknya, dia benar-benar tidak sanggup. Ponselnya jatuh tergeletak di sampingnya. Rayyan kembali menangkap tubuh Hanna dengan tangan kanannya dan merangkulnya, agar Hanna kembali tegak.
Rayyan melihat nomer Nayo di ponsel Hanna. Rayyan memencet kontak tersebut dan menunggu panggilan video terjawab.
Tak perlu menunggu panggilan berulang, Nayo mengangkat panggilan dari nomor kakaknya itu.
"Iya kak?." Nayo tersenyum menyambut panggilan kakaknya, wajahnya pun nampak berbinar. Namun dia sedikit kaget saat layar ponsel Hanna menampakkan wajah Rayyan.
"Kak Rayyan? Kak Hanna mana?." tanya Nayo penuh tanda tanya.
"Kakakmu ada di samping." Rayyan mengarahkan kameranya ke wajah Hanna. Nayo terkejut saat melihat wajah kakaknya dengan gurat kesedihan diwarnai air mata itu.
"Kakak kenapa?." Nayo mulai panik.
"A...Ayah." Hanna terbata.
"Ayah kenapa.?" tanya Nayo.
Kamera kembali beralih, kini Rayyan mengarahkan ke arah jenazah ayahnya. Sontak saja Nayo hanya bisa terdiam melihat situasi ini.
"Baik-baik di sana, aku yang akan urus semuanya." gumam Hanna dengan suara sengau, dia masih saja menahan tangisnya.
"Aku harus pulang." Nayo terlihat bersikeras.
"Jangan...tetaplah di sana." Hanna kekeh.
Perdebatan kakak adik itu akhirnya selesai, dan Nayo memilih untuk menuruti Hanna, dia tak akan pulang. Karena kalaupun pulang itu akan memakan waktu yang sangat lama.
__ADS_1
Hanna memilih untuk menghadapi ini sendirian, dan membiarkan Nayo tetap berada di sana. Ini keputusan terbaik.