Syafira

Syafira
Chapter 60


__ADS_3

Nada mengerjap mencoba mengumpulkan kesadarannya, tubuhnya terasa sangat lemah dengan kepala yang teramat sakit. "Ervan..." ucap Nada lirih. sesaat Nads bisa menangkap seseorang dengan penglihatannya yang sedikit kabur.


"Nyonya Anda sudah sadar." ucap seorang perawat.


Deg... Nada mulai menyadarinya, jika dirinya sedang berada disebuah rumah sakit. wanita tersebut mencoba terduduk, "Ahhh..." rasa nyeri dibagian perut Nada berhasil mengurungkan niatnya.


"Tenanglah Nyonya, kau baru saja sadar. jangan terlalu banyak bergerak."


Wajah Nada memanas, matanya mulai mengembun. "Di... dimana bayiku?" tanya Nada dengan air mata yang mulai berjatuhan.


"Bayi anda sudah bersama Ayahnya," perawat tersebut menyerahkan sesuatu kepada Nada. "Ini uang, dan juga ponsel yang suami Anda berikan."


Nada tak kuasa menahannya, Ervan benar-benar pergi meninggakannya dan membawa pergi bayi yang sudah Nada lahirkan.


"Ba... bayiku," Nada mencengkram kuat tangan perawat. "Bayiku... " jerit Nada histeris ia benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya, menangis sejadi-jadinya hingga ia tidak bisa mengontrol emosinya sendiri.


"Nyonya tenanglah, Nyonya."


"Tidak! bayiku..."


Nada terus saja berteriak, tidak ada pilihan lain untuk para dokter dan perawat selain menyuntikan penenang kepada wanita tersebut. semua orang disekitar bahkan mengintip dan berdatangan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Ditempat lain pada saat yang bersamaan, Ervan dengan salah seorang pegawai rumah sakit ditemani dokter sedang memantau sebuah cctv.


"Sebaiknya pikirkan lagi, Tuan. kasihan Nyonya." ucap Pak Leng yang tidak tega melihat Nada histeris.


"Aku tidak tahu pasti apa masalah diantara kalian, tapi sebaiknya jangan pisahkan ibu dengan bayinya. aku tidak mau mengambil resiko." ucap Dokter kepada Ervan.


Pria jangkung itu tidak bergeming, ia terus menatap layar monitor dengan tatapan kosong.

__ADS_1


"Aku khawatir hal ini dapat mengganggu kejiwaannya." celetuk Dokter.


Ervan berpikir keras, bagaimana pun semua ini adalah perjanjiannya dengan Nada sedari awal. tidak mungkin ia memberikan bayi itu begitu saja kepada Nada sedangkan Ervan sendiri sangat menginginkannya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ervan dingin.


"Aku pikir kalian harus membicarakan hal ini lagi, dan membuat kesepakatan baru." sahut Pak Leng.


Ervan langsung memalingkan tatapannya menatap pria paruh baya tersebut. "Bagaimana jika ia membawa pergi anakku?"


"Tidak ada salahnya jika kalian membesarkan bayi itu bersama."


Ervan berdecih, sesuatu hal yang tidak mungkin Nada setujui karna mengingat ucapannya dulu wanita itu sangat membenci Ervan dan tidak sudi hidup dengan seorang penjahat sepertinya. tanpa menggubris ucapan Pak Leng pria itu langsung beranjak, melangk, menjauh meninggalkan Pak Leng begitu saja.


"Percintaan anak muda jaman sekarang memang rumit." gumam Pak Leng.


Isakan tangis Nada terdengar, Ervan yang melihat hal itupun sedikit tidak tega. dengan penuh keberanian dirinya menekan gagang pintu dan menghampiri Nada.


Ervan hanya bergeming, ia bahkan sama sekali tidak berani menatap wajah sang istri.


"Aku mohon, aku mohon jangan bawa pergi bayiku." ucap Nada lirih, air matanya benar-benar terus mengalir deras. ia terus memohon pada Ervan agar pria tersebut berubah pikiran.


"Bagaimana dengan perjanjian kita?" tanya Ervan dingin.


"Aku tidak perduli, terserah kau mau menuntutku atau apapun itu. asal jangan pisahkan aku dengan bayiku, aku mohon." pekik Nada memukul-mukul tubuh Ervan dengan sisa tenaganya.


Ervan menghela nafasnya kasar, ia memalingkan wajahnya mentap Nada intens. "Jangan menangis," Ervan tersenyum tipis, ia bahkan menghapus air mata Nada dengan pwnuh kelembutan. "Aku tidak akan memisahkanmu dengan anakku."


Deg... Nada terpaku, ia menelan salivanya abil terus membalas tatapan Ervan.

__ADS_1


"Jadi kau..."


terdengar suara tangisan bayi dari balik pintu, Nada membulatkan matanya saat seorang pria membawa seorang bayi perempuan yang cantik kemudian menyerahkan bayi tersebut kepada Nada.


"Ervan dia..."


"Anak kita."


Nada langsung mencium putri kecilnya, ia kembali mengalirkan air matanya namun kali ini adalah air mata kebahagiaan.


Terlihat jelas jika Nada memang sangat menginginkan kehadiran bayinya, Ervan memilih mengalah. ia berpikir sudah cukup pria itu pernah membuat Nada kesulitan, hidupnya hancur bahkan berulang kali Nada melakukan percobaan bunub diri itu semua karenanya. untuk kali ini Ervan tidak ingin membuat hidup Nada kesulitan, ia sudah memutuskan untuk menyerahkan bayi itu pada Nada tanpa menuntut apapun.


"Maafkan aku, karna sudah membuatmu bersedih."


Nada mengalihkan tatapannya, ia menatap lekat Ervan yang beranjak mencoba menjauh dari dirinya. "Tunggu..."


"Kau bebas, aku tidak akan menyulitkamu lagi." ucap Ervan tanpa menoleh.


"Kau akan pergi?" tanya Nada.


Ervan memalingkan tubuhnya menatap Nada tanpa ekspresi.


"Kau akan meninggalkanku? dan juga bayi kita."


Pria itu keheranan, ia mengerutkan dahinya tanpa menggubris ucapan Nada.


"Jangan pergi," ucap Nada memohon, sejenak ia melirik kearah wajah sang bayi. "Aku dan anak ini membutuhkan dirimu."


Ervan terkejut, ia mendekatkan dirinya pada Nada kemudian berkata. "Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Ayo kita besarkan anak ini bersama." sahut Nada spontan.


__ADS_2