
Akhirnya semua penjahat itu dapat di taklukkan.
Sorak sorai pun terdengar, para reporter itu menyerbu Charzo dan mengangkatnya ke atas dan memeluknya terharu.
"Terima kasih Tuan, Anda sudah menyelamatkan kami," ucap mereka ada yang sampai menangis karena sudah lepas dari ketakutan.
Terlihat seulas senyum sekretaris Yuda yang sudah merasa lega.
Ia pun menelpon ambulan, karena mereka bertiga terluka akibat tembakkan tadi, untung saja tidak mengenai daerah vitalnya.
"Tuan, kau adalah pahlawan bagi kami, masalah kau menghabisi mereka biar kami saja yang tangguh jawab jika seandainya para polisi itu menyalahkan mu," ucap mereka.
"Tidak akan ada yang menyalahkan saudara Charzo, karena saudara Charzo sudah menyelamatkan nyawa banyak orang dan demi membela diri, baru ia melakukan itu. Kami sudah melihat semua adegan itu, melalui tv karena ada rekaman kamera kalian yang masih on dan tidak di matikan," ucap komandan tersebut memberikan sebotol air mineral kepada Charzo.
"Minumlah, kau pasti sangat lelah," ucap komandan itu.
"Ah, terima kasih komandan," ucap Charzo menerimanya dan meneguk air minum tersebut, kerongkongan yang tadi kering kini sudah basah dan menjadi segar kembali.
"Maafkan kami terlambat," ucap komandan tersebut.
"Tidak apa-apa komandan, semua bisa di atasi, syukurlah tidak ada korban jiwa," ucap Charzo.
__ADS_1
"Aku percaya, orang baik pasti akan selamat dalam keadaan apa pun, dan kau bagaikan pahlawan bagi mereka," puji komandan itu.
"Maaf Tuan, jadi bagaimana? Apa acara peluncurannya akan di sambung besok apa sudah selesai?" tanya salah satu reporter itu.
"Sepetinya sudah selesai, karena hanya itu saja uang bisa kami tunjukkan," ucap Charzo.
"Baik Tuan, terima kasih untuk hari ini, topik Anda pasti akan trending nomor satu di dunia," ucap reporter tersebut.
Charzo hanya tersenyum. Para petugas polisi segera membawa para penjahat itu dan memasukan ke dalam ambulan.
"Tuan, kami ke rumah sakit dulu," ucap sekretaris Yuda. Charzo pun langsung menghampiri sekretaris Yuda, pak Amir dan Pak Hendra yang di mana mereka di batu oleh beberapa perawat untuk membawa mereka masuk ke dalam ambulan.
"Baik Tuan," jawab mereka.
Charzo pun kembali ke tempat komandan itu berdiri.
Mereka pun berjalan keluar dari ruangan tersebut, karena para petugas mengambil foto di tempat kejadian tersebut.
Sedangkan reporter tadi mereka juga meliput tempat kejadian tersebut.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu pada mu?" tanya komandan tersebut.
__ADS_1
"Silakan," jawab Charzo.
"Kau bukan hanya kebal dengan senjata api kau juga kebal dengan bom, apa rahasia mu?" tanya komandan itu penasaran.
"Oh itu ya, hm …." Charzo mencari-cari jawaban.
"Tapi komandan jangan bilang-bilang dengan siapa-siapa ya," ucap Charzo dengan suara pelan.
"Tidak akan, hanya saja mereka yang melihat kejadian itu pasti akan bertanya-tanya.
"Ah, katakan saja jika itu sedang syuting film," ucap Charzo sekenanya.
"Jadi?"
"Hm … itu aku memakai ilmu kebal yang sudah di warisi turun temurun oleh nenek moyang kami dengan menjaga diri dari para penjahat," ucap Charzo.
"Ooo." komandan mengangguk-angguk mengerti.
"Apa bisa ilmu itu aku gunakan juga?" tanya komandan. "Karena tugas ku berat yang harus berhadapan langsung dengan penjahat," sambungnya.
"Hm … maaf komandan, sepertinya tidak bisa jika di berikan kepada yang bukan keturunan nenek moyang saya, maka ilmu itu tidak akan ada fungsinya," jawab Charzo ngasal.
__ADS_1