
"Han...kita menikah saja," Rayyan menatap Hanna, Hanna yang tidak jadi melangkah ke tempat cuci piring pun menatap Rayyan. Apa yang dia dengar adalah nyata. Hanna berkedip beberapa kali.
Mereka berpindah dari ruang makan ke rooftop, mereka sedang duduk berdampingan. Di bawah sana pemandangan taman samping rumah Rayyan dengan lampu taman yang indah.
"Aku tidak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya," ucap Rayyan, lalu dia menoleh ke arah Hanna dan merekahkan senyumnya.
"Kenapa kamu selalu membuatku berada di posisi sulit,?" tanya Hanna dengan senyuman.
"haha, seperti itukah,?" Rayyan menatap Hanna syahdu, yang ditatap salah tingkah.
"Jangan menatapku seperti itu," Hanna mengibaskan tangannya, tatapan Rayyan akan membuat degup jantungnya menjadi tidak normal, dan ini tidak bagus untuknya. Karena Rayyan akan tahu jika dia sedang salah tingkah.
"Jadi..bagaimana,?" tanya Rayyan, karena inilah tujuan dia mengajak Hanna kesini.
Hanna mengerutkan keningnya, dia sadar cepat atau lambat Rayyan pasti akan menanyakannya.
"Apa yang kamu lihat dari aku, gini lho...jadi aku sampai sekarang itu masih saja tidak bisa mencerna, apa yang ada di sini," Hanna memegang dahi Rayyan.
"Yang di sini cuma kamu," Rayyan memegang dahinya, lalu memegang tangan Hanna dan memegangnya erat. Hanna tidak menolak.
Hanna menyandarkan kepalanya di bahu Rayyan, mungkin inilah saat-saat tertulus hatinya bisa menerima isi hatinya bahwa sebenarnya dia memiliki perasaan pada Rayyan.
Mereka sedang berada pada perasaan nyaman masing-masing.
"Aku takut jika kamu akan menyesal nantinya," Hanna masih menyenderkan kepalanya, matanya menerawang, melihat pekatnya malam.
"Tak ada yang aku sesali Han, kamu memang jahat,"
__ADS_1
"Hah,?" Hanna menarik kepalanya dari bahu Rayyan, Rayyan tertawa dan buru-buru menarik kepala Hanna dengan lembut dan mengembalikan ke bahunya.
"Iya kamu jahat karena kamu sudah mencuri apa yang ada di hati dan perasaanku," imbuh Rayyan. Ah...Hanna kembali memanas pipinya, kalau terang, pasti pipi itu akan memerah.
"Dan apa yang kamu lihat dari aku yang hanya seperti ini,?" Hanna bertanya tanpa melihat ekspresi Rayyan, dia tidak mau menjadi semakin terlihat memerah.
Rayyan terdiam sesaat, apa yang harus dia jelaskan. Masih segar di ingatannya meskipun sudah berlalu beberapa bulan lamanya. Saat Hanna datang sebagai orang asing, dia membencinya, dan merasa Hanna hanya angin lalu. Tapi ternyata justru Hanna yang katanya biasa yang mampu mendobrak hatinya sebegitu dalamnya. Bahkan Talitha pun terlewat begitu saja. Hanna sudah menyelamatkan hidupnya.
Pun begitu dengan dendamnya pada ayah kandungnya, jika semula dia sudah menganggap ayahnya meninggal dan tak ingin sama sekali mengingat ayahnya, dari Hanna dia banyak belajar dan akhirnya bisa berdamai dengan semua ini.
Rayyan merangkul Hanna dan mengeratkannya. "Aku nggak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya," ucapnya lagi.
"Bagaimana jika suatu saat kamu yang tiba-tiba meninggalkan aku,?" Hanna nampak ragu, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di depan, ketakutannya beralasan, karena dia sadar diri. Rayyan, siapa dia? passti semua orang tahu, mayoritas fansnya adalah kaum hawa yang tentunya punya keinginan untuk memiliki pula. Di luaran sana banyak perempuan-perempuan cantik yang jauh-jauh lebih daripada dirinya. "Aku tidak cantik,"
"Kamu lebih dari itu, dan aku nggak mau kamu selalu mengatakan itu," potong Rayyan. "Asal kamu tahu, kalau aku sudah cinta sama orang, ya sudah, peduli amat sama kata orang."
"Jika dulu aku berada pada jalur yang salah, tapi kini aku tidak sedang berada di jalur yang salah kan,?" Rayyan menggenggam erat tangan Hanna. "Karena kamu bukan milik siapa-siapa sekarang, aku berada di jalur yang tepat," yakinnya.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun, tapi aku akan memberikan yang terbaik untukmu dan melakukan yang bisa aku lakukan agar kamu bahagia," Rayyan menatap mata Hanna tajam. Angin berhembus, menusuk tulang. Hanya saja tak terasa, mereka terlalu sibuk dengan kehangatan perasaan masing-masing.
"Jadi kita menikah saja,"
Hanna masih terdiam, mereka terdiam beberapa saat. Hanna menyiapkan jawaban dan Rayyan menunggu jawaban, sambil memandang langit malam.
"Aku suka sama kamu Hanna," Rayyan memegang kedua pipi Hanna. Hanna menatap mata Rayyan, iya dia percaya jika apa yang dikatakan Rayyan itu tulus dari hati.
Hanna memeluk Rayyan tanpa mengatakan apapun, terasa damai, terasa tidak percaya dengan apa yang dia dapatkan selama ini. Bisa-bisanya dia berada di dekat dan di pelukan orang yang selama ini dia idolakan. Ini mungkin mimpi.
__ADS_1
"Apakah aku sedang bermimpi,?" tanya Hanna masih sambil memeluk Rayyan, Rayyan mengelus pundak Hanna sambil menggeleng.
"Kamu berada di dunia nyata Han, percayalah aku akan berusaha sebaik mungkin,"
"Terima kasih karena selalu ada," Hanna menelan ludahnya, lalu melepaskan pelukannya. Matanya melihat wajah Rayyan. Beberapa kali dia menolaknya, seberapa tinggi dia membentengi dirinya dengan tembok perasaan menolaknya. Tetap saja hati kecilnya tak bisa bohong. Dia juga memiliki perasaan yang sama. Hanya saja tetap ada yang dia takutkan.Yaitu pandangan orang.
Rayyan melambaikan tangannya pada Hanna, Hanna menebarkan senyum pada Rayyan sebelum masuk ke dalam rumah. Entah apa namanya, dia tidak mau mengatakan jika ini adalah hari jadian mereka. Rayyan nampak sumringah.
"Tunggu," Rayyan menahan langkah Hanna yang hendak masuk ke dalam rumah. Hanna pun berhenti dan membalik badannya.
"Ada yang ketinggalan,?" tanya Hanna serius.
"Iya ada," Hanna mengernyitkan dahinya, perasaan dia hanya bawa tas dan itu sudah dia bawa.
Rayya mendekat ke arah Hanna dan mengecup kening Hanna, serasa dunia benar-benar berhenti berputar. Degup jantung Hanna kembali tak aman, dan badannya terasa ingin tumbang begitu saja.
"Selamat malam, dan lekaslah istirahat," Rayyan mengelus puncak kepala Hanna. "Jangan marahi adikmu yang kini jadi mata-mataku," Rayyan berbisik. Hanna tersenyum miring. Tak ada kalimat yang bisa dia ucapkan. Hanna kembali berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Malam sudah larut, Hanna belum bisa memejamkan matanya. Dia menatap langit-langit kamarnya, tangannya mengelus dahinya. Dasar katrok, sudha berkali-kali ketemu Rayyan, tetap saja wajah Rayyan mengusik batinnya. Terlebih kini statusnya meningkat. Hanna menaikkan selimutnya hingga kepala, kakinya menendang selimut. Mengubah posisinya menjadi miring. Benar-benar sedang tidak nyaman, antara tidak percaya dan bahagia.
Ponsel Hanna bergetar, Hanna buru-buru meraba ponsel yang seingatnya dia letakkan tak jauh darinya.
Kamu pasti tidak bisa tidur, sama. ❤❤
Pesan itu terpampang di depan mata Hanna. "Ish percaya diri sekali," Hanna bergumam, senyum kecilnya mengembang. Dia mengabaikan pesan yang masuk itu, ponsel kembali dia letakkan tak jauh darinya.
Nah kan, bener nggak bisa tidur kan...
__ADS_1
Pesan itu kembali masuk ke ponselnya. Hanna membukanya lagi, dan lagi-lagi tak membalasnya. Dia memejamkan matanya, ingat jika esok hari dia harus bekerja keras dengan cucian dan serikaan yang sudah dia tinggalkan seharian ini.