
Hanna benar-benar menjalani hari sebagaimana Hanna yang dulu, ke kampus, bantu ayahnya di laundry, memasak. Benar-benar dia menikmati hidupnya seperti dulu, perlahan dia harus melupakan apa yang telah terjadi selama 6 bulan ke belakang.
Hanna menenteng ranselnya dan keluar dari kamarnya, dia sudah selesai sarapan dengan Pak Handi, sedangkan Nayo sudah berangkat pagi buta. Adiknya itu sangat sibuk sebagai mahasiswa kedokteran. Hanna pun memaklumi dan senang melihat adiknya itu bersemangat.
"Ayah...aku berangkat dulu ya" Hanna pamitan dengan ayahnya, lalu mencium punggung tangan ayahnya tersebut.
"Minta uang saku nggak?" Pak Handi menggoda, layaknya anak kecil yang akan berangkat sekolah. Hanna terkekeh sambil tangannya tanannya terangkat siap menerima uang saku.
"Yah...nanti aku pulang agak telat ya...ya paling sorean dikit, mau main sama Kia, udah janjian soalnya" Hanna meminta izin.
"Iya, malam juga nggak apa-apa, bersenang-senanglah" Pak Handi sangat memaklumi anaknya, dan dia tidak mau jika anaknya sibuk dengan pekerjaan rumah yang sudah seharusnya dia kerjakan itu. "Yang penting jam 10 sudah di rumah, atau enggak bisa ngasih kabar ayah"
"Enggak kok yah, bentaran aja, soalnya ini nanti kan kuliah hanya sampai siang, terus lanjut sama Kia"
"Iya...hati-hati anak ayah"
"Ok yah...daaah" Hanna melambaikan tangan kepada Pak Handi dan segera menyalakan mesin motor bututnya yang masih setia menemaninya.
Sementara itu dari jauh Rayyan masih saja seperti penguntit yang membuntuti Hanna, kali ini dia memilih mengendarai motor dengan menyamar sedemikian rupa agar tidak menarik perhatikan orang sekitar.
Hanna mengendarai motornya keluar dari halaman rumahnya, dengan jarak yang tidak terlalu dekat, Rayyan menyalakan motornya juga.
Hanna melaju menuju ke kampusnya, Rayyan memilih untuk menepi dan agak jauh dari Hanna yang sedang memarkir motornya di parkiran. Hari masih pagi, dan Rayyan tak tahu harus ngapain saat Hanna akan kuliah. Rayyan tiba-tiba tersenyum menemukan sebuah ide.
Hanna sudah berada di koridor kelasnya, dia berangkat pagi kali ini dan tak harus kejar-kejaran dengan dosen saat akan masuk kelas.
"Tumben pagi" Panji menyuruh Hanna duduk di sampingnya. Hanna melempar senyum pada sahabatnya.
"Kenapa? aneh ya kalau aku berangkat pagi?" Hanna masih tersenyum. "Eh nggak ada tugas dari Pak Ibra kan?" Hanna memastikan, dan semester ini pun dia masih saja bertemu dengan Pak Ibra, dosen super killer menurutnya, dan tentunya menurut teman yang lainnya yang pada punya banyak dosa.
"Nggak ada, eh tapi kan Pak Ibra masih nanti siang"
"Iya tahu, jaga-jaga aja sih aku, takutnya aku jump scare gitu kalau ada tugas dan aku nggak ngerjain" Hanna sok menjadi rajin, padahal jika ada tugas mendadak, Panji lah manusia yang selalu menyelamatkannya.
Perkuliahan pagi pun berakhir, siang sudah menjelang. Hanna memilih untuk berada di gazebo taman sambil mendengarkan musik dari earphone ponselnya, sambil memejamkan mata dan sesekali menirukan lirik lagunya. Panji yang ada di sebelahnya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar suara Hanna yang tak tentu arahnya itu. Tapi dia tidak protes.
__ADS_1
"Kamu nggak lapar?" tanya Panji, Hanna tak menggubris, karena dia tengah asyik dengan suara lagu di telinganya. Panji yang melihat Hanna masih seperti orang gila pun kembali menggelengkan kepalanya.
Tangan Panji mencabut salah satu earphone yang menempel di telinga Hanna, Hanna pun sontak melihat ke arah Panji.
"Ada apaan?"
"Ada gempa" ujar Panji.
"Ah jangan ngaco"
"Iya, soalnya denger suara kamu" Panji terkekeh. Hanna mendelik. "Kamu nggak lapar?" tanya Panji untuk kesekian kalinya. Hanna menggeleng pelan.
"Belum" jawab Hanna.
"Eh kemarin dapat foto sama si Rayyan kan? idola kamu?" tanya Panji, dia belum sempat menanyakan hal ini pada Hanna sebelumnya. Hanna mematikan musik di ponselnya dan menyimpan ponselnya di tasnya.
"Kenapa?" tanya Hanna tak antusias, membuat Panji merasa heran, karena dulu Hanna selalu antusias jika membahas tentang artis idolanya itu, bahkan tanpa diminta cerita pun Hanna pasti cerita dengan sendirinya.
Panji melotot melihat Hanna, lalu meletakkan jarinya di dahi Hanna. Hanna menggeleng.
"Apaan sih?"
"Biasanya kamu sangat antusias loh, kali ini kok berbeda, kenapa? patah hati dengan gosip Rayyan sama cewek barunya ya?" Panji menggoda Hanna.
"Ih...kamu ngikutin juga gosipnya?"
"Ya...sebenarnya sih enggak cuma beritanya viral di mana-mana, jadinya ya mau nggak mau aku tahu"
"Emang siapa cewek barunya?" Hanna pura-pura tidak tahu.
"Kamu nanya? kamu nanya aku? kebalik non, harusnya aku yang tanya kamu" jawab Panji.
"Kok aku?" Hanna menunjuk dirinya.
"Bukankah itu...."
__ADS_1
"Bentar...." Hanna merasa jika Panji tahu kalau perempuan itu dirinya, dia merasa kepedean.
"Biasanya kamu kan serba tahu Han, kamu fans garis kerasnya Rayyan, malah nanya aku, aku nggak mungkin tahu siapa gadis itu" jawab Panji, Hanna menghela nafas lega.
"Cantik nggak?" Hanna iseng bertanya.
"Biasa aja sih"
Hanna mencebik, jika Panji saja menilai gadis yang ada di gosip itu biasa, maka dia memang gak secantik yang dilihat banyak orang. Hanna lalu tersenyum.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa"
"Kamu aneh sekarang" Panji protes.
"Aneh kenapa?"
"Iya, semenjak beberapa bulan terakhir ini aneh, jika dulu sangat-sangat antusias dengan Rayyan, sekarang enggak, seperti sudah pernah pacaran dengan Rayyan, lalu kamu dicampakkan" Panji mendadak menjadi analisis keadaan.
"Ih sok tahu" Hanna mengibaskan tangannya.
"Atau kamu sudah benar-benar melabuhkan hati kamu sama Bian?" Panji mengangkat telunjuk tangannya. "Tunggu Han..."
"Apa lagi?" Hanna masih dengan sabar mendengar celotehan sahabatnya itu.
"Aku kapan hari itu lihat Bian sama cewek, cakep banget"
"Mona?" Hanna menebak, tapi Panji menggeleng. Karena Panji juga tahu siapa Mona, tapi dia yakin bahwa yang dia lihat bukanlah Mona.
Hanna terdiam sesaat, mencoba menerka siapa gadis yang bersama Bian. Jika bukan Mona, lalu siapa? apakah pacar baru Bian? kalaupun pacar baru Bian, seharusnya Bian tidak menyatakan perasaan padanya tempo hari.
"Malah bengong, nanti kesambet mbak kunti kamu" Panji menepuk pundak Hanna. "Udah ah ayo masuk, bentar lagi nih kelas Pak Ibra. Hanna yang masih dengan suasana hati bengong ikut saja langkah Panji.
Bersamaan dengan langkah cepat kakinya yang mengikuti Panji, otaknya juga sedang berfikir keras tentang siapa gadis yang bersama dengan Bian.
__ADS_1