
Pak Selamat pun keluar.
"Ada apa?" tanya pak Selamat.
"Bapak, penjaga makam kan?" tanya Charzo memastikan lagi.
"Iya, tadi kan kita udah ketemu," ucap pak Selamat.
"Tapi ada seorang bapak-bapak datang dan mengatakan jika dia adalah penjaga makam," ucap Charzo.
"Dia berulah lagi rupanya ya, ya sudah, ayo kita pergi ke sana," ajak pak Selamat memakai sendalnya dan mereka pun pergi menuju ke pemakaman.
Setelah sampainya di sana, Charzo pun berlari untuk melerai mereka segera. Pak Selamat juga datang menarik salah satunya.
"Berhenti!" teriak pak Selamat.
"Dia ingin membongkar kuburan Lika, mana mungkin aku membiarkannya begitu saja!" teriak Andi yang ingin membalas bapak tua itu, tapi Charzo menahannya dengan kuat.
"Cukup! Berhenti!" teriak pak Selamat murka.
"Kamu kenapa buat masalah lagi di sini!" teriak pak Selamat menghadang pria tua itu.
"Ini adalah tanah bapakku! Kalian seenaknya saja mengambil tanah ini dan membuat pemakaman di sini, aku mana terima!" balas pria tua itu.
"Surat wasiat dari bapakmu sudah mewakafkan tanah ini untuk pemakaman umum, dan jatah mu juga sudah aku ambil, lalu apa lagi? Tanah pembagian mu sudah kau jual untuk berjudi dan mabuk-mabukan, itu salah mu, dan sekarang kau ingin mengambil tanah ini! Sampai mati pun aku tetap akan mempertahankan tanah ini, karena bukan hanya ada keluarga ku dan orang lain di sini, keluarga mu juga ada di sini," ucap pak Selamat.
"Tapi … tapi …ini tetap tanah bapak aku! Dia sudah mati, jadi tanah ini untuk ku!" ucap bapak tua tetap mempertahankan keyakinannya.
Karena geram, pak Selamat menelpon polisi.
"Jadi bagaimana dengan makam anak saya Pak?" tanya Andi yang masih mengkhawatirkan kuburan Lika.
"Sudah tidak apa-apa, dia akan aku awasi terus agar tidak lagi menganggu makam di sini," ucap pak Selamat.
"Baguslah jika begitu," ucap Charzo.
__ADS_1
"Ya udah, ayo kita pulang, ini udah hampir malam," ajak Charzo.
"Ya udah ayo kita pulang," ajak Andi kepada anak-anak asuhnya.
Mereka pun naik mobil Charzo secara berdesakan, untung saja mereka masih kecil-kecil, jadi bisa di angkut sekaligus.
Charzo pun mengantar mereka kembali ke kostan mereka.
"Terima kasih Bang, Abang sudah banyak bantu aku dan anak-anak," ucap Andi membungkukkan badan.
"Sama-sama, ya udah aku pulang dulu," ucap Charzo.
"Baik Bang, hati-hati di jalan," pesan Andi. Charzo pun melajukan mobilnya untuk kembali pulang ke rumah.
Setelah sampai di rumah, terlihat Clara sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Eh, Mas baru pulang, kok kelihatan kusut banget." Clara mendekati suaminya yang baru saja sampai di depan pintu.
"Itu tadi ada karyawan yang akan menjadi pengurus restoran, pas sampai di rumahnya anak asuhnya meninggal di tabrak mobil dan mobil itu kabur, jadi Mas bantu dia ke pemakaman umum," jelas Charzo.
"Oh gitu ya, kasian banget ya Mas. Ya udah Mas mandi dulu gih," ucap Clara.
Setelah bersih dan berganti pakaian dan Charzo pun keluar dari kamarnya dan duduk di samping Clara.
"Udah siap belum?" tanya Clara.
"Siap apa?" tanya Charzo mengangkat alisnya.
"Ayo ikut aku," ajak Clara menarik tangan Charzo untuk berdiri. Clara mengambil sebuah penutup mata dan menutup mata Charzo.
"Eh, kok gantian," ucap Charzo.
"Iya donk, aku pengen nunjukin sesuatu pada Mas, ayo ikut aku. Pelan-pelan," ucap Clara.
Mereka pun berjalan masuk ke dalam mobil. Clara pun melajukan mobilnya dan sampailah di suatu tempat. Ia pun memberhentikan mobilnya.
__ADS_1
Clara membantu Charzo keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.
Clara membuka penutup matanya dan yang di lihat Charzo hanya tempat gelap.
"Eh kok gelap?" tanya Charzo.
Clara menekan sekelar lampu dan terlihat tempat itu penuh dengan balon dan sebuah kue setinggi 5 tingkat di atas meja.
Teman-teman Clara bertepuk tangan dengan meriah.
"Selamat ulang tahun," ucap Clara tersenyum.
"Sayang, kamu ingat hari ulang tahun ku, terima kasih banyak ya sayang," ucap Charzo mencium kening Clara.
"Ingat donk, tapi sebenarnya nggak ingat, aku bikin pengingat hari ulang tahun mu di ponsel dan tadi tiba-tiba berdering. Jadi aku lihat dan ternyata hari ulang tahun Mas," ucap Clara.
"Nggak apa-apa, tapi ku udah siapin acara besar seperti ini pasti sangat repot kan," ucap Charzo memeluk Clara.
"Hm … itu … mereka yang siapin, aku bayar mereka," ucap Clara cengengesan.
"Tapi tetap aja, istri Mas sangat pintar," puji Charzo mengacungkan jempolnya.
"Ya udah ayo kita rayakan acara ini," ajak Clara. Charzo pun berdiri di depan kue ulang tahun.
"Sebelum tiup lilin ayo Mas buat permohonan," ucap Clara.
Charzo memejamkan matanya dan mengatup kedua tangannya dan memohon sesuatu.
Beberapa menit kemudian, Charzo pun selesai membuat permohonan dan meniup lilinnya.
Plok! Plok! Plok!
Tepuk tangan yang meriah terdengar.
Clara pun memotong kue dan memberikan kepada Charzo.
__ADS_1
"Ini kuenya, Mas mau ngasih ke siapa dulu?" tanya Clara.
"Tentu saja pada istri Mas yang cantik ini," ucap Charzo menyuapi Clara.