
Hujan rintik-rintik mengantarkan kepergian Lika, ia di kuburkan di pemakaman umum.
Mereka tampak sangat terpukul atas kepergian Lika dan berkeliling di tempat peristirahatan terakhir Lika untuk selama-selamanya.
"Lika, maafkan aku yang tidak menjaga mu, ini salah ku," ucap Doni menangis sesenggukan mengengam tanah dengan erat.
"Sudahlah, ini bukan salah kamu, ini salah mobil itu. Ayo kita pergi, biarkan Lika beristirahat dengan tenang," ucap Andi kepada Doni meskipun hatinya tak rela.
"Terima kasih Bang, sudah mengantar Lika di tempat peristirahatan terakhirnya," ucap Andi.
"Sama-sama," ucap Charzo mengangguk.
"Hey! Ini kuburan siapa!" tiba-tiba saja penjaga makam datang.
Charzo dan Andi melihat ke arah seorang pria yang sudah tidak datang dengan wajah murka.
"Ada apa Pak?" tanya Ando.
"Ini kuburan siapa!" ulang bapak tua itu.
"Ini kuburan anak saya," ucap Ando.
"Hey! Kau pikir suka-suka mengubur orang di tanah ini! Kau harus bayar dulu baru di kubur!" teriak pak tua itu.
"Bayar? Tapi saya sudah bayar tadi sama penjaga makam ini," ucap Ando.
"Saya penjaga makam di sini!" hardik pria tua itu dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Jika Anda adalah penjaga makam kenapa baru datang sekarang? Seharusnya Anda tahu jika ada yang datang meninggal. Setahuku rumah penjaga makam itu pasti rumahnya di dekat sini, kalau ada yang meninggal ia bisa langsung datang," ucap Charzo.
"Iya rumah ku di dekat sini, tadi aku keluar sebentar!" ucap pria itu dengan nada tinggi.
"Jadi sebenarnya yang mana penjaga makam?" tanya Andi bingung.
"Oh ya, orang yang tadi di mana rumahnya?" tanya Charzo.
"Aku juga nggak tahu," jawab Andi mengangkat bahunya.
"Ya udah, kamu tunggu sebentar ya, aku tanya sama orang di sini dulu," ucap Charzo meninggalkan Andi dan berlari untuk mencari warga di sana.
Terlihat seorang bapak-bapak yang sedang naik sepeda motor.
"Pak permisi!" panggil Charzo. Bapak itu memberhentikan motornya dan melihat ke arah Charzo.
"Rumah penjaga makam ini di mana?" tanya Charzo.
"Oh, kamu dari sini lurus aja nanti ada rumah bercat biru, tanya saja di Pak Selamat penjaga makam, nanti orang-orang akan tahu itu," ucap bapak tersebut.
"Oh gitu, terima kasih banyak ya Pak," ucap Charzo.
"Ya sama-sama," ucap bapak tersebut dan kembali melanjutkan perjalanannya.
Charzo pun mengikuti arah yang di beri tahu olah bapak tersebut.
"Kalau kalian tidak mau bayar, bongkar makam ini lagi! Atau aku yang akan membongkarnya sendiri!" hardik pria tua itu.
__ADS_1
"Pak tunggu sebentar ya, tunggu Bos saya itu datang kembali, nanti bagaimana keputusan dia yang tentukan," ucap Andi memohon.
"Ah lambat!" pria itu mendekati kuburan Lika dan mulai menggali dengan tangannya.
"Hay! Apa yang Bapak lakukan! Jangan menggalinya!" teriak Andi menahan bapak tua itu.
"Hey! Kamu benar-benar ingin cari mati ya!" tukas bapak itu kesal, ia mendorong Andi dengan kuat membuat Andi terjatuh.
Mereka pun bergulat di tanah membuat baju mereka menjadi kotor, di tambah hujan gerimis yang membasahi tanah membuat kotoran itu lengket.
Sesampainya di sana, Charzo melihat rumah yang bercat biru.
"Tok! Tok! Tok!
"Permisi," ucap Charzo mengetuk pintu.
"Ya sebentar," terdengar suara seorang ibu-ibu dari dalam.
Cklek!
"Ada apa?" tanya ibu-ibu itu.
"Apa ini rumah pak Selamat penjaga makam ini?" tanya Charzo.
"Oh iya benar." anggunnya.
"Pak selamat ada Buk?" tanya Charzo lagi.
__ADS_1
"Ada. Pak! Ada yang mencari mu!" panggil istrinya.