
21+
Nafasku tersenggal, aku berusaha tidak melenguh saat Kelvin sudah menurunkan handukku, hingga bagian dadaku sudah terekspose jelas oleh kedua mata Kelvin. ia bahkan menenggelamkan wajahnya disana, merengkuh habis bagian tersebut dengan penuh hasrat.
"Mmmmmm."
Suara itu terlepas begitu saja dari mulutku, aku bahkan mencengkram bahu Kelvin dengan sangat kuat.
"He-hentikan, aku... aku... belum siap."
Kelvin tidak menggubrisnya, ia bahkan terus mencumbuku tanpa jeda. aku merapatkan kakiku saat tangannya menyentuh bagian pribadiku.
Wajahnya meraih daun telingaku dan berbisik, "Nikmati saja, aku tahu kau juga menginginkannya."
Aku menelan salivaku, Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan perasaanku saat ini, aku merasa sangat takut dan cemas meskipun aku sendiri tidak tahu kenapa aku harus merasakan hal ini.
Pemuda itu kembali meninggalkan tanda kepemilikan diatas dadaku tepatnya di bagian yang menonjol, tangannya terus menerobos bagian sensitif yang berada dibawah perutku, itu sangat menggelikan, tak hentinya tubuhku bereaksi saat satu jarinya memijat bagian tersebut dengan sangat lembut.
"Mmmmmmhhh..."
Suara itu kembali keluar secara reflek dari mulutku, Apa aku harus menyerahkan diriku padanya sekarang? tidak, aku dan Kelvin bahkan tidak saling mencintai, aku tidak akan memberikan hal ini pada seseorang yang tidak mencintaiku. Tubuhku menegang, nafasku terengah-engah, aku ingin kekamar mandi, untuk membuang air kecil, saat aku terus mencoba menolak hal yang Kelvin lakukan, akan tetapi setiap aku menggerakan tubuhku untuk menolaknya, Kelvin jadi semakin liar menjalankan aksinya, dengan terus memberikan sentuhan-sentuhan kenikmatan di seluruh tubuh polosku.
"Aku akan melakukannya dengan lembut, kau tenang saja jika ini memang yang pertama kalinya." ucap Kelvin.
Entahlan, setelah puas memainkan jarinya diarea sensitifku, Kelvin dengan santai mengatakan hal itu. mungkin ia bisa menilainya hanya dengan menyentuh bagian tersebut.
"Tidak, aku... aku takut, aku belum siap." ucapku dengan nafas yang terengah.
"Apa yang kau takutkan?"
Kelvin kembali menempelkan wajahnya padaku, jangtungnya yang berdebar bisa sangat jelas terdengar ditelingaku, aku bahkan bisa merasakan bagian tubuhnya yang mengeras dan menonjol menempel diantara dua pahaaku.
__ADS_1
"Aku... aku takut... aku, bagaimana jika aku hamil?"
Kelvin terkekeh, lagi-lagi ucapanku terdengar menggelikan untuknya.
"Jika kau hamil tentu saja itu anakku, alasanmu kali ini terdengar tidak masuk akal, Fira."
Tubuhku semakin bergetar, aku bahkan merasa sedikit sesak, karna Kelvin tepat berada diatas tubuhku.
"Jangan menggodaku lagi, aku belum siap." tegasku
"Jadi kapan kau akan siap?"
Astaga, pria ini terus saja memojokanku, menyudutkanku dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat sulit untuk aku jawab.
"Kenapa kau diam?"
Kelvin menyentuh, memalingkan wajahku, agar aku membalas tatapannya.
"Aku ini suamimu, kenapa melakukan hal itu harus dengan perasaan cinta? kita tidak butuh cinta, kita hanya perlu saling menyadari, aku ini suamimu, dan kau adalah istriku. jadi lakukan tugasmu sebagai seorang istri untuk menyenangkan suamimu."
"Tidak. itu tidak benar, kita tidak saling mencintai, maaf aku tidak bisa."
Aku mendorong tubuh Kelvin secara perlahan, mencoba menutupi bagian tubuhku yang hampir telanjang dengan selimut.
"Bukan tidak, tapi akan."
Seketika aku langsung menatap wajahnya dengan sorot mata tajam.
"Cepat atau lambat kita akan saling mencintai, dan aku sendiri yang akan membuatmu jatuh cinta padaku."
Degg...
__ADS_1
Ucapan Kelvin berhasil membuat jantungku berdebar, entah apa maksud dari ucapannya tersebut.
"Jika kau melakukan hal itu hanya untuk meniduriku, itu bukan cinta itu hanya nafsu."
Kelvin terkekeh, ia kembali memangkas jarak mendekatkan wajahnya padaku.
"Apa bedanya cinta dan nafsu? cinta tanpa nafsu itu adalah kebohongan."
"Kau tidak punya hati, kau tidak akan mengerti hal ini." ucapku dengan suara memekik.
Kelvin menatap mataku, kami saling memandang satu sama lain, larut dalam obrolan omong kosong yang akan sulit untuk dicerna olehnya.
"Kita lihat saja, waktu yang akan menjawab cepat atau lambat aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, hingga kau tidak bisa sedetik saja untuk jauh dariku." tegas Kelvin.
Kelvin bahkan sangat percaya diri, tunggu-tunggu. Dua bulan? bukannya itu waktu yang pernah aku tentukan untuk meluluhkannya dulu. Apa yang terjadi? kenapa sekarang keadaannya menjadi berbalik seperti ini? dulu aku yang selalu menggoda dan mengganggunya, dan bahkan bersikeras untuk meluluhkannya agar Kelvin bertekuk lutut, dan sekarang hal itu terjadi padanya, mengatakan jika dirinya akan membuat aku jatuh cinta hanya dengan waktu dua bulan.
Cup...
Kelvin kembali merengkuh bibirku tanpa permisi, akan tetapi kali ini ia tidak melakukan sesuatu yang nakal padaku. Pemuda itu beranjak membuka lemari besarnya dan mengenakan pakaian tidur dihadapanku, tanpa rasa malu.
"Aku tidak akan memaksa, dan akan melepaskanmu kali ini, tapi ingat jika kita sudah saling mencintai aku harap kau menepati janjimu, dan menjalankan tugas sebagai seorang istri, dan bisa memuaskanku setiap kali aku menginginkannya."
Aku hanya terdiam, Kelvin melangkah menghampiriku lagi. Ia meraih bantal disampingku dan kembali melangkah menjauh.
"Kau mau kemana?" ucapku
"Tidur."
"Aku... aku... tidurlah disini bersamaku."
Bukan tanpa alasan aku memintanya tidur bersamaku, karna keadaan listrik yang belum menyala, itu sebabnya aku mintanya untuk tidur bersamaku malam ini.
__ADS_1
LIKE KOMEN DAN VOTEEE YANG BANYAKKKKKK, BIAR MAKIN RAJINNNNN WOYYH AKU MAKSAAAAA