
Seperti yang Kelvin katakan, yang terpenting adalah kembali menormalkan keuangan perusahannya, dan setelah itu ia akan mengurus masalahnya bersama Ervan. setelah semalaman bersama Syafira, gadis itu akhirnya mengaku jika yang telah membuat sistem keamanan perusahaan Kelvin di retas adalah ulah dirinya dan Ervan. dan Syafira juga mengatakan jika ia akan membantu Kelvin menyelesaiakan masalah dana dalam perusahaannya.
"Kau melakukan pekerjaanmu dengan baik." ucap Kelvin sambil melemparkan beberapa jumlah uang kearah Nada.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan." sahut gadis itu memiringkan senyumnya.
***
Pagi hari, setelah Syafira menghabiskan malamnya bersama Kelvin, ia kembali dan melihat sang buah hati sedang bermain-main dengan penuh kegembiraan bersama Ervan.
"Mamy, kenapa Mamy baru kembali? aku dan Ayah menunggu Mamy." tanya Alvin sambil memainkan sebuah mobil-mobilan ditangannya.
"Biarkan Mamy-mu beristirahat, setelah ini kita sarapan." Ucap Ervan mengelus pucuk kepala Alvin.
Syafira terlihat sangat kikuk, ia merapatkan kerah pakaian yang ia kenakan, agar tanda-tanda kepemilikan yang Kelvin buat semalam tidak terekspose oleh Ervan.
"A... aku akan membersihkan diri sebentar, setelah itu aku akan membuatkan kalian sarapan." ucap Syafira gugup kemudian berlalu dengan tergesa-gesa dari hadapan Alvin dan Ervan.
Sorot mata Ervan terus memperhatikan keanehan dari Syafira, ia mengerutkan dahinya hingga gadis itu sudah tidak terlihat dari pandangan matanya. "Kenapa Syafira terlihat aneh? kemana dia semalam?"
Syafira menenggelamkan dirinya di sebuah bathub, saat ini Syafira benar-benar gelisah. ia sudah terlibat jauh diantara perseteruan Kelvin dan Ervan. "Aku harus segera membantu keuangan Kelvin, ya... karna bagaimana pun ini adalah kesalahanku."
Syafira menghembuskan nafasnya pelan, ia mengigit kuku-kuku cantiknya dan terus berpikir. bahkan setelah ia membersihkan diri dan membuatkan sarapan untuk Ervan dan Alvin, ia masih saja terlihat gelisah.
"Aku harap kau tidak melakukan kesalahan." ucap Ervan sambil menyantap makanan yang sudah Syafira siapkan.
Gadis itu tersentak, ia menelan salivanya dan langsung menatap wajah Ervan. "Ke... kesalahan? kesalahan apa?"
__ADS_1
Ervan memiringkan senyumnya, membalas tatapan Syafira intens, "Kau lebih tahu apa maksud dari ucapanku."
Syafira mengangguk pelan, memancarkan senyum cantiknya, bersikap seolah tidak terjadi apapun, dan tidak mingkin menghianati seseorang yang telah membantunya tersebut.
"Apa yang Mamy lakukan semalam? kenapa Mamy tidak pulang?" Tanya Alvin dengan sangat menggemaskan.
Seketika kegugupan Syafira kembali datang, ia kembali menelan salivanya dan berkata. "A... ada pertemuan Klien, waktu yang terlalu larut, itu sebabnya Mamy tidak pulang memutuskan menyewa kamar hotel."
"Di hotel mana semalam kau menginap?" ucap Ervan menimpal pertanyaan yang Alvin lemparkan, hingga membuat tubuh gadis itu bergetar.
"Itu... aku... Green Scotta, iya di hotel Green Scotta." sahut Syafira terbata-bata.
Dengan santai Ervan mengangguk, dan kembali menyantap makanan dihadapanya. suasana menjadi hening seketika saat Alvin memutuskan untuk menyudahi sarapannya dan kembali memainkan mainan mahal yang sudah Ervan belikan.
"Bagaimana dengan perusahaanmu?" tanya Ervan kembali memulai pembicaraan.
"Aku akan mengecek keungan perusahaanmu." titah Ervan.
Syafira mengangguk, dalam batinnya ia berkata, "Untung saja aku belum mentransfer dana ke rekening bank milik, Kelvin." kemudian ia menghembuskan nafas lega.
"Aku akan meminta sekertarisku untuk mengirimkan laporan keuangannya, padamu." ucap Syafira yang terdengar lebih tenang dari sebelumnya.
Drtrtt...
Ponsel Syafira bergetar, ia langsung meraih ponsel tersebut dan membaca pesan masuknya.
Kelvin : Sayang, jangan lupakan janjimu semalam.
__ADS_1
Syafira mengalihkan lirikannya kearah Ervan, terlihat pemuda itu tidak terlau memperdulikannya dan masih sibuk menyantap sarapan.
"Oke!" balas Syafira.
"Ahhhhhhh..." Jerit Alvin dari luar hingga membuat Ervan dan Syafira tersentak.
"Alvin..." Syafira dan Ervan beranjak dan langsung menghampiri pemuda cilik tersebut.
"Ayah kakiku." jerit Alvin.
Mata Syafira dan Ervan membulat saat mendapati Alvin sudah menjerit tidak berdaya ,dan terdapat gigitan ular di kakinya.
"Alvinnn..." Syafira meraih tubuh kecil sang buah hati dan memeluknya.
"Ayo kita harus cepat, sebelum terlambat." tegas Ervan yang kemudian menggendong tubuh kecil Alvin untuk membawanya kerumah sakit.
"Ayah, seseorang melemparkan ular kearahku, dan ular itu langsung menggigitku." ucap Alvin lirih.
Ranang Ervan mengeras, ia mengepalkan tangannya dengan sorot mata tajam dan memerah. "Ini pasti ulah Kelvin! baj*ingan."
"Ti... tidak mungkin, itu tidak mungkin." titah Syafira terbata.
"Apanya yang tidak mungkin? dia itu pria yang bisa melakukan apapun, apa kau lupa dia pernah hampir membunuhmu dengan cara memasukanmu kedalam kandang anjing buas miliknya." tegas Ervan meninggikan suaranya, ia terlihat sangat cemas fan mengkhawatirkan Alvin.
Syafira terdiam, wajahnya memerah dengan mata yang menggenang, ia bahkan merengkuh rambut indahnya sendiri dan benar-benar kebingungan.
LIKE DONG, VOTE YANG BANYAK KOMEN YANG BANYAK, KECEPATAN UP TERGANTUNG KALIAN.
__ADS_1