
Charzo terpaksa menelpon Andi.
Tuuut! Tuuut!
Tuuut! Tuuut!
"Halo Bang," jawab Andi.
"Kamu ke sini ya, sekalian tolong belikan bahan makanan, belikan ayam, ikan mas dan belikan bumbu bakar bawa ke restoran ya, kalo anak-anak belum tidur bawa mereka juga," ucap Charzo.
"Baik Bang," ucap Andi.
"Oh ya, rekening kamu ada? Biar ku transfer."
"Aku nggak punya rekening Bang."
"Gimana ya?"
"Nggak apa-apa Bang, uang yang kemaren Abang kasih masih ada, jadi uang itu aku belikan bahan masakannya," ucap Andi.
"Oh baiklah jika begitu, nanti setelah sampai di restoran aku ganti," ucap Charzo.
"Baik Bang." angguk Andi.
__ADS_1
Panggilan pun di putuskan.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi Andi datang," ucap Charzo duduk di samping Clara dan mengelus perutnya. Hati mereka sangat bahagia karena mereka sudah akan punya bayi, maka dari itu harus di jaga dengan baik.
Carry lewat bersama teman-temannya di restoran Clara dan melihat di dalam ada Charzo dan Clara.
Ia juga melihat di depan restoran itu ada nama Clara.
"Jadi ini adalah restoran Clara? Tapi kenapa hanya ada mereka berdua?" tanya Carry heran.
"Hey berhenti!" teriak Carry.
"Ada apa?" tanya Mila teman Carry.
"Restoran Clara? Emang Clara punya uang sebanyak apa bisa bangun restoran?" tanya mereka sedikit meledek.
"Lihat itu papan templetnya ada namanya, ini bukan duit dari Clara, tapi suaminya yang dulunya tidak berguna dan hanya menjadi pembantu di rumah sekarang malah jadi kaya raya," ucap Carry.
"Apa? Suaminya yang dekil itu?" tanya Rere.
"Iya." angguk Carry.
"Oh my God, kenapa dia bisa kaya sekarang? Jangan-jangan dia jual barang haram?" tebal Mila.
__ADS_1
Aku juga tidak tahu." jawab Carry mengangkat bahu.
Mereka pun menghampiri Clara dan masuk restoran Clara. Charzo langsung berdiri, ia ingin melindungi Clara takutnya mereka berbuat kejahatan.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Charzo.
"Ayolah adik ipar, santai saja, aku ke sini hanya ingin melihat dari luar ada nama kamu di papan tamplet, aku berpikir jika ini adalah restoran punya mu, makanya aku mampir sebentar," ucap Carry duduk di kursi tersebut.
"Kenapa? Ingin melihat-lihat mana saja yang ingin kalian lempar dengan kotoran hewan?" tebak Clara.
"Sayang, kamu jangan marah ya, ini berakibat buruk pada kesehatan mu," ucap Charzo duduk di samping Clara.
Clara terlihat sedih.
"Kenapa peduli tentang kami? Toh selama ini bukannya kalian tidak peduli?" tanya Charzo.
"Hm … masa mampir di restoran adik sendiri nggak boleh?" tanya Carry.
"Adik? Bukankah dia bukan keluarga kalian lagi? Bukankah kalian yang sudah memutuskan persaudaraan dengannya? Kenapa tiba-tiba menjadi adik kalian lagi?" tanya Charzo.
"Yang memutuskan adalah hanya ibu? Tidakkah kalian bertanya dulu dengan ku apa aku menyetujuinya atau tidak? Aku kan tidak mengatakan apa pun tentang pemutusan persaudaraan, jadi boleh di katakan jika aku tidak memutus persaudaraan ini," jawab Carry.
"Lalu? Karena sudah tahu jika Clara hidup berkecukupan kau terus datang padanya? Ingin memanfaatkannya suatu hari nanti?" tebak Charzo lagi.
__ADS_1
"Semua uang adalah milik Mas, aku tidak akan memberikan kepada siapa pun tanpa persetujuan Mas Charzo, dan aku tidak ingin melihat muka kakak lagi," ucap Clara.