
Saat mereka mendekat, Charzo bangun dan langsung menghantam wajah pria itu hingga hidungnya berdarah.
Wi wi wi wi wi wi!
Suara sirine polisi datang dan mereka siapa siaga mengelilingi bank tersebut.
Komandan mengambil toa dan berkata. "Untuk para perampok, segera serahkan diri!"
"Cepat, cepat! Ada yang keluar itu," ucap komandan. Para polisi itu semua siap angkat senjata, jika nanti perampoknya melawan mereka akan langsung menembaknya.
Charzo membuka pintu dengan menyeret dua orang perampok keluar dari bank.
"Eh, saudara Charzo." komandan itu bingung saat yang keluar dari bank adalah orang yang ia kenal.
"Iya komandan," ucap Charzo melempar perampok itu ke tanah.
"Turunkan senjata kalian!" perintah komandan. Para polisi menurunkan senjata apinya.
"Apa ada lagi perampok di dalam?" tanya komandan.
"Ada 3 lagi," jawab Charzo.
"Apa! Jadi bagaimana? Apa mereka masih hidup?" tanya Komandan kaget.
"Hm … entahlah, mungkin masih hidup, soalnya mereka pingsan," jawab Charzo mengangkat bahunya.
"Oh syukurlah," ucap komandan lega.
__ADS_1
"Kalian pergi masuk dan periksa mereka," perintah komandan. Para petugas itu masuk ke dalam bank dan mereka menemukan ketiga perampok itu pingsan. Mereka pun segera menyeret para perampok itu keluar dari bank.
"Ini mereka semua komandan," ucap petugas polisi.
"Apa sudah cek jika tidak ada yang bersembunyi?" tanya komandan lagi.
"Sudah komandan, tapi tidak di temukan lagi," jawab mereka.
"Baiklah jika begitu, bawa mereka ke kantor polisi. Untuk saudara Charzo, Anda sangat luar biasa, bisa mengalahkan perampok dengan seorang diri. Anda sangat luar biasa," puji komandan menepuk bahu Charzo.
"He-he-he biasa aja komandan, itu karena perampoknya yang sedikit oleng," jawab Charzo tersenyum.
"Eh, baju kamu … ini bekas tembakkan?" tanya komandan melihat beberapa bolong baju Charzo.
"Hm … ini bajuku nyangkut tadi komandan," jawab Charzo beralasan sambil menggaruk kepalanya.
'Nyangkut seharusnya robek, bukan bolong,' batin komandan.
Tuuut! Tuuut! Tuuut!
"Halo komandan," jawab petugas yang masih ada di kantor polisi.
"Bawakan penghargaan akrilik dan sertifikat sekarang juga di depan Bank BN," perintah komandan.
"Baik komandan," jawab petugas tersebut.
Para reporter datang dan meliput berita terkini, Charzo di wawancarai.
__ADS_1
Taksi yang Clara naiki melewati bank tersebut
"Rame banget di bank, nggak kayak biasanya?" tanya Clara.
"Kan hari ini hari Senin, biasalah kalo hari Senin rame," jawab Tari.
"Eh, Clara, ini bukannya suami kamu?" tanya Tari melihat berita yang ada di TV mini di dalam taksi.
"Eh, Mas, tapi di mana ini?" tanya Clara.
"Ada di bank BN Nona," jawab supir taksi.
"Apa! Ayo putar balik pergi ke sana Pak," pinta Clara.
Supir taksi pun putar balik dan masuk ke perkarangan bank BN.
Clara langsung keluar dari taksi dan berlari masuk di antara kerumunan tersebut.
"Mas!" panggil Clara di saat sedang berdesakan.
"Clara." Charzo menarik tangan Clara hingga Clara bisa lepas dari kerumunan.
"Ini siapa Pak?" tanya reporter tersebut.
"Ini adalah istri saya yang tercinta," ucap Charzo tersenyum melihat ke arah Clara dan merangkulnya.
Clara juga tersenyum bahagia melihat Charzo.
__ADS_1
"Cih! Sungguh menyebalkan! Mereka sok romantis," denggus Carin kesal saat menonton Charzo dan Clara di tv. Ia segera mematikan televisi.
Carin menarik nafasnya mengingat suaminya yang ia lihat di cafe sedang berduaan dengan wanita lain. Saat di pergok sang suami awalnya dia nggak mau mengaku tapi lama-kelamaan pada akhirnya mereka pun mengakuinya.