
Holla... aku numpang lewat mau promo, baca yu cerita aku yg lain. Judulnya Ada di atas yaa...
Gak kalah seru sama yang lain, pasti kalian dibuat campur aduk sama pasangan batu yang ada dalam ceritaku yang ini.
***
Sudah menunjukan pukul sembilan malam, Nathan yang saat itu baru saja tiba dirumah pun langsung bergegas masuk. selalu mengabaikan Alana, bukan berarti pria tersebut sudah tidak memperdulikan istrinya. setiap saatnya Nathan selalu merindukan Alana, merasa cemas dan khawatir akan kondisi kehamilannya.
Pintu utama mulai terdorong, Nathan memperdalam langkahnya setelah kembali menutup pintu besar istananya perlahan. matanya menangkap sesosok wanita yang sangat ia rindukan sedang terbaring diaras sofa. Alana terlihat cantik, meskipun dalam keadaan tertidur. Nathan yang merasa tak tega pun mendekatkan dirinya pada sang istri, pria itu langsung meraih tangan Alana, mengecupnya dengan penuh kehati-hatian.
"Maaf jika akhir-akhir ini aku terlalu keras padamu," batin Nathan menatap lekat wajah cantik istrinya. puas memandangi kecantikan istri yang sedang tertidur nyenyak, Nathan pun berinisiatif untuk memindahkan Alana kekamar.
Pesona Alana selalu saja sukses membuat Nathan bisa meredam rasa lelahnya. kepolosan Alana saat tertidur sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang selalu menyebalkan saat wanita tersebut terus berusaha membenarkan kesalahannya.
"Tuan, sepertinya Nyonya kelelahan menangis. dia juga menolak untuk makan." ucap pelayan dengan suara terendah.
Nathan hanya menganggukkan kepala, seolah memberikan isyarat agar suara dirinya dan pelayan tindak membangunkan Alana.
"Nathan..." Dalam keadaan terpejam, Alana mulai membuka suara.
Nathan yang saat itu sudah meletakan Alana diatas ranjangpun tidak menanggapinya, dan mengklaim jika sang istri sedang dalam keadan mengiggau.
__ADS_1
"Dasar bodoh," umpat Nathan tersenyum tipis sambil mengacak halus rambut Alana.
Alana meloloskan air matanya, tidurnya terlihat gelisah, "Maafkan aku." lirih Alana bergumam tidak sadar.
Tak tega melihat keadaan Alana yang demikian, Nathan pun mengelus wajah Alana lalu menghapus air matanya perlahan. "Tenanglah, Aku disini."
Tangan Alana meraih tangan Nathan, wanita tersebut perlahan membuka matanya kemudian langsung menarik dan memeluk Nathan dengan begitu erat. "Jangan diamkan aku lagi, aku mohon." Alana langsung memecah tangisannya, ia sungguh telah menyesali perbuatannya.
"Tenangkan dirimu, aku disini." Nathan mengelus dan membalas pelukan Alana penuh perhatian. tak ingin masalah terus berlarut, pria itupun akhirnya luluh karna tak kuasa melihat kesedihan istrinya.
"Jangan marah lagi, aku menyesal. tolong maafkan aku," lirih Alana memohon.
Nathan tersenyum tipis, ia menghapus air mata Alana kemudian mengecup pucuk kepalanya singkat. "Jangan pernah lakukan itu lagi, jika kau mencintaiku."
Cup, Nathan langsung merengkeh bibir Alana melu*mat, menumpahkan kerinduan yang tengah keduannya rasakan. mereka memang terlihat menginginkan sentuhan satu sama lain, Alana dan Nathan saling memperdalam ciuman dengan posisi tubuh yang menempel.
Insting kelelakian Nathan mulai bekerja, tangannya menyusup kebalik dress yang Alana kenakan. pria itu mengelus dan membelai tubuh istrinya dengan penuh hasrat, jujur kali ini ia tak bisa menahan kemole*kan tubuh Alana yang semakin sexy dan sedikit berisi. setiap jengkal kulit Alana sudah Nathan sapu bersih menggunakan lidahnya, seketika aksinya terhenti saat menyadari jika Alana sedang hamil.
"Tidak," Nathan berdecak, ia langsung menciptakan jarak dengan Alana mencoba menahan hasratnya.
"Aku tidak masalah," ucap Alana santai sambil mengelus punggung telanjang Nathan.
__ADS_1
"Aku takut hal ini akan menyakiti anakku,"
Alana tersenyum nanar, Nathan memang terlihat sangat menyayangi calon anaknya tersebut. semua sudah bisa Alana rasakan, menyadari sikap tegas dan khekhawatiran sang suami yang kadang menurutnya sedikit berlebihan.
"Lakukan dengan perlahan," bujuk Alana meyakinkan.
Bukan hanya rindu yang Alana rasakan, ia sepertinya tak tega melihat Nathan harus menahan gairahnya.
"Aku akan membersihkan diriku," ucap Nathan beranjak.
Alana menarik tangan Nathan, mencegah seolah tidak ingin suaminya meninggalkan dirinya begitu saja. "Ayo lakukan," ucap Alana kemudian.
"Tapi..."
"Kita bisa melakukannya perlahan, gunakan naluri kelembutanmu." Alana mencoba meyakinkan suaminya, wanita itu bahkan berinisiatif. Alana mendekati Nathan dan langsung duduk dipangkuannya, "Aku juga merindukanmu." ucap Alana, kemudian langsung merengkuh bibir Nathan perlahan.
Tak bisa dipungkiri, meskipun Nathan memberanikan diri untuk melakukannya tetapi rasa takut itu jauh lebih dominan. ia benar-benar menyayangi bayi kecil didalam perut Alana, sampai permainan tersebut harus Alana yang mendominasi.
"Kau terlihat tidak menikmatinya, kenapa?" tanya Alana heran.
"Aku tak ingin anakku kesakitan," sahut Nathan spontan.
__ADS_1
Alana terkekeh. mungkin sikap Nathan sekarang terdengar menggelikan, namun hal itu menjadi poin khusus untuk Alana. jika suaminya benar-benar sesosok pria yang penyayang.
BACA SELENGKAPNYA DISEBELAH...