Syafira

Syafira
Chapter 59


__ADS_3

Rasa takut cemas terus menghantui Nada setiap harinya. dan untuk kali ini Nada benar-benar merasa dirinya sangat lemah, Prankkk... wanita itu bahkan menjatuhkan gelas di tangannya. ia merasa ada sesuatu yang mengalir dikaki jenjangnya.


"I.. ini apa?" tanya Nada heran.


Nada memang sama sekali tidak mengerti apapun tentang kehamilan, sebenarnya dari kemarin ia sudah merasakan gejala-gejala bawha dirinya akan melahirkan. Namun hal itu Nad abaikan karna ia pikir hanya sakit perut biasa.


"Ahsshhh..." Nada meringis merasakan sakit dibagian perutnya, "Ervan..." pekik Nada.


Tidak ada gubrisan, entah dimana pria jangkung itu berada.


"Ervann, Ahhh..." Nada menjerit saat perutnya terasa semakin sakit.


Ervan yang baru saja datang pun terkejut, ia langsung mematikan ujung rokonya dan dengan sigap langsung menghapiri Nada. "Apa? apa yang terjadi?" tanya Ervan cemas.


"Perutku, ini sakit sekali." pekik Nada mencengkram kuat tangan Ervan.


Tidak butuh waktu lama, Ervan langsung mengambil topi untuk menutupi wajahnya. ia langsung membawa wanita tersebut kerumah sakit tanpa memikirkan apapun. Sepanjang jalan perjalanan Nada terus menangis, ia memegang tangan Ervan dengan begitu kuat. entah apa yang dirasakannya, tapi sepertinya bukan hanya pengaruh sakit diperutnya, melainkan takut jika setelah ini semuanya akan berakhir begitu saja.


Setibanya mereka dirumah sakit, Nada langsung dibawa oleh dokter untuk ditangani. sementara Ervan yang kebingungan hanya bisa mengintip sang istri dari balik pintu ruangan tersebut. Dokter heran dengan sikap Nada, wanita itu hanya menangis saat dokter menyuruhnya untuk mengejan.


"Panggilkan suaminya." titah dokter pada perawat yang membantu.


"Tidak, jika dia lahir pasti Ervan akan meninggalkan aku dan membawa bayi ini." batin Nada terisak.


Dokter mengamati wajah pucat Nada kemudian berkata, "Nyonya, apa kau tidak memiliki tenaga untuk mendorong bayinya keluar?" tanya Dokter.

__ADS_1


Namun tetap saja, Nada tidak menggubris dan hanya terus menangis. tibalah Ervan datang ia menatap lekat ketidak berdayaan Nada dan langsung menggenggam tangannya.


"Kau kuat, kau pasti bisa." ucap Ervan memberikan semangat.


Namun masalahnya bukan terletak disana, Nada bisa saja menuruti semua perintah Dokter. tapi ia takut jika setelah ini Ervan akan pergi membawa kabur bayinya.


"Ja... jangan pergi." ucap Nada lirih, ia bahkan langsung mengeratkan tangannya pada Ervan.


Ervan tersenyum tipis, ia menghapus air mata yang terus mengalir diwajah Nada dan mengecup pucuk kepalanya. "Aku disini, aku tidak akan pergi."


"Jangan tinggalkan aku, ja... jangan bawa pergi bayi kit..."


Belum sempat Nada menyelesaikan ucapannya, kesadaran gadis itu melemah. dan tidak memungkinkan menunggu Nada tersadar untuk mengeluarkan bayinya.


"Kesadarannya melemah, kita harus melakukan tindakan oprasi. nyawa bayinya akan terancam jika ini ditunda sampai pasien sadar." ucap Dokter.


Tindakan demi tindakan dokter lakukan, proses oprasi sudah disetujui oleh Ervan. pria itu terduduk cemas ditemani orang kepercayaannya, seorang pria paruh baya yang selama ini mengurus bisnisnya saat Ervan bersembunyi.


"Tenang, aku pernah berada di posisimu saat istriku melahirkan anak pertama kami." ucap Pak Leng.


Ervan menghela nafas kasar, ia mendongak kemudian berkata. "Apa rasanya secemas ini? takut?"


"Tentu saja, kau sedang mengkhawatirkan istrimu, dan juga keselamatan bayimu."


Ervan terdiam, kegelisahan ini benar-benar menyiksanya. "Seharusnya aku bahagia, karna bayiku akan segera lahir. dan setelah ini Nada akan terbebas dariku, ia tidak akan tertekan lagi hidup bersamaku." batin Ervan.

__ADS_1


"Kau sudah menyiapkan segalanya?" tanya Ervan pada Pak Leng.


Pak Leng mengangguk dengan raut wajah datar, "Aku pikir kita harus membicarakan ini pada Nyonya terlebih dahulu."


Ervan tidak menggubrisnya, ia hanya memainkan ponsel milik Nada dan mengirimkan beberapa gambar dirinya bersama wanita tersebut saat keduanya mengabadikan moment kebersamaannya.


Beberapa waktu yang terlewat...


Ervan terus memotret Nada hingga membuat wanita itu sedikit jengkel.


"Apa yang kau lakukan? berhenti memotretku." pekik Nada kesal.


Ervan terkekeh, melihat hasilnya. "Percayalah, meskipun begini kau masih terlihat cantik."


Nada langsung merebut ponsel Ervan dan melihat sendiri hasil jepretan pria tersebut. "Apa? begini cantik? untuk apa kau memotretku sebanyak ini?" gerutu Nada.


"Untuk ku perlihatkan pada anakku nanti, jika dia bertanya aku akan memberikan foto-foto ini padanya." sahut Ervan santai.


Deg... kesedihan kembali menghampiri Nada, batinya serasa disayat. Namun begitu ia tetap terlihat tenang seolah tidak terjadi apapun, "Oke baiklah, sini..." Nada mengarahkan kamera ponsel tersebut kewajahnya dan wakah Ervan.


"Kau gila, aku tidak suka mengambil gambarku sendiri." tolak Ervan yang enggan dipotret.


"Kau bisa mengatakan pada anak kita, jika kita pernah sedekat ini." sahut Nada tersenyum simpul, sejujurnya ia sedang berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


Ervan menghela nafas, ia pun mengiyakan ajakan Nada dan mengambil beberapa potret dirinya dengan wanita tersebut.

__ADS_1


LIKE KOMEN DAN VOTE KECEPATAN UP TERGANTUNG ANTUSIASME KALIAN


__ADS_2