
Nada menghembuskan nafas lega saat dirinya sudah berlari menjaudh dari Syafira. "Untung Nyonya tidak menyadarinya." ucap Nada, ia langsung menginjak pedal gas mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Terlibat antara masalah perang sodara, sudah terlanjur! Entah sampai kapan semua ini berakhir."
Ngiekkkk...
Dengan mendadak Nada menginjak pedal rem mobil yang sedang ia kendarai, karna tiba-tiba saja mobil itu dihadang oleh seseorang.
Dukkk...
Suara benturan kepala Nada saat mengenai kemudi mobil. "Ada apa lagi ini?" Nada menegaskan tatapannya kearah mobil yang tepat berhenti di depannya. terlihat sesosok pria bertopeng yang tidak di kenal dengan setelan formal menghampirinya. Pria tersebut langsung memasuki mobil Nada.
"Si-siapa kau?" tanya gadis itu dengan suara bergetar.
Sreakk...
Pria tersebut tidak menggubrisnya, ia langsung mengambil tas milik Nada dan mengambil kameranya.
"Hey, itu milikku! kembalikan." Nada mencoba merebutnya, akan tetapi pria itu langsung mendorong tubuh Nada dan mencengkram lehernya dengan sangat kuat.
"Uhukkk... lepaskan aku." Nada mencoba melepaskan tangan yang telah mencekiknya, ia bahkan sudah sangat kesulitan untuk bernafas dan mulutnya terbuka dengan lidah yang keluar.
__ADS_1
Dukkk... ia menendang area sensitif pria itu hingga pria tersebut melepaskan cengkramannya dari Nada.
"Kembalikan!" pekik Nada.
Bruakk... kamera itu terlempar dan dengan cepat pria tersebut menginjaknya.
"Hohh, Astaga kamera ku."
Pria itu menatap Nada dengan tatapan kejam, ia bahkan mengeluarkan dompet dan melemparkan sejumlah uang tersebut kepadanya. "Untuk harga kameramu!" ucap Pria itu kemudian berlalu begitu saja dengan amat santai.
"Hey tungguuuu..."
"Atau jangan-janga itu Ervan." Nada menggigit ujung kukunya dan terus memikirkan siapa sebenarnya pria yang hampir saja melenyapkannya barusan.
***
"Tidak mungkin!" Pekik Kelvin dengan rahang yang mengeras saat mendengar pernyataan dari Nada.
Nada tersentak, setiap kali berhadapan dengan Kelvin, pria garang itu selalu berhasil membuat Nada jantungan. "S-sumpah, wajah anak itu sangat mirip dengan Tuan, mata hidung dan bahkan letak tahi lalat di wajahnya sama persis dengan Tuan."
__ADS_1
Kelvin mendengus kesal, ia mengepalkan tangan dan berkata, "Cepat atau lambat Syafira akan mati. dan anak itu harus berada di tanganku."
"Tuan apa Nyonya akan mati?" tanya Nada.
"Tentu saja, jika ia terus saja seperti ini, ia sendiri yang menantang maut."
Glekk...
Nada menelan salivanya, baru kali ini ia melohat seorang suami yang begitu santai mengatakan jika istrinya akan segera mati. semenjak ia memutuskan untuk menjadi sekertarisnya. sudah biasa bagi Nada jika mendengar ucapan-ucapan Kelvin yang begitu mudahnya mengklaim nyawa seseorang layaknya seperti tuhan. ia seperti terjun di dunia hitam, layaknya seorang mafia, membunuh dan menyiksa seseorang adalah hal yang biasa Nada temui.
"Berhati-hatilah saat memata-matai Syafira, aku khawatir jika dia melihat dan mengenalimu." ucap Kelvin.
"Bagaimana dengan perusahaan?" tanya Nada.
Kelvin menghela nafasnya, hal yang paling membosankan ketika mengingat jika perusahaannya sekarang berada di ujung kebangkrutan. "Kita urus masalah perusahaan terlebih dahulu, setelah itu baru memikirkan cara untuk mengambil anak itu."
"Tapi Nyonya Syafira tidak mu..."
"Apa kau masih berpikir Syafira akan tetap berumur panjang setelah hal ini? percayalah jika itu terjadi hidupnya pasti akan berakhir di rumah sakit jiwa dengan trauma yang mendalam." Tegas Kelvin memotong ucapan Nada, hingga lagi-lagi dirinya berhasil membuat gadis itu tersentak.
__ADS_1
LIKE KOMEN DAN VOTEðŸ˜