Syafira

Syafira
Chapter 47


__ADS_3

Di dalam ruangan kamar apartemen, Nada hanya terduduk memeluk kakinya dengan kepala menunduk. kantung matanya bahkan telrihat menghitam dan sedikit membengkak. ia hanya bisa meluapkan kehancurannya sekarang lewat tangisan.


Pada saat yang bersamaan, tepat dilantai dasar apartemen tersebut sudah banyak wartawan mencarinya, guna mendapat dan meminta penjelasan atas apa yang beredar di media tentang dirinya. entah dari mana para wartawan itu mendapat informasi tempat tinggalnya. singkatnya semua media sudah dipenuhi dengan berita simpang siur mengenai foto telanj*ang dirinya. ada yang mengatakan jika gadis itu korban pemerkosaan, ada juga yang mengatakan jika Nada dengan sengaja menjual dirinya pada seorang pria.


Sangat sulit untuk menyerang Ervan sekarang, karna dengan tangannya pria itu bisa dengan mudah membungkam media. terlebih tidak ada gambar dirinya di dalam foto-foto syur tersebut. hal itu cukup memebuat Nada kalang kabut dan hampir setengah defresi di buatnya.


"Cepatlah, sayang. Nada pasti sangat ketakutan sekarang." gerutu Syafira tidak sabaran.


"Ini tidak mudah, Fira. akses kesana sudah ditutup. pihak apartemen memanfaatkan hal ini untuk keuntungannya." sahut Kelvin dengan tangan yang terus memainkan ponsel.


Syafira mendengus kesal, ia tentu sangat khawatir pada gadis yang awalnya ia pikir dia adalah penghancur rumah tangganya bersama Kelvin.


"Lakukan dengan cepat! lindungi dia! jangan sampai media tahu jika Nada keluar dari sana." tegas Kelvin pada seseorang di ponsel.


Dengan tatapan mata yang kosong, Nada melangkahkan kakinya perlahan. hembusan angin yang cukup kencang tidak menggoyahkan dirinya, gadis itu terus melangkah hingga pada akhirnya ia sudah berada di ujung lantai tertinggi gedung apartemen. "Semuanya akan cepat berakhir, aku tidak perlu melibatkan diriku lagi diantara, Kelvin dan Ervan." Gumam Nada dengan tersenyum tipis.


Nada berdiri diatap gedung, lantai 92. ia menatap kebawah dasar yang dibawahnya tepat jalanan ramai. Gadis itu mulai memejamkan matanya, satu kakinya terangkat dengan pasrah setelah dirinya benar-benar memilih untuk mengakhiri hidup.


"Se..."


Bruakk...

__ADS_1


Seseorang memeluknya dari belakang dan menangkapnya.


"Lepaskan aku! biarkan aku mati." pekik Nada lirih.


"Kau akan mati, tetapi tidak sekarang!"


Nada mengenal suara itu, ia mendongak menatap wajahnya. dan benar saja, itu adalah Ervan, seseorang yang hampir membuatnya setengah tidak waras.


"Baji*ngan, kenapa kau terus melibatkan aku!" jerit Nada, gadis itu bersimpuh dibawah kakinya memohon dengan sangat menyedihkan. "Aku tidak akan membantu Kelvin untuk menghancurkanmu, aku mohon lepaskan aku! biarkan aku hidup dengan tenang, Ervan!" pekik Nada histeris, mencengkram kuat tangan pria tersebut.


"Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah, bahkan hidupmu pun tidak akan tenang sebelum kau menuruti apa yang aku inginkan."


Ervan bersimpuh, ia memiringkan senyumnya dan mencengkam kuat wajah gadis itu. "Karna kau sudah membantu Kelvin selama ini, kau bahkan sudah berani meretas sistem keuanganku!" tegas Ervan dengan rahang yang mengeras dan mata melotot.


"Apa yang harus aku lakukan? agar aku melepaskan aku?" tanya Nada dengan suara penuh ketakutan.


"Kau hanya punya satu pilihan! hancurkan Kelvin. atau aku tidak akan perna membiarkanmu hidup dengan tenang, dan nyawamu hanya berada ditanganku!"


"Biarkan aku mati, bunuh aku sekarang aku mohon!"


Ervan terkekeh, meskipun Nada memohon dengan sangat amat, hal itu sama sekali tidak akan ada pengaruhnya untuk Ervan. hati pria itu sudah dipenuhi dengan kegelapan.

__ADS_1


"Baiklah! jika itu yang kau inginkan." sahut Ervan memiringkan senyumnya.


"Kau? kau akan melepaskan aku?"


"Bukankah kau ingin aku membunuhmu?"


Mata Nada membulat, wajahnya datar tanpa ekspresi, tubuhnya seketika bergetar mendengar pernyataan tersebut dari Ervan.


"Kenapa? apa kau takut? kau sendiri yang memintanya padaku."


Nada menelan salivanya, ia benar-benar sangat ketakutan. ingin rasanya gadis itu melarikan diri dari hadapannya sekarang.


"Kau tinggal memilih, membunuhmu dengan satu lemparan. atau aku harus menyiksa dirimu terlebih dahulu, merasakan apa itu yang dinamakan kesakitan lalu pada akhirnya kau akan mati?"


"Kau..." Nada memundurkan tubuhnya perlahan dengan sorot mata yang sama sekali tidak teralihkan memandang Ervan. "Kau kejam! kau monster... kau..."


Bruaggghhh...


Suara pukulan keras yang Ervan daratkan dengan satu kali hantaman.


LIKE KOMEN DAN VOTENYA YANG BANYAK, BAYAR PAKE DUKUNGAN ATUH :') GAPAPA KAN AKU MATRE SEDIKIT? :')

__ADS_1


__ADS_2