
Sekilas mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. Ervan dan Nada bersama hanya karna mereka saling membutuhkan, tidak dengan perasaan. cukup membingungkan, bagaimana mereka berinteraksi? pasangan tersebut terlihat sangatlah formal layaknya pasangan yang baru menjalin kedekatan.
Ervan terus mengecup sang buah hati diatas tempat tidur, sedangkan Nada hanya memperhatikan hal itu disebuah sofa dengan sorot mata tajam.
"Usia Anna baru dua bulan, tapi bayi ini sangatlah aktif." ucap Ervan.
Nada tersenyum tipis, kemudian meraih segelas jus dihadapannya. "Dia sepertimu, aktif dan sedikit agresif."
Ervan memalingkan wajahnya menatap kearah sang istri yang sedang meneguk jus. "Agresif? kapan aku menyentuhmu?"
"Uhuk..." Nada terselak dengan mata yang membulat ia hampir menyemburkan jus didalam mulutnya, "A... apa yang kau katakan?"
"Kau bilang aku agresif, kapan aku menyentuhmu?"
Nada terpaku, selama ini mereka memang tidak pernah melakukan apapun. mungkin bisa dikatakan ciuman adalah hal yang paling intim yang pernah mereka lakukan.
"Eaaaa....." tangisan Anna berhasil memecah keheningan, Ervan kembali mengelus bayi tersebut dengan penuh kelembutan guna menenangkannya.
__ADS_1
"Cup... cup... cup..." Papa disini, jangan menangis.
Melihat hal tersebut Nada beranjak, mensekati Ervan dan Anna kemudian berkata. "Aku belum memberinya asi."
Ervan mengangguk kikuk, ia langsung menjauh dan membelakangi Nada saat sang istri akan memberikan asupan pada bayi kecilnya. menggelikan bukan? mereka adalah sepasang suami dan istri, tapi Nada selalu menolak dan menyuruh Ervan tidak melihat dirinya saat sedang menyusuii Anna.
"Padahal aku pernah melihatnya, bahkan menikmatinya. meskipun secara paksa seharusnya tidak seberlebihan ini." gumam Ervan dalan batinnya.
"Cantik..." ucap Nada sambil membelai wajah putri kecilnya.
Ervan melirik kesisi kirinya, seketika matanya membulat saat pantulan sang istri terlihat disebuab cermin yang memperlihatkan bagaimana wanita tersebut memberikan asi untuk anaknya. sebagai pria normal yang tidak pernah menyentuh sang istri insting kelelakian Ervan melai bekerja. perasaannya menjadi tidak karuan, terlebih gundukan Nada terlihat lebih besar dari apa yang pernah ia lihat.
"Na... Nada." ucap Ervan.
"Ya?"
Ervan menelan salivanya, memberanikan diri untuk memulai percakapan. "Apa kau menganggap aku sebagai suamimu?"
__ADS_1
"Tentu saja,"
"Lantas, apa harus seformal ini? kita se... seperti seorang yang baru saja menjalin kedekatan." ucap Ervan, kemudian memalingkan tubuhnya menatap Nada yang sedari tadi sudah menyelesaikan aktifitasnya.
"Aku mengerti, maafkan aku."
Ervan mengerutkan dahi seolah keheranan mendengar jawaban dari mulut Nada.
"Bersabarlah sedikit, jujur aku sedikit trauma." Nada menyentuh tangan Ervan dan menggenggamnya, "Aku sudah berusaha melupakan semua yang terjadi, tapi itu hal itu rasanya sedikit sulit."
Ervan mengangguk, semua itu murni kesalahannya. jika saja mereka dipertemukan dengan cara yang lebih baik mungking semua ini tidak akan terjadi. "Itu semua salahku."
Nada menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak. aku adalah istrimu, sudah kewajibanku melayanimu dengan baik. tapi aku selalu takut."
Ervan terdiam, ia menatap Nada lekat sambil memajukan wajahnya perlahan. Cup... dengan perlahan Ervan memagut bibir Nada, menggenggam tangan sang istri kuat. Ervan berpikir mungkin sepertinya dirinya harus bertindak selangkah lebih maju, untuk memecah kegugupan didalam rumah tangganya. Ervan mengelus punggung Nada memberikan sentuhan kelembutan agar Nada semakin terbiasa.
Meskipun Nada tidak membalas ciuman tersebut, ia juga tidak menolak. Nada membuka sedikit mulutnya memberikan celah untuk Ervan yang semakin liar memperdalam ciuman tersebut.
__ADS_1
"Bekerja samalah denganku agar semua ini tidak terlalu sulit," Batin Ervan.