
"Nada kau..." Syafira langaung menghentikan ucapannya begitu melihat kamar apartemen milik Nada begitu berantakan, layaknya kapal pecah.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu." ucap Nada dengan santai dan senyum yang terlihat kikuk.
Kelvin dan Syafira saling melirik satu sama lain.
"Apa yang terjadi? kenapa ruangan ini sangat berantakan?" tanya Syafira.
Nada melirik kesekitarnya, yang memang suasana disana sudah seperti gudang. "Ini tadi aku... aku hanya ingin mengubah posisi tempat tidurku." Sahut Nada gugup.
Syafira mendekati gadis itu dan menyemtuh tangannya, "Kau baik-baik saja?"
Nada menganggukan kepalanya, dengan sorot mata yang membalas tatapan Syafira.
"Ervan telah membuat seorang perawat kehilangan nyawanya. para polisi sekarang sedang memburunya! aku tidak akan melepaskannya kali ini." tegas Kelvin dengan rahang yang mengeras.
Nada menelan salivanya, kemudian berkata, "Ma... maafkan aku, tapi sepertinya aku tidak bisa mempersilahkan kalian duduk dengan kondisi ruangan yang seperti ini."
Syafira tentu mengerti apa maksud Nada, gadis dihadapannya ini sepertinya sedang mengusir Kelvin dan dirinya dengan cara halus. "Tidak masalah, kapan kau pergi. Kelvin akan mengirim seseoramg untuk medampingimu sampai kau tiba di rumah barumu."
"Ti... tidak."
Kelvin mengerutkan dahinya mendengar ucapan Nada.
"Aku... maksudku, sepertinya aku tidak jadi pindah." ucap Nada terbata.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Syafira spontan.
"Karna... aku... aku tidak bisa kehilangan pekerjaanku."
Syafira terkekeh, padahal jauh dari sebelumnya dirinya dan Kelvin sudah mengatakan akan bertanggung jawab penuh membiayai persalinan dan bahkan pendidikan anak tersebut. karna bagaimana pun juga itu adalah anak dari Ervan, adik seayah Kelvin.
"Kau tidak perlu bekerja, sudah aku katakan, aku dan Syafira akan sepenuhnya bertanggung jawab membiayai hidupmu dan juga bayimu." celetuk Kelvin.
"Aku, tidak akan pergi dari sini."
Lagi-lagi Kelvin dan Syafira hanya saling menatap saat mendengar pernyataan Nada.
"Baiklah, aku akan mengirim penjagaan khusus untukmu. agar Ervan tidak bisa datang untuk menyakitimu lagi." ucap Kelvin.
Nada langsung menutup pintu apartemennya begitu Kelvin dan Syafira benar-benar sudah meninggalkannya. Nada langsung menghampiri Ervan yang baru saja bersebunyi saat Kelvin dan Syafira datang.
Plak... tamparan keras mendarat diwajah Ervan.
"Apa yang terjadi?" tanya pria jangkung itu pada Nada.
"Aku memberimu kesempatan, karna kau sendiri yang memintaku untuk merubah dirimu, dan membawamu kejalan lebih baik! tapi kenyataanya kau telah melenyapkan kembali nyawa seseorang hari ini." Tegas Nada meninggikan suaranya.
"Aku... itu aku terpaksa." sahut Ervan mencoba membela diri.
Nada terkekeh, ia mendorong tubuh pria jangkung itu agar sedikit menjauh darinya, "Kenapa harus melenyapkan seseorang lagi? kenapa harus membunuhnya, Ervan! katakan kenapa aku harus membuat seseorang kehilangan nyawanya lagi dan lagi." jerit Nada histeris.
__ADS_1
"Aku... aku tidak bermaksud, karna aku pikir waktuku tidak banyak. aku takut kau membawa pergi bayiku."
"Diam! kau sama sekali tidak pantas menjadi Ayah dari bayiku. sekarang kau pergi dari sini jangan pernah ganggu hidupku dan anakku lagi."
"Baiklah."
Mata Nada membulat begitu mendengar jawaban Ervan.
"Aku tidak akan mengganggu hidupmu dan bayi dalam kandunganmu," ucap Ervan kemudian melangkah menuju pintu.
Sulit dipercaya, Ervan yang awalnya enggan untuk diusir dan bahkan memohon nerulang kali dengan amat sangat pada Nada untuk ia tidak menjauhkan bayi dalam kandungannya dari Ervan. bahkan Ervan sudah berjanji jika ia tidak akan melukai siapapun lagi dan jika waktunya tepat ia akan meminta maaf kepada Kelvin, mengajaknya untuk berdamai.
"Tunggu!"
Langkah Ervan terhenti seketika.
"Kemana kau akan pergi?" tanya Nada.
"Penjara."
Lagi-lagi Nada dibuat terkejut oleh Ervan. "U... untuk apa kau kesana?"
"Menyerahkan diri." sahut Ervan dingin.
LIKE KOMEN DAN VOTENYA DONGGG...
__ADS_1