
Nada tersenyum saat melihat kegugupan Ervan. wanita yang sedang membawa bayi dalam gendongannya tersebut langsung menggenggam tangan Ervan kemudian berkata. "Aku percaya padamu!"
Ervan mengangguk, keduanya melangkah mendekati pintu besar kediaman Kelvin. pria jangkung tersebut mulai mengetuk dan menekan bell. sungguh ada rasa yang tidak karuan menghampiri Ervan, tiba-tiba saja nyalinya menciut. padahal sebelumnya Ervan sudah berjanji jika ia benar-benar akan berubah dan akan mengajak Kelvin untuk berdamai.
Syafira membuka pintu, matanya membulat dengan mulut menganga saat melihat Nada dan Ervan tepat berada dihadapannya. "Ka... kalian?"
Ditempat lain, Kelvin terus berteriak memanggil nama Syafira karna ia kesulitan menemukan dasinya. Kelvin sendiri heran, kenapa hari ini sang istri tidak menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan seperti biasa. sungguh menurut Kelvin ini sedikit merepotkan, karna ia sendiri sudah terbiasa dengan semua hal yang Syafira lakukan padanya.
"Fira..." pekik Kelvin.
Tok... tok... Kelvin melirik kedaun pintu, ia mengerutkan dahinya, "Kenapa harus mengetuk pintu masuk kekamar sendiri." gumam pria tersebut.
Tok... tokk... Kelvin mulai kesal, ia menghela nafasnya dengan kasar. "Fira cepatlah masuk! jangan membuang waktuku." tegas Kelvin dengan suara memekik.
Pintu pun terdorong dengan perlahan.
"Ini dasimu."
Kelvin yang sedang sibuk mengacak lemari besarnya pun terkejut, ia langsung memalingkan tubuhnya dengan mata yang membulat. "Kau..."
Ervan tersenyum kikuk, sedangkan Kelvin langsung menghantam Ervan hingga oria itu terdorong ketembok dan mengunci pergerakannya. "Untuk apa kau datang? apa yang akan kau lakukan kali ini." tegas Kelvin dengan rahang mengeras dan mata berapi-api.
Ervan memiringkan senyumnya, ia mendorong Kelvin agar pria yang mencengkram kerahnya itupun melepaskannya. "Tidak perlu berteriak," sejenak Ervan merapikan kembali pakaiannya. "Aku datang dengan maksud dan tujuan baik."
Kelvin masih menatap Ervan dengan tatapan kejam dan mematikan, tentu ia tidak akan begitu saja mempercayai ucapan adiknya tersebut.
__ADS_1
"Aku dibutakan oleh kebencian, maafkan aku." ucap Ervan dingin.
Seluruh tubuh Kelvin yang menegang pun melemah, ia masih terdiam dengan sejuta keheranan di dalam pikirannya.
"Tanpa berpikir jika kau juga kehilangan ibumu karna, Papa." Ervan tertunduk, "Aku sedikit gugup, kau adalah kakakku. mungkin ini memang hal pertama kita tidak saling meluapkan emosi saat berbicara, maaf!"
Kelvin menelan salivanya, ia juga tiba-tiba merasakan hal yang sama setelah mendengar pernyataan Ervan. dan tidak seharusnya seorang adik dan kakak berbicara seformal ini, seperti orang asing. "Ba... bagaimana aku bisa mempercayai ucapanmu?"
"Kau tidak perlu percaya padaku, sekali lagi maafkan aku." sahut Ervan dingin. kemudian menarik gagang pintu dan pergi berlalu dari hadapan Kelvin.
Karna masih merasa ragu, dengan cepat Kelvin mengekor dibelakang Ervan. ia tentu takut terjadi sesuatu pada anak dan istrinya, dan bisa saja hal yang Ervan ucapkan hanyalah omong kosong.
"Papa..." Alvin berlari menghampiri Kelvin.
Sungguh kebingungan Kelvin semakin bertambah saat melihat Nada dan sang istri sedang menggendong bayi.
Cukup membuatnya terpelohok, Kelvin tidak berkutik ia langsung melirik kearah Ervan yang juga masih terlihat kikuk. "Apa ini?" tanya Kelvin dingin.
"Keluargaku!"
"Kalian menikah?"
"Ya!"
"Bagaimana caranya?"
__ADS_1
Ervan memalingkan wajahnya dengan dahi yang mengerut. "Apa makasudmu?"
"Kau serius dengan ucapanmu?" tanya Kelvin.
Ervan mengangguk dengan wajah datar, "Jika itu memungkinkan. tolong maafkan aku."
Syafira dan Nada menguping, sungguh mereka sendiri sangat penasaran. pembicaraan suami mereka terlihat seperti seseorang yang baru saja saling mengenal.
"Aku... aku juga, ma... maaf." ucap Kelvin gugup.
Ervan terpaku, ia sendiri kebingungan menghadapi situasi asing seperti ini. "A... apa sekarang aku adalah adikmu?" sahut Ervan terbata.
"Te... tentu."
Sejenak keduanya terdiam, dan hanya saling menatap mata. "Kita adalah keluarga." ucap Ervan dan Kelvin secara berbarengan kemudian mereka saling memeluk.
Pemandangan langka, Syafira dan Nada terharu. karna kesalah Tuan Syekar mereka terus saja saling mengalahkan dan menjatuhkan. selama itu Kelvin dan Ervan saling menyimpan dendam dengan alasan kematian ibunya. hubungan antara Kakak dan Adik terlihat sangat asing.
Entah sampai kapan mereka aksn terus saling membenci, jika hari ini tidak terjadi. Beruntung ego Ervan bisa diluluhkan oleh Nada. begitupun juga Kelvin, ia melihat ketulusan dimata Ervan. meskipun tidak sedikit masalah yang Ervan buat dengan lapang dada Kelvin memaafkannya.
~~
**ENDING...
TERIMA KASIH SUDAH SETIA MENGIKUTI CERITA INI, MAAF JIKA ADA KEKURANGAN DAN BAGIAN-BAGIAN YANG TIDAK MEMUASKAN.
__ADS_1
TULIS KESAN KALIAN DI KOLOM KOMENTAR. JIKA ADA PERTANYAAN MONGGO, BAKALAN AKU JAWAB DI PART QNA.
UNTUK KELANJUTANNYA MUNGKIN BAKALAN AKU TAMBAHIN BEBERAPA CHAPTER BONUS DI NEXT TIME**.