
Astaga, aku seperti sedang memandikan seorang bayi berukuran raksasa. Kelvin terus saja memaksaku, ia tidak membiarkan aku keluar dari kamar mandi.
Dengan mata terpejam aku menggosok punggungnya perlahan, dibawah kucuran air shower yang membasahi tubuhku dan Kelvin, tanganku menggigil, entah ini karna hawa dingin, atau karna ketidak nyamananku. Pria garang itu hanya terdiam menikmati sentuhan tanganku yang terus menggosok tubuhnya.
"Kau melakukannya dengan mata terpejam, apa kau tidak takut jika tanganmu menyentuh sesuatu yang bisa membuat aku hilang kendali?" Pekik Kelvin
Aku menelan salivaku, mencoba tetap bersikap tenang, meskipun sedari tadi jantungku sudah meletup-letup tidak karuan.
"A-aku dingin." ucapku dengan suara bergetar
"Apa ini kode?"
"Ko-kode?"
"Iya, agar aku memelukmu."
Astaga, kenapa Kelvin begitu narsis, padahal aku benar-benar merasa kedinginan karna terus menemaninya membersihkan diri, dibawah kucuran air.
Mataku masih terpejam, aku bisa merasakan tangannya menyentuh wajahku, Kelvin bahkan menarik dres tanpa lenganku hingga membuat aku terkejut.
"A-apa yang kau lakukan?"
"Membuka bajumu, apa kau akan keluar dengan pakaian basah seperti ini." celetuk Kelvin
Aku menyilangkan tanganku di dada, dan memundurkan tubuhku menjauh darinya.
"Aku bisa melepaskannya sendiri."
"Fira, aku ini suamimu, bersikaplah sewajarnya." ucap Kelvin
"Apa maksudmu ini tidak wajar?"
Aku bisa merasakan ia kembali mendekatiku menghimpit tubuhku diantara dinding dengan dirinya.
"Buka matamu."
Aku menggelengkan kepalaku, seolah menolak seruannya.
"Jika kau menolak aku akan memaksamu.
Perlahan aku membuka mataku, dan langsung menangkap wajahnya yang berada tepat di depan wajahku, bahkan jarak diantara kami sangatlah dekat.
__ADS_1
"Boleh aku meminta sesuatu?"
"A-apa?"
Kelvin mendekatkan wajahnya, meraih daun telingaku dan berbisik, "Aku menginginkannya."
Aku tidak berkutik, aku semakin gelisah, perasaan ini semakin tidak karuan, Kelvin bahkan tidak langsung menjauh, ia malah menggigit kecil daun telingaku, hingga spontan tangaku mencengkram bahunya.
"Ja-jangan, aku belum siap." Ucapku degan suara yang bergetar
"Lalu bagaimana? kau tahu? rasanya sakit sekali jika harus menahan hal ini, aku sudah tidak tahan."
Ucapan Kelvin semakin berani, entah kemana aku harus melarikan tubuhku, Pria garang ini mengunci pergerakanku, aku tidak berani memberontak, karna jika aku melakukan hal itu, secara tidak langsung tubuhku ini akan menempel dengan tubuh polosnya lagi dan lagi.
"Kau bisa melakukannya dengan wanita lain." ucapku dengan santai
Kelvin terkekeh, bagaimana tidak? mungkin ucapanku terdengar sangat menggelikan.
"Istri macam apa kau ini? suami meminta haknya, dan kau malah menyuruhnya untuk bermain bersama wanita lain."
Aku terdiam dengan ekspresi datar, sorot mata Kelvin yang tajam terus menatapku, membuat aku semakin tidak nyaman dibuatnya.
"Ce-cepat pakai handukmu, aku sudah kedinginan."
"Ahhhh jangan tinggalkan aku."
Aku menjerit dan langsung memeluk tubuh kekar Kelvin saat listrik tiba-tiba saja padam, di luar memang sedang terjadi hujan badai, itu sebabnya pemadaman listrik terjadi.
"Tadi kau menolak, sekarang kau sendiri yang memeluku tanpa permisi."
Kelvin terus saja mentertawakan aku, tetapi hal ini ia manfaatkan dengan sangat baik, Kelvin bahkan membalas pelukanku.
"Aku... Aku takut gelap."
"Sampai kapan kita akan berpelukan seperti ini?" ucapnya.
"Aku... aku takut, tolong jangan pergi, aku akan melepaskan pakaianku, a-ambilkan handuknya untukku."
Kelvin melonggarkan pelukannya, ia menurut dan mengambil handuk yang entah dimana aku meletakannya, karna saat ini sangatlah gelap.
Aku melepaskan pakaianku satu persatu, tidak ada suara yang keluar dari mulutku, maupun Kelvin, kami saling terdiam meskipun aku dapat merasakan tubuhnya tepat berada di hadapanku. untung saja sampai aku membungkus tubuh polosku dengan handuk listrik masih terus padam, dan tidak ada kesempatan untuk Kelvin melihatnya.
__ADS_1
"Sudah selesai?" ucapnya
"Su-sudah."
Aku kembali meraih tubuh Kelvin, melingkarkan tanganku pada tangannya, kami berjalan keluar kamar mandi secara beriringan, tanpa Kelvin melepaskan tanganku.
"Duduklah, aku akan menyalakan penerangan."
Aku terduduk di tepi ranjang, sedangkan Kelvin berjalan menuju nakas untuk menyalakan lilin, tidak butuh waktu lama, cahaya lilin tersebut berhasil menerangi ruangan kamar, meskipun tidak terlalu terang, aku bisa melihat jelas tubuh Kelvin yang masih mengenakan handuk berdiri disampingku meletakan lilin tersebut diatas nakas.
Sorot matanya teralihkan kepadaku, ia menatap diriku secara intens, apa mungkin insting kelelakiannya masih bekerja, terlebih aku hanya mengenakan handuk saja untuk menutupi tubuh polosku.
"Kau takut?"
"Su-sudah tidak." ucapku dengan gugup
Kelvin memiringkan senyumnya, pria garang itu terus menatapku dengan tajam, membuat aku semakin tidak nyaman. Aku meremas ujung handuk dan merapatkan kakiku, Astaga pria ini benar-benar terlihat mesum.
"Kau kedingingin?"
"I-iya... Euu... Maksudku ti-tidak."
Aku terjebak, tentu saja aku berbohong, bahkan tanganku sudah memucat, Kelvin kembali mendekatkan tubuhnya padaku.
"Kau berbohong, bibirmu memucat dan sedikit menggigil."
"Aku... aku hanya..."
Cup...
Lagi-lagi Kelvin merengkuh bibirku tanpa permisi, kali ini ia lebih nakal, bahkan tubuhnya mendorongku, hingga aku terbaring, aku dapat merasakan kelembutan bibirnya melumatt habis bibirku, tubuhku semakin bergetar, aku mencoba mendorongnya akan tetapi tanganku ia cengkram.
Seketika aku merasakan hawa panas menjalar disekujur tubuhku saat satu tangan Kelvin menyusup kebalik handuk yang aku kenakan. meskipun aku tidak membalas ciumannya, aku sangat menikmati hal ini, sentuhannya benar-benar memabukan, perlahan ciuam itu turun mengabsen setiap titik ceruk leherku, Kelvin bahkan meninggalkan tanda kepemilikan disana.
Nafasku tersenggal, aku berusaha tidak melenguh saat Kelvin sudah menurunkan handukku, hingga bagian dadaku sudah terekspose jelas oleh kedua mata Kelvin. ia bahkan menenggelamkan wajahnya disana, merengkuh habis bagian tersebut dengan penuh hasrat.
"Mmmmmm."
Suara itu terlepas begitu saja dari mulutku, aku bahkan mencengkram bahu Kelvin dengan sangat kuat.
"He-hentikan, aku... aku... belum siap."
__ADS_1
UDAH YA GUYS... PUASA, NANTI BATAL MAKRUH, GAK SAH... AKU GAK TEGA🤣 AKU SIH GAK MASALAH, KARNA GK PUASA🤣 LANJUT NANTI MALEM😂 ASAL LIKE SAMA KOMENNYA YANG PANJANG, VOTENYA YANG BANYAK🤣🤣🤣