Syafira

Syafira
Chapter 58


__ADS_3

Hari demi hari Nada lewati, ia semakin cemas dan khawatir sedangkan saat melihat keadaan perutnya yang sudah membuncit, Nada merasa takut jika hal dimana ia berspisah dengan anaknya akan segera tiba. meskipun kesehariannya bersama Ervan wanit aitu lewati dengan santai, dan sudah saling terbiasa dengan kehadiran masing-masing.


"Kau sakit?" tanya Ervan menghampiri Nada kemudian memijat bahu wanita tersebut perlahan.


Nada melirik, menggelengkan kepalanya dengan tatapan sendu, "Aku baik-baik saja."


Ervan tersenyum tipis, meraih wajah Nada dan menyingkirkan rambut-rambut halusnya. "Jika ada sesuatu katakan saja, apapun akan aku berikan."


Sungguh Nada sangat terenyuh, meskipun ia tahu jika Ervan bersikap demikian hanya karna bayi dalam kandungan sang istri. ingin rasanya semua ini tidak cepat berlalu, demi apapun Nada belum siap untuk berpisah dengan sang buah hati. meskipun ia sudah menanda tangani surat perjanjian bersama Ervan. Nada bersikap dingin, ia hanya membalas ucapan Ervan dengan menyimpulkan senyum kemudian beranjak melangkah menuju tempat tidur.

__ADS_1


Memang sedikit membingungkan, bawasannya hubungan Ervan dan Nada sebelumnya baik-baik saja. mereka saling bercerita, saling memperhatikan bahkan jika dilihat dari kejauhan hubungan Ervan dengan Nada sudah seperti pasangan suami istri yang bahagia.


Saat Nada mulai memejamkan mata, ia merasa tubuhnya didekap oleh Ervan dari belakang. pria yang memilih berbaring disamping Nada sambil memeluknya pun mulai mengerti tentang perubahan sikap yang Nada berikan.


Ervan kembali mengelus sang istri kemudian berkata, "Apa yang terjadi? katakan sesuatu."


Setetes air mata gadis itu mengalir, dalam hatinya ia berucap. "Aku tidak ingin berpisah dari bayiku, meskipun kita sudah membuat perjanjian. apa kau akan tetap bersamaku jika aku meminta hal itu padamu?" batin Nada.


Lagi-lagi Nada hanya menggengkan kepalanya, ia menggengam tangan Ervan kemudian berkata. "Aku hanya terharu, secepat ini waktu berlalu. tinggal beberapa bulan lagi aku akan melahirkan dan kau akan menjadi ayah."

__ADS_1


Ervan tersenyum tipis, ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Nada kemudian mengecup bibir wanita itu singkat, CUP. "Aku sangat menikmati hal ini, aku tidak ingin melewatkan sedetikpun waktuku untuk menunggu kelahirannya. aku bahagia, aku benar-benar bahagia," sejenak Ervan memeluk Nada mendekap tubuhnya dengan begitu erat, "Terima kasih karna sudah memberikan aku kesempatan, aku berjanji, setelah ini kau akan bebas. aku tidak akan menyulitkanmu lagi."


Deg... batin Nada menjerit, tetesan air matanya semakin deras. tapi apa yang bisa ia lakukan? ia hanya bisa terdiam, karna dari awal dirinya dan Ervan hanya terikat pernikahan kontrak.


"Kau tau... satu kesalahan yang tidak akan pernah aku sesali, saat aku menghancurkan hidupmu dan aku bisa menebus dosaku."


Sungguh, Nada tidak bisa menahannya lagi. ia langsung memeluk Ervan dengan begitu erat, Nada menangis sejadi-jadinya dipelukan pria tersebut dengan tangan yang melingkar diatas bahu Ervan.


"Maafkan aku, Nada. aku sudah banyak menyulitkanmu. kau wanita yang baik, aku tidak pernah menyesali hal ini, aku bahagia saat anakku dilahirkan dari seorang wanita berhati malaikat sepertimu."

__ADS_1


Kesedihan itu terasa sangat ringan, entah Nada takut dipisahkan dengan sang buah hati atau keduanya. ia benar-benar merasa tenang saat mendengar pernyataan tersebut dari Ervan, tapi disisi lain ia benar-benar takut. entah apa yang ia takutkan, ingin rasanya ia menghentikan waktu karna Nada tidak ingin hal yang ia lakukan sekarang segera berlalu.


__ADS_2