Syafira

Syafira
Episode 56


__ADS_3

Nada memandang pria yang telah terlelap disampingnya, sampai saat ini ia masih belum percaya. dalam waktu singkat dirinya sudah menjadi istri dari seorang pria yang sangat ia benci.


Ervan membuka matanya, dan menangkap basah sepasang mata yang sedang memperhatikannya. "Apa yang kau lihat." tegasnya garang pada Nada.


Hal itu cukup membuat Nada tersentak, matanya membulat dan Nada langsung memalingkan wajahnya tanpa mengatakan apapun.


Ervan beranjak, dengan susah payah ia mencoba terlelap. malam pertama setelah diriya dan Nada menanda tangani selembaran surat pernikahan kontrak membuat Ervan kesulitan untuk tidur dengan nyenyak. entah ini karna suasana ruangan yang baru ia tempati, atau status barunya yang sekarang sudah menjadi seorang suami.


Mereka tidak saling bicara, hanya saling menatap sinis dengan satu sama lain dengan batin yang tidak saling menginginkan.


Pria jangkung itu membuka tirai, ia melihat pemandangan kota pada waktu malam yang sangat terlihat indah dengan angin yang bertiup menyapa kulitnya, seakan menambah kesan romantis bagi sepasang insan yang baru saja menikah, kecuali Nada dan Ervan.


Ervan menyalakan pemantik rokok, kemudian membuang asapnya keudara. sambil menjernihkan pikirannya dan mengingat semua yang pernah ia lakukan. umpatan sang istri benar-benar terus menghantui otaknya, umpatan yang mengatakan jika Ervan hanyalah seseorang yang kejam, pembunuh, penjahat yang tidak memiliki perasaan.


Prankk... terdengar suara benda terjatuh yang berhasil membuat Ervan terkejut.


"Ahhhh..." Nada meringis kesakitan, saat serpihan gelas yang tidak sengaja ia jatuhkan mengenai tangannya.


"Apa yang kau lakukan dasar bodoh!" ucap Ervan, kemudian langsung menarik tangan gadis itu dan melihat lukanya dengan penuh kehati-hatian.


"Aku... aku... aku tidak sengaja menjatuhkannya." sahut Nada gugup.

__ADS_1


Ervan langsung mendudukan Nada diatas ranjang, ia bahkan mengambil alih membersihkan pecahan gelas tersebut. hingga membuat Nada keheranan.


"Dimana kotak obatnya?" tanya Ervan dingin setelah membersihkan pecahan gelas.


Nada memandang Ervan dengan tatapan sendu, tangannya menunjuk kesuatu arah tepatnya nakas yang menyimpan kotak obat dan alat lainnya.


Dengan santainya Ervan meraih tangan Nada, membalut luka tersebut dengan penuh perhatian. bisa dikatakan ini adalah kali pertama pria itu bersikap lembut pada Nada.


"Berapa usia kandunganmu?" tanya Ervan mencoba memecah keheningan.


Nada hanya menggeleng, dan masih enggan untuk bersuara.


"A... aku belum sempat mendatangi seorang dokter." sahut gadis itu dengan menundukan wajahnya.


Ervan menghela nafasnya dengan kasar, dan sejenak memandangi perut Nada yang masih terlihat rata. "Aku akan meminta seseorang untuk mengirimkan dokter kesini."


Nada hanya mengangguk pasrah, karna jika menolak ia sendiri takut dan khawatir jika Ervan akan berbuat kasar lagi padanya.


Setelah selesai membalut luka sang istri, Ervan mengarahkan tangannya mencoba menyentuh perut Nada.


"Apa yang kau lakukan?" tanya gadis itu terkejut, saat tangan Ervan menempel diperutnya.

__ADS_1


"Aku adalah ayah bayi itu, kenapa aku tidak boleh menyentuhnya." tegas Ervan meninggikan suaranya yang langsung membuat Nada kembali ketakutan.


Nada menelan salivanya, bibirnya bergetar ia kembali tertunduk dan membiarkan tangan Ervan mengelus perut ratanya.


"Kau ingat kapan kita melakukannya?"


Mata Nada membulat, ia langsung mendongakan wajahnya menatap Ervan. "Kenapa kau bertanya hal itu padaku?"


"Tidak, ini sepertinya belum lama. mungkin saja usianya masih 3 sampai 5 mingguan." celetuk Ervan dengan tangan yang masih berada di bagian perut Nada.


Gadis itu benar-benar merasa canggung, ia seamakin tidak nyaman saat tangan Ervan terus mengelus perutnya. mau bagaimana lagi? ingin menghentikan hal tersebut ia takut Ervan akan memukulnya lagi. Nada hanya bisa pasrah dengan perasaannya yang semakin tidak karuan.


"Aku... aku ingin minum. bisa kau menghentikan hal ini sekarang?" tanya Nada terbata.


"Tentu." sahut Ervan menarik tangannya, beranjak dan kemudian berlalu.


Nada menghela nafasnya lega, ia pun beranjak untuk mengambil air dan saat ia memalingkan tubuh ternyata Ervan sudah kembali menghampirinya, membawakan segelas air untuknya. "Astaga, apa dia benar-benar Ervan?" gumam Nada dalam batinnya.


"Kau sangat sering melamun? cepatlah, tadi kau mengatakan kau ingin minum." ucap pria tersebut membuyarkan lamunannya.


Memang Nada ingin minum, tapi ia sendiri tidak menyangka jika Ervan berinisiatif mengambilkannya segelas air. ia langsung mengambil segelas air tersebut dari tangan Ervan, kemudian meneguknya dengan sorot mata yang terus menatap pria yang sedang membalas tatapannya juga hingga tetesan terakhir.

__ADS_1


__ADS_2