System Kekayaan Menantu Terhina

System Kekayaan Menantu Terhina
BAB 78


__ADS_3

Mereka pun masuk ke dalam.


Di dalam barulah terlihat sangat indah, ada beberapa tanaman hias, kursinya juga mewah. Sangat cocok jika ada acara makan bersama atau acara kantor.


"Mewah sekali Bang, ini restoran bintang berasal ini?" tanya Andi terpukau dengan bentuk restoran mewah itu.


"Bintang kejora. Coba cek di dapur, apa bersih atau tidak," perintah Charzo.


"Siap Bang." Andi pun masuk ke dapur dan melihat dapur yang sangat besar dan bersih.


Ada 5 kulkas pintu dua di dapur, 10 buah kompor tanam dan piring dan mangkok satu set.


"Wah, bagi koki ini adalah harta Karun, aku pengen banget belajar masak untuk anak-anak, yang hanya bisa aku lakukan adalah masak mie, goreng telor sama rebus air," gumam Andi.


"Belajarlah, kau bisa gunakan dapur ini untuk belajar, tapi asalkan hati-hati ya," ucap Charzo yang tiba-tiba nongol.


"Terima kasih banyak Bang, kau adalah penyelamat bagi kami," ucap Andi dengan mata berkaca-kaca.


Charzo menggeleng. "Kau adalah pahlawan bagi anak-anak di luar sana, kau sangat tulus menolong mereka, aku sungguh salut pada mu, kau adalah pria yang luar biasa yang pernah aku temui, jika restoran sudah tutup bawa anak-anak main ke sini dan masak makanan untuk mereka," ucap Charzo.

__ADS_1


Andi sangat terharu. "Terima kasih banyak Bang," ucapnya.


"Jadi pertama-tama yang harus kamu lakukan adalah pasang papan tamplet menerima pegawai pria dan wanita yang berumur 17 ke atas, dan 10 koki yang sudah punya sertifikat kelulusan. Jadi di sini kamu adalah kepala pengurus restoran ini, kau yang mengurus restoran ini. Tapi ingat! Jangan lakukan kesalahan yang membuat aku terpaksa memberhentikan mu," ingat Charzo.


"Baik Bang. Karena Abang sudah membantu ku dan anak-anak maka aku akan baik-baik menjaga perilaku ku dan membuat restoran ini lebih maju lagi," ucap Andi.


"Ya sudah kalau gitu, sekarang aku antarkan kamu untuk membeli beberapa peralatan," ucap Charzo.


"Baik Bang," ucap Andi.


Mereka pun masuk kembali ke dalam mobil dan menuju sebuah toko untuk membeli perlengkapan.


"Terima kasih Bang," ucap Andi.


"Sama-sama, aku juga ingin melihat mereka sebentar," ucap Charzo juga ikut keluar dari mobilnya dan menghampiri kontrakan Andi.


Sesampainya mereka di sana, para anak-anak berkumpul di dalam rumah sambil menangis.


"Eh, ada apa ini?" tanya Andi.

__ADS_1


Mereka semua memberi jalan dan terlihatlah seorang anak yang tergeletak bersimbah darah.


"Lika! Lika! Kamu kenapa Nak!" Andi langsung mengendong Lika dan menggoyangkan tubuh anak yang berumur 8 tahun tersebut.


"Dia … tadi di tabrak mobil," ucap Anak laki-laki yang berumur 9 tahun sambil menyeka air matanya.


Charzo memeriksa anak tersebut, dari nadinya hingga nafasnya.


"Dia … sudah tidak bisa di selamatkan lagi," ucap Charzo.


"Apa! Tidak mungkin! Di mana mobilnya?" tanya Andi dengan mata berapi.


"Mobilnya sudah kabur," jawab Doni.


Andi memeluk anak itu dengan hati yang pilu, mereka menangis bersamaan atas kepergian Lika.


"Lihat saja nanti! Jika aku tahu siapa orangnya aku akan merobek tubuhnya!" teriak Andi.


"Ya sudah, ayo kita siapkan pemakaman untuk Lika agar dia tenang, masalah balas dendam urungkan dulu, ada hal yang lebih penting, Lika lebih penting," ucap Charzo.

__ADS_1


Dengan berat hati, Andi dan anak-anak yang lain harus merelakan kepergian Lika untuk selama-selamanya.


__ADS_2