
Nada benar-benar dibuat lemah tidak berdaya, dengan pakaian yang sudah tidak beraturan wanita tersebut memejamkan matanya. ia terlihat menggemaskan, pertempuran yang Nada da Ervan lakukan ternyata cukup menguras tenaga.
"Tidurlah dikamar, Anna menunggu." titah Ervan yang tidak kalah kelelahan.
Tidak ada tanggapan dari wanita tersebut. kemudian Ervan kembali mendekatkan wajahnya dan menyeka keringat yang menetes didahi sang istri. Cup... Ervan mendaratkan kecupan singkat dibibir Nada, ia membantu Nada merapikan kembali pakaiannya, "Jika kau tidak sanggup berjalan aku akan menggendongmu."
Dengan keadaan mata terpejam, Nada menyunggingkan senyumnya. ia mengangguk pasrah kemudian langsung melingkarkan tangannya diatas bahu Ervan.
"Sejak kapak kau menjadi sangat berani?" tanya Ervan memiringkan senyum.
Nada membuka perlahan matanya, ia mengelus wajah Ervan kemudian menjawab. "Sejak aku menerimamu menjadi suamiku."
Ervan terpaku, ia tidak menggubris ucapan Nada dan hanya memandang sorot mata wanita tersebut dengan begitu intens.
"Meskipun aku ini pembunuh?"
Mata Nada mengembun, "Meskipun pernihakan kita hanya terjalin karna terpaksa."
"Apa kelak kau akan menyesal?"
"Entah, aku hanya mengikuti apa kata hatiku."
Ervan mendalamkan lipatan didahinya, "Apa maksdmu?"
"Aku mencintaimu." tegas Nada.
__ADS_1
Pernyatan sang istri cukup membuat Ervan terkejut. bawasannya Nada sendirilah yang pernah mengatakan jika Ervan adalah pria baji*ngan.
"Kau menjilat ludahmu sendiri." ucap Ervan datar.
Nada memiringkan senyumnya, "Dalam hal ini mungkin aku hanya bisa menyalahkan keadaan. aku terbiasa hidup dengamu lalu pada akhirnya aku sendiri yang terjebak."
"Apa kau mencintai pria sepertiku."
Nada mengangguk dengan begitu santai.
"Aku penjahat?"
"Bukan masalah."
"Selama kau bisa berubah."
Ervan tersenyum tipis, ia memberikan ponsel sang istri kemudian berkata. "Pergilah kemar," seru Ervan.
Nada mengerutkan dahinya dengan tatapan heran. Apa ini? kenapa Ervan menyudahi pembicaraan itu begitu saja, apa itu artinya perasaan Nada tidak terbalaskan?
"Kau bercanda?" ucap Nada dengan eaut wajah bingung.
"Anna sudah menunggumu, pergilah."
"Tapi..."
__ADS_1
Ervan mendorong perlahan sang istri menuju pintu keluar ruangan tersebut.
"Apa itu artinya kau menolakku?"
Ervan menyentuh wajah Nada perlahan. "Apalah arti penolakan? kenyataannya kita sudah hidup bersama."
"Tapi jika kau tidak memiliki perasaan terhadapku..."
"Usssttt..." Ervan meletakan telunjuknya diatas bibir Nada, "Temani anakku, jadilah istri yang patuh."
Nada terdiam, apa masalahnya? ia hanya ingin mendengar jawaban Ya, atau Tidak. padahal Nada sudah sangat percaya diri mengutarakan perasaannya, akan tetapi Ervan malah menggantungnya layaknya jemuran.
Didalam ruangan Ervan memijat pelipinya, cukup lega setelah sekian lama ia menahan hasratnya. akhirnya semua itu bisa tersalurkan berkat Nada yang berinisiatif.
Ervan terus memikirkan pernyataan Nada yang mengataka jika wanita tersebut mencintainya. apa yang istimewa dari Ervan? Ervan menyadari jika dirinya adalah penjahat. tapi kenapa Nada malah mencintainya? Ervan bahkan sudah memperkosa dan menyiksa wanita tersebut. tetapi Nada masih memilili nyali untuk jatuh cinta pada Ervan.
"Apa aku pantas?" gumam Ervan.
Ia sendiri tidak mengerti, dan bahkan tidak pernah terpikirkan jika pernikahan ini akan berlangsung pada titik sekarang. Ervan pernah berpikir jika dirinya akan meninggalkan Nada, tapi hal itu tidak pernah bisa ia lakukan. Nada sudah merubah Ervan secara keseluruhan. ditambah buah hati yang telah Nada lahirkan, Ervan semakin ingin mengubur masa lalunya.
"Cinta? aku bahkan tidak ingat kapan terakhir aku jatuh cinta."
Ervan melirik kesegelas cangkir kopi yang Nada siapkan, pria itu meraih kopi tersebut dan menyeruputnya. "Sebenarnya ia adalah istri yang baik, tidak hanya cantik. ia cukup cekatan."
Ervan berpikir keras, lantas apa lagi yang ia inginkan? istri cantik cekatan dan juga pintar. Ervan ternyata cukup beruntung dalam hal ini.
__ADS_1