Syafira

Syafira
Chapter 19


__ADS_3

Setelah acara selesai, aku melangkah masuk menuju kamar, perlahan aku membuka pintu dan sorot mataku menangkap Syafira yang sedang terduduk di hadapan meja rias. Gadis membersihkan riasan wajahnya dengan micellar water, aku tahu dia menyadari kedatanganku tetapi Fira kembali bersikap acuh, setelah acara tersebut selesai.


Aku terduduk di tepi ranjang dengan sorot mata tajam, menatapnya. sepertinya Syafira sedang kesulitan membuka rel sleting yang ada di punggungnya, ia terus berdecak dengan raut wajah kesal.


"Kenapa ini sangat sulit." gumamnya.


Aku tersenyum tipis mendekatinya, perlahan aku menarik rel sleting tersebut, membantu Syafira hingga membuat raut wajahnya terlihat datar.


"Kau tidak perlu melakukan hal itu." tegasnya dingin.


Aku menyentuh lembut bahu indah Syafira, dan menatap pantulan wajah kami di cermin.


"Terima kasih, kau sudah menemaniku diacara ulang tahunku" ucapku.


Syafira hanya memiringkan senyum sinisnya


"Kau terlalu percaya diri." tegas Fira


Meskipun ia bersikap sangat angkuh aku tidak masalah, dia bersedia menghadiri acara tersebut saja sudah membuatku cukup bahagia.


"Kenapa kau melakukan hal itu untuku?"


"Jadi yang kau inginkan adalah, aku mempermalukan diriku sendiri, saat aku tidak hadir diacara suamiku."


Dahiku mengeeut, saat aku mendengar kata akhir dari kalimat yang Syafira ucapkan.


"Jadi sekarang kau sudah mengakui aku sebagai suamimu?"

__ADS_1


Syafira terdiam, ia tidak menggubris ucapanku, hanya memancarkan wajah tanpa ekspresi. Aku mengedepankan rambut panjang Syafira, dan menghirup aroma tubuhnya, menempelkan wajahku di ceruk lehernya.


"Berhentilah menyentuhku, kau sama sekali tidak berhak."


Aku terkekeh, seketika aku mengingat ucapannya di lantai dasar, saat ia mengatakan akan menghadiahi dirinya sendiri untukku.


"Aku hanya menagih janjimu saja."


Cupp...


Aku mengecup leher indahnya hingga membuat Syafira tersentak. aroma tubuhnya sangat menggoda, ia berhasil membangkutkan jiwa kelelakianku saat ini.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku hanya ingin hadiah yang sudah kau janjikan." tegasku.


"Apa kau takut? aku ini suamimu."


Syafira terus melangkah mundur, dan aku terus melangkah mendekatinya, raut wajahnya benar-benar sangat menggemaskan, wajar saja semua tamu memuji kecantikannya, hal itu juga aku akui, jika istriku ini memanglah sangat cantik.


"Jangan mendekat."


Gadis itu terjatuh saat kakinya mengenai ranjang, dan Fira menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.


"Kenapa kau takut? tidak hanya pandai menggoda, ternyata kau juga seorang pembohong rupanya."


Aku mendekatkan tubuhku padanya, Syafira berada tepat dibawahku, aku bisa merasakan getaran tubuhnya, wajahnya yang terlihat gugup, sorot matanya bahkan terus menatapku dengan penuh ketakutan.

__ADS_1


"Ka-kau... apa yang akan kau lakukan?"


Syafira menelan salivanya, ia terus menatap bola mataku. begitupun sebaliknya, aku semakin tertarik padanya, ia sukses membuat insting kelelakianku bekerja, jantungku berdebar. Aku bahkan membelai wajahnya perlahan, ingin rasanya aku merengkuh bibir tipisnya yang terlihat merona, itu nampak sangat menggoda.


"To-tolong menjauh, a-"


Aku merengkuh bibirnya dengan penuh kelembutan, hingga membuat mata Syafira membulat, ia sama sekali tidak membalas ataupun menolak ciumanku.


Aku bahkan memasukan tanganku kesela-sela gaunnya, mencari susuatu dibalik gaun tersebut, seketika hawa panas ini menjalar. Syafira menahan tangan nakalku, kali ini ia merapatkan bibirnya setelah barusan tidak bereaksi, aku semakin memaksanya, mencari celah agar lidahku bisa menerobos masuk kedalam rongga mulutnya.


Tangan Syafira bahkan sudah memukul-mukul tubuhku, aku mengunci kedua tangannya, dan menurunkan ciumanku, ketitik leher sampai dadanya. kakinya terus menggelinjang, ia mencoba memberontak akan tetepi tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan tinndihanku.


"Lepaskan, bodoh, tidak waras." tegasnya.


Aku mengecup daddaanya, meninggalkan tanda kepemilikan disana, ciuman ku kembali mengarah kebibirnya, untuk mengunci mulutnya yang terus berteriak.


Deg...


Aksiku terhenti, saat aku melihat kedua bola matanya mengeluarkan air mata, Syafira benar-benar terlihat ketakutan, ia bahkan langsung menutupi daddaanya dengan selimut, karna aku berhasil membuka bagian tersebut, hingga ia terlihat hampir setengah telanjang.


"Maaf, jika kau tidak bersedia aku tidak akan memaksa." ucapku dingin.


Aku berlalu begitu saja keluar kamar, meninggalkan Syafira yang sedamg terisak. Bodoh, bagaimana pun aku pernah melukainya, bukan hanya perasaannya, berulang kali aku menyudutkannya mendekati maut. tidak mungkin Syafira akan menyerahkan dirinya begitu saja padaku.


Aku memilih pergi karna tidak ingin membuatnya semakin takut, dan khawatir jika aku tidak bisa menahan diri. Apa yang harus aku lakukan? aku sudah beristri, tapinistriku sendiri menolak setiap kali aku menyentuhnya.


LIKE KOMEN DAN VOTENYAA, YANG BANYAKK😍

__ADS_1


__ADS_2