
Ramein dong guysss... judulnya sesuai sama yg di atas yaa...
"Ibu tahu? Alana benar-benar sudah dipelihara oleh pria kaya. bahkan gosip yang menpa mereka itu benar adanya, alu melihat dengan mata kepalaku sendiri. mereka tinggal bersama dan saling berpelukan dengan mesra. Pria itu juga memanggil Alana dengan sebutan sayang!" ucap Monica mengoceh.
Margaret hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, "Alana sudah dewasa. bukan hal yang aneh jika dia dekat dengan seorang pria."
"Tapi ini berbeda, pria itu tampan. aku yakin dari pakaiannya saja terlihat jika dia bukanlah orang yang sembarangan. aku sering melihatnya didalam televisi."
Margaret menghela nafas panjang. "Lalu? jangan mengusik hidup Alana! biarkan dia menjalani hidupnya dengan tenang." ucap Margaret memperingati.
"Aku hanya sedikit meminta bantuannya. jika aku menjual fakta ini ke media, maka aku pun akan beruntung seperti, Alana." sahut Monica dengan niat picik.
"Bodoh, apa yang akan kau lakukan? tidak bisakah kau diam dan membiarkan Alana!"
Monica memiringkan senyum, ia menatap kearah Margaret sinis kemudian berkata. "Kau hanya perduli padanya, tidak bisakah kau diam dan mendukung apa rencana anak kandungmu?" tegas Monica mengintimidasi.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu mengganggu Alana. kau benar-benar jahat, aku menyesal telah melahirkanmu!" pekik Margaret penuh kemarahan.
***
Dua puluh empat jam berlalu. disaat Alana dan Nathan sedang asik bercumbu mesra menikmati setiap sentuhan yang saling mereka berikan. Alana mengerang ia terus meremat dan memeluk tubuh sang suami. untuk sekarang Alana sudah terbakar api gairah yang Nathan kobarkan.
Nathan sangat piawai. hembusan nafasnya yang menyapu kulit Alana sukses membuat wanita itu merinding. Alana menggigit bibir bawahnya, merasakan bagaimana Nathan dan kenakalannya bersatu untuk melumpuhkan sang empu.
Tok... tok... tok...
Aksi Nathan harus terhenti, pria itu memalingkan wajahnya kearah pintu dengan raut wajah kesal. "Siapa?" pekik Nathan bertanya."
Alana tersenyum kegelian melihat ekspresi suaminya. bagi Alana dalam hal apapun Nathan adalah yang terbaik. ketampanannya tidak pernah memudar meski denganraut wajah apapun.
"Bodoh, bagaimana mungkin dia mendengarnya." celetuk Alana.
"Lalu?"
"Lepaskan aku, dan temui orang yang mengetuk pintu sekarang." ucap Alana kemudian mendaratkan ciuman singkat.
__ADS_1
Nathan terpaksa harus menyudahi aktifitas bercintanya. saat mereka sudah saling melepaskan Alana pun langsung menutup tubuh telanjangnya dengan selimut tebal dan bersembunyi dibawah sana.
Dengan hanya mengenakan boxer diatas lutut. Nathan pun membuka pintu kamar perlahan untuk menemui siapa seseorang yang sudah lancang mengganggu kenikmatannya.
"Apa kau gila," umpat Juan setelah Nathan keluar menemuinya.
"Ada apa?" tanya Nathan heran.
Juan mencuri pandangan kedalam kamar, dahinya mengerut saat dua bola matanya melihat Nathan tanpa mengenakan pakaian. bahkan isi kamar sudha sangat berantakan, dan Juan pun mengerti perihal apa yang sedang Nathan lakukan barusan. "Kau tahu? diluar banyak sekali wartawan yang mencarimu dan juga Alana."
"What?" Nathan terkejut dengan raut wajah serius.
Juan mendorong Nathan kedalam, "Cepat bawa pergi Alana. aku akan menghadapi sampah-sampah itu, pergilah sebelum Luna datang!"
Nathan mengangguk. ia langsung kembali menutup pintu kamar tersebut memghampiri Alana untuk memberitahunya.
"Ada apa?" tanya Alana.
"Diluar banyak sekali wartawan. entah bagaimana mereka bisa mengetahuinya, cepat kenakan pakaian. kita harus pergi sebelum Luna datang."
"Tidak ada waktu untuk membahas hal ini, cepat kenakan pakaianmu. kita harus pergi." ucap Nathan tenang, meskipun hatinya sedikit merasakan kecemasan yang sama seperti Alana.
Setelah mereka berdua berpakaian. Nathan menuntun Alana dengan cepat. dari arah depan semua sudah terkepung oleh awak media. Tidak memungkinkan untuk Alana dan Nathan keluar membawa mobil karna pasti usahanya akan sia-sia.
Jalan satu-satunya mereka harus keluar dengan cara berjalan kaki. Alana dan Nathan pun keluar melalui pintu belakang, sialnya diluar bahkan sudah terdengar gemuruh pertanda hujan akan turun. sebagai wartawan tentu itu bukanlah masalah, sebelum hasrat penasaran mereka terpenuhi.
Alana merengek dengan tangan yang menggenggam kuat sang suami. "Kumohon, aku sangat takut. aku tidak ingin karirku hancur." lirih Alana.
"Aku tidak akan melepaskamu. percayalah, anggap saja melindungimu adalah bagian dari kesepakatan kita."
Alana tertegun, sungguh pernyataan Nathan terdengar sangat ringan. dalam sitiuasi seperti ini pun Nathan masih sempat-sempatnya membuat batin dan perasaan Alana tersentuh. Alana berhasil dibuat kagum atas pria yang sekarang terus menuntunnya berjalan melewati gang sempit tersebut.
"Kenapa kau bersi keras melindungiku? kau bisa saja menyerah pada media. itu sama sekali tidak ada pengaruhnya untukmu." tanya Alana dingin.
Nathan menghentikan langkahnya. kucuran hujan sudah mulai menetes dengan sangat deras. Pria jangkung itu memundurkan langkahnya sambil menarik tangan Alana kesebuah teras pertokoan sepi di dalam gang.
__ADS_1
Nathan menatap mata sendu Alana yang sedari tadi tak teralihkan menyorotnya. pria itu menyeka butiran air hujan diwajah Alana kemudian berkata, "Aku tidak mungkin mengkhianatimu. kau sudah menyerahkan apa yang seharusnya kau serahkan padaku. dan ini giliran saatnya aku menepati janjiku."
Mata Alana memanas, detak jantungnya berdebar kencang. ini bukan situasi yang menyedihkan, tetapi Alana merasa tersentuh sampai rasanya ia ingin menangis dan memeluk Nathan. "Ta... tapi kau sudah menepati janjimu, sekarang apa yang aku inginkan sudah kau kabulkan."
"Karna kita masih terikat kontrak!" celetuk Nathan.
"Te... terima kasih," Lirih Alana yang langsung memecah tangisan sambil memeluk tubuh Nathan dengan begitu erat. Alana ingin menangis, entah karna apa alasannya ia sendiri tidak tahu. untuk sekarang ia hanya ingin meluapkan emosinya dipelukan sang empu.
Nathan menelan salivanya. ia memeluk dan mengelus rambut indah Alana penuh kelembutan. melihat istrinya menangis perasaanya pun ikut terenyuh. Nathan merasa dirinya lemah karna matanya pun ikut memanas, karna tidak tega melihat Alana terisak.
"Tenangkan dirimu. aku tidak mungkin meninggalkamu," ucap Nathan dengan suara terendah.
"Aku tidak menyesal karna telah menukar diriku dengan kekayaan kepada orang sepertimu." Alana mendongak matanya berkaca-kaca menatap mata indah milik Nathan, "Berjanjilah. jangan pernah membuatku kecewa." Cup... tak segan setelah meminta untuk tidak dikecewakan, Alana langsung mencium bibir Nathan dengan posisi tubuh yang masih berpelukan.
Entah apa yang ada dalam pikiran keduanya. mereka bahkan dengan santai saling menyatukan bibir yang bisa dikatakan itu adalah tempat umum. meskipun situasinya sangat sepi. Nathan menekan tengkuk Alana, melu*mat dan menghisap bibir istrinya dengan sangat terlatih. begitupun dengan Alana, gaya berciuman Nathan bisa dengan mudah ia pelajari. suhu keduanya meningkat, mereka saling merasakan adanya suatu getaran yang berhasil membuat Alana dan Nathan enggan untuk saling melepaskan.
Sejenak Alana melapaskan dirinya dengan pandangan yang masih tertuju pada wajah tampan sang suami.
"Pakai ini," Nathan melepaskan jasnya, menutup tubuh Alana yang sedikit basah dengan jas tersebut. "Kau pasti kedinginan,"
Senyum kebahagiaan Alana terpancar, tidak hanya kagum. sekarang Alana bahkan merasa tenang dan aman saat pria dihadapannya tersebut bersikap sangat lembut dan juga perhatian. Alana berpikir keras, mungkin saat-saat seperti inilah yang akan ia rindukan jika dirinya Nanti benar-benar berpisah dengan Nathan. saat kontrak itu berakhir. "Jangan terlalu baik, bagaimana jika suatu saat aku tidak bisa lepas darimu? apa kau akan bertanggung jawab."
Nathan hanya tersenyum canggung merasa ucapan Alana hanyalah candaan agar keduanya tidak terus larut dalam keheningan.
"Bagaimana jika itu sebaliknya?" sahut Nathan kembali bertanya.
"Dengan senang hati. aku tidak mungkin meninggalkan pria sebaik dan setampan dirimu," celetuk Alana santai.
Nathan berdecih, "Jika aku tidak memiliki uang?"
Alana memutar bola matanya dengan ekpresi meledek, "Beri aku waktu untuk berpikir."
Nathan terkekeh. wanita ini selalu saja bisa membuatnya terseyum meskipun menurut Nathan, Alana selalu menempatkan candaanya tersebut diwaktu yang tidak tepat.
Padahal dilihat dari jawaban-jawaban yang terus mereka lemparkan, sepertinya Nathan dan Alana terdengar mendalami keseriusan obrolan tersebut. hanya cara pikir merekalah yang berlawanan.
__ADS_1