
Cup... Ervan merengkuh bibir Nada tanpa permisi, dengan penuh kehati-hatian kini bibir mereka benar-benar saling menyatu.
Nada tidak berkutik, matanya masih membulat. entah apa yang harus dia lakukan Nada sendiri tidak berniat untuk membalas ciuam Ervan dari lembut sampai menuntut.
"Mmmm," Nada mendorong perlahan sang suami agar Ervan melepaskan penyatuan tersebut.
"Kenapa? kau tidak suka?" tanya Ervan.
Nada menggelengkan kepalanya, ia benar-benar terlihat sangat gugup.
"Lalu?"
"Anna, Anna melihatnya." ucap Nada.
Ervan terkekeh, ia kembali mendekap tubuh wanita tersebut kemudian berkata. "Bagaimana mungkin bayi berusia dua bulan akan mengerti hal ini?"
Nada hanya tertunduk kikuk, sedangkan Ervan memutar kereta bayi Anna agar menghadap kearah lain.
"Sekarang, apa kita bisa melanjutkannya?"
__ADS_1
"Mmmm aku..." Nada mencoba mengalihkan dirinya. ia tidak berani menatap Ervan karna sungguh tindakan Ervan benar-benar membuat Nada tidak karuan.
"Diam berati iya!"
Tidak butuh waktu lama bagi Ervan untuk memalingkan wajah Nada, dan menempelkan bibirnya pada bibir wanita tersebut. pelan lembut penuh kehati-hatian pada Akhirnya semua yang Nada rasakan sekarang akan membawanya hanyut dalam sentuhan yang Ervan berikan. Tangan Ervan menyusup kebalik dress yang Nada kenakan, ia mengelus boko*ng sang istri dan merambat kepinggang wanita tersebut.
"Emmmm..." Nada ingin menolak, ia bahkan menurunkan tangan Ervan.
Seiring berjalannya waktu, Nada pun terbiasa. ia mulai mengalungkan tangannya dengan mata terpejam membalas lum*atan yang Ervan berikan.
"Bibi..."
"A... Alvin." Nada menelan salivanya, ia benar-benar terlihat kikuk dengan wajah memucat. "Apa dia melihatnya?" batin Nada bertanya-tanya.
Ervan memalingkan tubuhnya melirik kearah Alvin dengan tatapan tajam, "Kau... dengan siapa kau datang?" tanya Ervan.
Alvin melangkan mendekati kereta bayi Anna. untuk menyentuh bayi tersebut, "Dengan sopir, Papa yang menyuruhku untuk berkunjung. karna kata Papa membuat Adik membutuhkan waktu, dan tidak boleh diganggu."
Nada dan Ervan terpelohok, bagaimana mungkin Alvin mengatakan hal tersebut dengan sangat santainya.
__ADS_1
"Me... membuat adik?" ucap Nada terbata.
"Iya, saat Ayah menyuruhku meminta Adik pada Papa, Papa mengatakan jika aku harus sabar tidak boleh mengganggu proses pembuatannya." ucap Alvin polos.
Ervan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia melirik kearah Nada kemudian berkata. "Euuu itu, Alvin bagaimana caranya membuat adik?"
Nada membulatkan matanya, bagaimana mungkin Ervan menanyakan hal tersebut pada bocah yang baru akan menginjakan kakinya disekolah bermain.
Alvin melirik kearah Ervan, sorot matanya berbinar dan kemudian pria kecil tersebut tertunduk. "Entahlah, tapi sepertinya itu sangat rumit. Papa tidak memberitahuku."
Nada dan Ervan bernafas dengan lega, tentu saja mendengar ucapan Alvin sebelumnya mereka dibuat gelagapan. mereka pikir Kelvin sudah mengatakan apa yang seharusnya tidak dikatakan pada anak seusia Alvin.
"Dan sekarang?" Ervan menatap lekat pada sang istri.
"Apa?" sahut Nada bingung.
Ervan menghela nafasnya, pria jangkung itu langsung mendorong kereta bayi Anna dan mengangkat tubuh kecil Alvin. meninggalkan Nada di dapur sendirian untuk membuat sarapan.
"Semua keturunan Tuan Syekar memang licik! Baik Ervan maupun Kelvin, mereka sama saja. dan sekarang sifat itu akan menurun pada Alvin." batin Nada jengkel.
__ADS_1
Bukan jengkel karna kedatangan Alvin, Nada jengkel karna keintimannya bersama sang suami harus kembali terjeda akibat Kelvin dan Syafira yang dengan sengaja mengirim anak itu untuk menghabiskan waktu berdua.