
"Hari ini tidak akan ada dokter yang datang, Syafira dan Kelvin terus saja berjaga dibawah. aku yakin mereka pasti sudah curiga." cetus Ervan.
Nada tidak menggubrisnya, sumpah demi apapun semenjak dirinya tinggal bersama Ervan ia memilih tidak banyak bicara karna takut ucapannya akan membuat Ervan melukainya.
"Kenapa kau dia?" tanya Ervan mengerutkan dahi.
"Lalu aku harus apa?" sahut Nada cepat.
"Bagus, lebih baik diam dari pada banyak bicara tapi isinya hanya omong kosong!"
Nada menunduk, ia benar-benar tidak nyaman. seminggu sudah ia tinggal didalam satu ruangan bersama Ervan, dan pria tersebut selalu membatasi gerak gerik Nada.
"Ke... kenapa kau tidak membiarkan Kelvin dan Syafira datang? aku yakin jika kau dan Kelvin saling bicara semua akan baik-baik saja." ucap Nada dengan suara bergetar.
Ervan terkekeh, menurutnya gaya pemikiran Nada sangat dangkal. "Aku tidak pernah takut menghadapi Kelvin! tuntutan di kantor polisi sudah sangat banyak, aku yakin untuk kali ini mereka tidak akan melepaskanku."
"Kau ini kan kaya! kenpaa kau tidak menggunakan uangmu untuk menyuap mereka semua." tegas Nada memekik.
"Apa kau pikir nyawa seseorang bisa di tukar dengan uang, sekertarisku sudah mencobanya! dan mereka menolak, sebelum kau aku sudah memikirkan hal itu!"
"Sudah tau begitu, kenapa masih membunuh." gerutu Nada kesal.
__ADS_1
"Karna aku mengejar anakku."
Disela-sela perdebatan keduanya tiba-tiba Nada merasakan perutnya kembali mual. pusing dan semuanya menjadi satu. "Uwekkk...." Nada langsung berlari menuju kekamar mandi.
"Astaga, wanita hamil benar-benar sangat merepotkan." celetuk Ervan. Merasa tidak tega, pria itu akhirnya memutuskan untuk menghampiri Nada dan memijat punggungnya.
Deru nafas Nada tidak karuan, wajahnya terlihat sangat pucat ia bahkan langsung memalingkan tubuhnya dan mencengkram tangan Ervan karna merasa sangat tidak bertenaga.
"Kau kenapa?" tanya Ervan mengerutkan dahi.
Nada hanya menggeleng, kemudian berkata. "Aku... tolong bantu aku berjalan."
"Tidak." Nada pun membaringkan tubuhnya, matanya mulai terpejam dan sedikit merasa lebih baik, "Ah.... apa yang kau lakukan?" pekik gadis tersebut saat merasa Ervan sedang menggerayangi kakinya.
"Aku hanya memijat kakimu, apa masalahnya?" tanya pria tersebut dengan ekspresi kejamnya.
Bibir Nada mengerucut dan sedikit bergetar, ia berpikir keras. meskipun cara bicara Ervan selalu kasar tapi sungguh, beberapa hari ini ia selalu mempelakukan Nada dengan begigu lembut.
Ervan kembali memijat perlahan kaki jenjang Nada yang nyaris tanpa cacat. sudah lebih dari sepekan keduanya menjadi pasangan suami dan istri, tapi mereka belum melakukan sesuatu hal yang intim sekalipun. "Merasa lebih baik?" tanya Ervan.
Nada mengangguk dan tersenyum tipis.
__ADS_1
Pria jangkung itu ikut terbaring disamping Nada, dan mendekatkan wajahnya kearah perut gadis itu. mengelus dan kemudian berkata, "Masih didalam perut saja kau sudah sangat merepotkan." ucap Ervan pada bayi didalam perut istrinya.
Nada benar-benar sangat menyukai Ervan ketika pria itu bersikap demikian, siapa sangka pria bringas, kejam dan tidak punya perasaan seperti Ervan bisa melakukan hal itu pada calon bayi yang masih didalam perut Nada. menggerutu layaknya suami yang sedang memanjakan istri.
"Perutku masih terlihat rata, apa kau pikir bayi itu sudah bisa mendengar suaramu?" ucap Nada dengan sorot mata yang terus menatap Ervan.
"Tidak ada salahnya mencoba." sahut Ervan datar. Menyadari jika Nada terus memperhatikannya, Ervan pun merasa sedikit gelisah. dalam batinnya ia berujar. "Kenapa wanita ini terus menatapku?"
"Aku lebih suka saat kau memperlakukanku dengan lembut, meskipun kau melakukannya hanya demi bayi didalam perutku."
Ervan beranjak, ia terduduk disamping Nada dan menatap lekat sorot mata gadis itu. "Kau tahu itu, aku hanya mengikuti apa yang sekertarisku katakan. wanita hamil harus diperlakukan dengan lembut."
"Tapi aku menyukainya, aku selalu takut jika berada didekatmu. tetapi setelah kau semakin memperlakukan dengan lembut hal itu membuatku merasa nyaman."
Ervan mematung, entah mengapa ucapan Nada yang ia pikir itu hanyalah omong kosong sukses membuat jantungnya berdebar tidak karuan. "Kalau begitu aku akan berusaha lebih baik lagi." sahut Ervan
Nada menganggukan kepalanya dengan cepat, dan tidak mengalihkan pandangannya sama sekali.
Ervan mendekatkan wajahnya perlahan kearah Nada, keduanya bahkan dapat merasakan hembusan nafas yang saling beradu. sejenak Ervan menelan salivanya, sebagai penerimaan Nada memejamkan matanya, kemudian Ervan langsung mengecup perlahan bibir Nada dengan penuh kelembutan. Cukup memakan durasi, Ervan terus menyecap dan menggigit bibir tersebut. lidahnya terus menerobos masuk kedalam rongga mulut hingga kini lidah keduanya sudah saling bertemu.
Luma*tan Ervan yang terasa sangat nikmat sukses membuat Nada kehilangan kendalinya, tanpa ia sadari ia terus merespon hal-hal yang Ervan lakukan. bahkan sejenak Nada bisa melupakan perlakuan kasar Ervan saat api gairah berhasil menyambar dirinya sekarang.
__ADS_1