
Pagi hari saat Rania dan Fitra tengah sarapan di villa, tiba - tiba saja ada sebuah telpon masuk ke hpnya Fitra. Lantas saja Fitra langsung mengangkat telpon tersebut. Tampak Fitra mengobrol serius dengan si penelpon sampai akhirnya teleponan merekapun selesai.
"Rania, setelah ini kita ke bandara ya." kata Fitra dengan menghabiskan sisa - sisa sarapannya.
"Ke Bandara? Ngapain Fitra?" tanya Rania lalu mengerutkan dahinya tanda bingung.
"Ada teman aku dan juga istrinya yang datang ke kota ini. Mereka mau berbulan madu juga, nikahnya sudah bulan kemarin sih cuman baru sempat berbulan madu di bulan ini." jelas Fitra setelah itu meminum teh buatan Rania sampai habis tak tersisa.
"Oohh, begitu ya. Oke deh jam berapa kita jemput mereka?" tanya Rania lagi.
"Hhmm... Sekitar setengah jam lagi lah Rania. Oya, mereka nyewa Villa disebelah Villa kita, jadi nantik kamu bisa berkenalan lah dengan istri dari teman aku itu." kata Fitra.
"Iya, bagus Itu. Berarti aku dapat teman baru nantiknya," ujar Rania dengan raut kebahgiaan tergambar diwajahnya.
Beberapa saat kemudian, mereka pun pergi ke bandara dengan menggunakan taksi. Bandara tidak begitu jauh dari tempat Villa mereka, sekitar 10 menit akhirnya mereka sampai di bandara. Fitra menggandeng tangan Rani untuk masuk kedalamnya.
"Nah, itu dia teman aku Rania." ujar Fitra seraya menunjuk kearah yang dimaksud. Mata Rania langsung tertuju kesana, namun berapa kagetnya Rania saat melihat wajah teman Fitra yang tidak asing baginha. Wajah itu...
"Fitra, itu.. Teman kamu itu.. Ustad Foury bukan?" tanya Rania denagn ragu - ragu. Dan langkah kakinya sudah berhenti sejak tadi.
"Iya, benar Rania. Teman aku itu ustad Foury, lelaki yang pernah melamar kamu dulukan? Jauh sebelum aku melamar kamu." kata Fitra dengan tersenyum lebar.
"Kamu tahu dari mana tentang itu?" tanya Rania dengan heran.
"Ya tahu donk Rania, ustad Foury sndiri yang cerita sama aku. Dia saat itu agak sedih karena lamaran dia ditolak sama kamu," kata Fitra denagn tertawa kecil, seakan menggoda Rania.
__ADS_1
"Kalau aku Terima lamaran ustad Foury, kita gak bakalan nikah lo Fitra.." kata Rania yang ikut tertawa juga.
"Ya makanya aku sangat bersyukur kamu tidak menerima lamaran Ustad Foury." kata Fitra lagi setelah itu mereka kembali melangkah kan kakinya kearah Ustad Foury dan juga istrinya itu.
Sesampainya disana, Fitra langsung bersalaman denah Ustad Foury dan juga merangkulnya denah hangat, begitu juga Rania dan istrinya Ustad Foury yang saling bersalaman.
"Rania, apa kabar?" tanya Ustad Foury dengan ramah. Ia menatap Rania denagn tatapan teduhnya.
"Alhamdulillah, sehat Ustad.." jawab Rania lalu tersenyum tipis.
Saat itu Rania juga berkenalan dan mengobrol singkat dengan istri Ustad Foury yang bernama Syifa. Setelah pertemuan dan perkenalan singkat tersebut, maka merekapun berjalan menuju keluar bandara dan masuk kedalam taksi yang masih menunggu diluar sana.
Saat sudah dirumah, Ranja menyiapkan makanan dan minum untuk tamu mereka. Setelah mengantar makanan dan minuman ke ruang tamu, Rania kembali kedapur untuk mengerjakan yang lain. Dan pada saat itulah Syifa datang dan menghampiri Rania yang sedang mencuci piring.
"Rania.." panggil Syifa. Karena mereka seumuran, makanya mereka saling memanggul nama saja.
"Ngak ada apa - apa, Rania. Aku cuman pengen kesini saja ngobrol - ngobrol sama kamu. Karena disana suami aku dan suami kamh lagi seru sekali mereka mengobrol nya, aku pun mau ikut nimbrung jadi terkesan aneh. Obrolan laki - laki dan perempuan itu ternyata banyak perbedaannya ya." kata Syifa dengan tertawa kecil.
"Oh gitu, maaf ya Syifa. Bukannya aku gak mau nemanin kamu disana, karena maklumlah aku juga sambilan panasin makanan ni, jadi takut hangus kalau ditinggal." kata Rania merasa tidak enak.
"Ya gak apa - apa Rania, makanya aku kesini menghampiri kamu. Oya, Rania.. Aku dengar kamu dulu pernah dilamar oleh suami aku ya?" tanya Syifa tiba - tiba dan secara blak - blakan. Sontak saja pertanyaan dari Syifa itu membuat Rania jadi serba salah harus menjawab apa. Perasaan tidak enak dan canggung pun mulai merayapinya.
"Kamu dengar dari siapa ya Syifa?" tanpa menjawab pertanyaan dari Syifa, Rania malah balik bertanya.
"Sudah banyak orang yang cerita ke Rania, sudah jadi rahasia umum itu dikalangan santri dan santriwati juga. Karena.. Menurut mereka wanita yang menolak pinangan dari seorang ustad seperti suami aku adalah sesuatu yang luar biasa. Yah.. Kata mereka, wanita yang menolak nya pasti lebih luar biasanya lagi. Bukan wanita biasa, begitulah yang aku dengar dari anak - anak pengajian disana." jelas Syifa yang membuat wajah Rania langsung berubah.
__ADS_1
"Eee... Syifa, sebenarnya bukan apa - apa. Aku menolak bukan berarti aku sombong atau sejenisnya, tapi memang saat itu aku lagi berasa diposisi yang tidak memungkinkan untuk menerimanya." jawab Rania agak gelagapan.
"Iya Rania, aku Paham kok. Dan sEkarang aKu bersyukur malahan kamu menolak lamarannya, kalau kamu menerimanya pastilah bukan aku yang menjadi istrinya saat ini. Benar bukan?" kata Syifa yang kembali tersenyum lebar dan diselingi juga dengan tawa renyahnya.
"Iya, Syifa.. Perihal Jodoh sebenarnya tidak ada yang tahu, Allah lah yang saat itu menunjukkan ke aku bahwa ustad Foury bukanlah jodoh aku. Dan ternyata Allah sudah menyiapkan jodoh yang lain untuk aku dan InshaAllah laki - laki yang tepat dan yang terbaik." ungkap Rania dengan santainya.
"Jadi kamu gak pernah punya perasaan apapun itu terhadap ustad Foury, Rania??" tanya Syifa lagi dengan penuh selidik. Pertanyaan dari Syifa kali ini benar - benar membuat Rania sedikit tersentak dan tidak percaya Syifa malah melontarkan pertanyaan yang menurut Rania sangat sensitif dan tidak selayaknya dipertanyakan didepan umum.
"Maaf, Syifa. Kenapa tiba - tiba tanya sperti itu ya?" tanya Rania yang tidak senang dengan pertanyaan Syifa yang tereksan tidka menjaga privasi nya.
"Ya Aku penasaran saja Rania, salah ya pertanyaan aku itu? Kalau iya, aku mintak maaf yah." kata SyiFa yang ikutan tidak enak juga karena melihat raut wajah Rania yang berubah agak lain setelah Syifa mengajukan pertanyaan tersebut.
"Ya ga apa - apa Syifa, aku gak marah kok jadi kamu gak perlu mintak maaf." kata Rania.
Beberapa jam kemudian, karena asyiknta mereka saling mengobrol dan bernostalgia maka setelah itu Ustad Foury dan Juga istrinya Syifa pamit ketika mereka yang tepat di sebelah villanya Fitra.
"Wahhh... Ini kebetulan saja atau gimana ya. Jangankan tempat bulan madunya yang sama, tempat menginap nya juga sama nih. Bersebelahan, jadi bisalah kita saling mengobrol nantik nya jika suntuk" ujar ustad Foury dengan menatap Fitra dengan jelingan matanya yang tajam itu.
"Oke ustad Foury, semuanya bisa diatur. Yang terpenting sekarang, Ustad Foury dan istri istirahat saja dulu, katanya tadi agak ngantuk kan? kalau sudah agak santai dan hilang kantukya, barulah kita bisa jalan - jalan sore disini" kata Fitra yang langsung di iyakan Oleh ustad Foury.
"Rania, kamu ngobrol apa saja tadi dengan istrinya ustad Foury?" tanya Fitra setekah ustad Foury dan Istrinya sudah tidak ada lagi didalam ruangan tersebut.
"Ya.. Ngak ngobrol banyak si, cuman tadi ada satu pertanyaan yang di todongkan okehnya, tapi jujur... membuat perasaan aku gak enak sih." cerita Rania apa adanya, padahal tadi ia sudah berniat untuk tidak membahas masalah ini, tapi lantaran si suami nya bertanya makan Rania pun mau tak mau menceritakan saat Syifa bertanya mengapa Rania tidak menerima lamaran Ustad Foury saat itu.
"Ya gak apa - apa, Rania. Syifa bertanya begitu mungkin penasaran saja dengar cerita yang heboh saat itu, seorang ustaf tampan yang shalih yanv terkenal dengan kearifan dan segala hal yang baik tentang dia, ternyata lamarannya ditolak dengan seorang gadis yanvg MasyaAllab begitu istimewa dan yang kabr baiknya sedang, gadis cantik dan shaliha itu sudah menjadi istrinya Fitra Riandi." ungkap Fitra panjang lebar yang diakhir dengan tertawa lepas. Rania pun ikut tertawa juga mendengar penuturan dari suaminta tersebut.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
"