
Pagi itu Sofwa terlihat tidak seperti biasanya. Ada sedikit kecerahan yang tergambar diwajah Sofwa yang biasanya terlihat murung. Senyuman yang telah lama hilang dan lenyap itu kini mulai hadir kembali menghiasai wajahnya meskipun hanya sebuah senyuman tipis, melihat keadaan seperti itu membuat Raihan dan Ibunya bahagia. Sofwa sudah mulai berangsur-angsur bangkit dari kegalauannya. Itu yang mereka harapkan.
“Ini berkat perawat tampan itu nak, lihat adikmu Nayla udah mulai bangkit dari kesedihannya” kata Zulaida, Ibu Raihan dan Nayla.
“Alhamdulilah bu, Raihan juga sangat senang melihat Nayla tersenyum lagi.”
“Tapi ngomong-ngomong siapa ya perawat yang ibu maksud itu?” Tanya Raihan penasaran.
“Namanya nak Fitra. Nayla cerita tadi malam dikunjungi sama perawat yang berhati malaikat, memberi dia pencerahan” ucap Zulaida.
“Ooh.. jadi penasaran siapa perawat berhati malaikat yang dimaksud Nayla itu” ujar Raihan.
Ditempat yang lain dengan waktu yang sama terlihat Fitra sedang sibuk menulis laporan. Tangannya yang menulis tetapi pikirannya menerawang entah kemana, pikirannya saat ini tertuju ke Nayla. Dengan mengumpulkan semua keberaniannya akhirnya tadi malam ia bisa berbicara langsung dengan wanita berwajah lembut itu, meskipun hanya sebentar. Tapi entah kenapa selain merasa lega ada rasa kekhawatiran yang terselip dibenak Fitra. Ia khawatir sikap dan caranya tadi malam itu berlebihan dan menimbulkan dampak yang buruk pada akhirnya, padahal tujuannya cuman untuk menghibur Nayla sama dengan yang ia lakukan terhadap pasien yang lain, tidak lebih dari itu. Fitra beristigfar berkali-kali, tadi malam ternyata ia telah berkhalwat. Ia baru menyadari akan hal itu.
***
Disebuah sekolah SMA swasta tampak seorang remaja putri berjalan terburu-buru menuju kelasnya yang terletak dilantai 2. Hampir semua mata tertuju padanya, karena wajahnya yang sedih tak bisa ia sembunyikan, hampir saja tumpah butiran air mata yang sudah tergenang di pelupuk matanya.
“Hancur semuanya” ucapnya sambil menangis terisak-isak. Akhirnya tumpah juga air matanya saat tiba dikelas dan duduk dibangkunya, disamping Zahra.
“Apa yang hancur Lika?” Zahra bertanya.
“Hubungan aku sama Soni, Zahra…” Ucap Lika sambil menangis di bahunya Zahra.
“Oohh… kiraian apa yang hancur?” Zahra tersenyum tipis.
“Kamu kok senyum-senyum sech? Sahabatmu lagi sedih ne..”
“Udah berapa kali coba aku nasihati kamu seperti ini, ‘Lika… putusin aja hubungan pacaran kamu dengan Soni, karena selain menimbulkan dosa juga bisa membuat patah hati’ tapi, kamu ngak pernah dengar kata-kataku” Kata Zahra.
__ADS_1
“Tapi aku sayang banget sama dia. Masa’ gara-gara masalah sepele dia langsung mutusin aku Zahra?”
“Berarti tidak ada keseriusan darinya dalam hubungan kalian ini. Kita masih remaja, masih labil. Masih ingin mencari jati diri, belum siap dengan hubungan yang menjurus kesana. Jadi aku sarankan jika masih belum ada keseriusan lebih baik diakhiri saja Ka, karena efeknya jadi ngak baik nantinya” Saran Zahra.
“Tapi aku udah terlanjur cinta Zahra…” Rengek Lika.
“InsyaAllah.. jika kamu berniat untuk meninggalkannya karena perintah Allah, perlahan-lahan rasa cinta yang belum halal itu bisa pudar dengan sendirinya”
“Gimana caranya?”
“Dekatkan diri dengan Allah. Perbanyak ibadah, ikut kajian yuk sama aku. Gimana?” tawar Zahra sambil tersenyum lebar.
“Ngak semudah itu Zahra, ngomong aja mudah tapi aplikasinya susah. Kamu bisa bilang seperti itu karena kamu belum pernah ngerasakan jatuh cinta seperti aku”
“Belum dicoba kok udah bilang susah. Usaha belum ada udah ngeluh. Lagi pula bukan masalah belum pernah jatuh cinta atau gimana Ka, masalahnya adalah bagaimana kita menjaga agar rasa cinta itu ngak berlebihan dan ngak disalurkan dengan cara yang salah”
“Aku tau gimana caranya untuk mengobati rasa sakit mu itu”
“Gimana?”
“Yuk ikut kajian, aku kenalkan kamu sama kak Nazwa, muslimah yang memberikan motivator di sekolah ini”
“Kamu yakin bisa ?”
“InsyaAllah kalau kita mau berusaha tuk berubah menjadi yang lebih baik. Allah pasti akan menolong kita, Akan selalu ada jalan kok Ka”
“Aku coba dech”
“Nah gitu donk, ntar aku hubungi kak Nazwa dulu ya? Kita buat janji kapan bertemu dengan beliau”
__ADS_1
Obrolan mereka pun terhenti saat bel tanda masuk berbunyi, seluruh siswa masuk kekelasnya masing-masing. Kebetulan pagi itu mata pelajaran dikelas Zahra adalah bahasa arab yang diajarkan oleh pak Zaki yang lulusan dari Kairo, Mesir.
Sepulang sekolah Zahra tidak langsung pulang. Dia dan beberapa temannya yang lain, yang aktif dalam Rohis pergi ke Musholla untuk mengadakan rapat. Mereka merencanakan akan membuat acara Training Motivasi Islami bagi siswa-siswi di sekolah mereka. Zahra sebagai ketua Rohis bagian akhwatnya pastilah yang paling sibuk mempersiapkan acara tersebut agar berjalan dengan lancar dan sukses. Dan yang pastinya dia akan mengundang Nazwa dan seorang ustad muda yang akan menjadi pembicaranya nanti, karena Zahra tidak meragukan kemampuan Nazwa. ia sangat yakin Nazwa bisa menjadi motivator yang baik bagi teman dan adik-adik kelasnya.
Tepat pukul 3 sore Zahra tiba dirumahnya. Diluar dugaan sebelumnya saat selangkah ia masuk rumah seraya mengucapkan salam, suara gaduh dari dalam rumah tertangkap jelas ditelinganya. Pertengkaran tengah berlangsung lagi dirumahnya.
“Dasar sialan, bajingan, tidak bertanggung jawab, brengsek…” kata-kata makian itu keluar dari mulut seorang wanita setengah baya yang bukan lain adalah mamanya.
“Kau yang sialan, tidak becus jadi istri. Kerja kau apa ha? Aku pulang kerja capek-capek tapi kau sambut dengan kegilaan kau ini?”
“Kau yang ngak becus jadi suami, kau yang ngak bisa jadi imam dirumah ini, pikiran kau cuman pekerjaan kau saja, ngak pernah kau peduli dengan keluarga kau sedikitpun, ngak pernah ada waktu untuk aku dan anak-anak kau”
“Apa kau bilang?” Papa Zahra hendak melayangkan sebuah pukulan diwajah mamanya tapi dengan cepat Zahra menangkisnya dari belakang.
“Papa hentikan…. Jangan pukul mama, Zahra mohon” ucap Zahra dengan berlinangan air mata.
“Lihat hasil didikan kau dengan anak perempuan kau ini. Berani kali dia menentang aku. Coba lihat, penampilannya menjadi kampungan begini” kata Papa Zahra sambil mendorong tubuh Zahra menjauh darinya, Zahra hanya bisa tertunduk.
Beginilah keadaan keluarga Zahra sebenarnya, tidak ada yang menyangka dibalik keanggunannya disekolah, dibalik senyum ketenangannya disekolah yang seperti tidak ada beban dan masalah, ternyata tersimpan sekelumit masalah yang dapat membuat pikiran kacau. Tapi Zahra bisa menyembunyikan itu semua.
Zahra adalah anak bungsu dari 4 bersaudara, abang-abangnya sudah menikah dan tinggal dirumah mereka masing-masing, hanya Zahralah yang dirumah bersama mamanya, sedangkan papanya jarang sekali pulang, ia selalu menghabiskan waktu diluar kota untuk bekerja. Sekali pulang bukannya saling merindukan tapi pertengkaran yang selalu menghiasi rumah mewahnya ini.
Zahra tidak mengerti dimanakah rasa sayang dan cinta antara papa dan mamanya dulu? Tante Zahra pernah cerita, dulu sebelum menikah dan diawal-awal pernikahan mama dan papanya termasuk pasangan yang paling romantis dan harmonis, hampir sama sekali ngak pernah bertengkar, mereka saling pengertian dan saling percaya satu sama yang lain. Tapi kini semuanya telah berubah, hancur sudah pengertian itu, lenyap sudah saling kepercayaan itu, yang tinggal adalah kebencian dan saling mengumpat satu sama yang lain. Itu terlihat jelas dari sorot mata kedua orang tua Zahra.
Melihat fakta yang ada dalam keluarganya tersebut membuat Zahra menjadi ragu dan takut untuk menjalani kehidupan rumah tangga dengan seseorang yang akan menjadi suaminya kelak. Dia takut kehidupan rumah tangganya nanti akan berakhir dengan saling membenci seperti yang terjadi kepada orang tuanya. Kenapa mereka tidak bisa saling menyayangi dan mencintai sampai tua? Atau bahkan sampai maut memisahkan mereka? Kenapa cinta itu bisa hilang? Kenapa? Inilah yang selalu Zahra galaukan. Apakah cinta itu bisa hilang dan pudar dengan bergantinya waktu dan bertambahnya umur?Entahlah….
...***...
Bersambung...
__ADS_1