
Rania berjalan berbarengan dengan Fitra menuju Rumahnya yang tidak begitu jauh dari tempat ia duduk tadi. Rania sungguh masih belum sadar sepenuhnya dengan apa yang baru saja terjadi, Rania merasa ia tengah bermimpi, apalagi ketika melihat sosok Fitra yang kini berada disampingnya. Lelaki itu tersenyum manis kepadanya. Rania lalu mencubit halus bagian tangannya, dan terasa sakit. Berarti dia sedang tidak bermimpi. Ini sungguh nyata. Rania membatin.
"Kenapa, Rania?" Tegur Fitra yang mendapati Rania sejak tadi mencuri curi pandangan dengan tatapan bingung kearahnya.
"Ee.. Gak ada. Oya, kamu tau dari mana ya alamat rumah orang tua aku, Fitra?" Tanya Rania penasaran.
"Hmmm... Dari Raisya." Jawabnya cepat.
"Oh.." Kata Rania sambil menganggukkan kepalanya.
"Masih jauh rumahnya Rania?" Tanya Fitra.
"Ngak kok, setelah simpang tiga itu belok kiri dan nantik langsung kelihatan rumah warna biru sebelah kanan." Jelas Rania sambil menunjuk ke arah persimpangan jalan.
Tidak butuh waktu yang lama akhirnya mereka berdua sampai di rumah Rania. Rania mempersilahkan Fitra untuk masuk dan lalu ia pamit menuju ke dapur untuk mencari ibunya
"Ibu, ada tamu.." Kata Rania setelah mendapati ibunya yang tengah memasak didapur.
"Siapa Rania?" Tanya ibunya sambil melepaskan celemek yang ia gunakan.
"Ee..." Rania tampak bingung mau Menjelaskan dari mana kepada ibunya.
"Nantik aja buk Rania kasih tau, yang penting ibu ketemu dulu dengan tamunya." Kata Rania seraya menggandeng tangan ibunya dan membawanya ke ruang tamu. Ibu Rania hanya bisa mengikuti anaknya dengan raut wajah kebingungan.
Sesampainya diruang tamu, Fitra yang melihat kedatangan Rania beserta ibunya langsung berdiri lalu menghampiri ibu Rania dan menyalaminya dengan tersenyum hangat. Ibu Rania seakan terpesona melihat kesopanan dan juga ketampanan lelaki yang ada dihadapannya saat ini.
"Assalamualaikum, ibu..Apa kabar?" Kata Fitra menyapa Ibu Rania dengan lembut.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Sehat.. Yuk duduk dulu.. Rania kamu bikin minum ya" Suruh ibu Rania dan Rania langsung bergegas ke dapur untuk membikin minuman.
"Buk, kenalkan saya Fitra. Saya bekerja sebagai perawat ditempat Rania bekerja juga. Saya dan Rania memang belum beberapa lama kenal, tapi dengan perkenalan singkat saya ini sudah menumbuhkan keyakinan terhadap Rania. Jadi, maksud kedatangan daya kesini.. Untuk meminta restu sama ibuk.. Saya mau menjalin hubungan yang serius dengan Rania. Dengan kata lain, Saya mau melamar Rania buk." Jelas Fitra langsung ke inti pembicaraan dengan diselingi senyum yang manis yang menghiasi bibirnya.
"MasyaAllah.. Serius nak Fitra mau melamar Rania?" Tanya Ibu Rania dengan mata yang berbinar-binar.
"InshaAllah, buk. Saya serius." Jawab Fita dengan yakin.
"Alhamdulillah, kalau memang ada yang mau serius dengan Rania. Kalau ibuk sech tergantung Rania saja. Kalau dia sudah siap menikah dan yakin dengan pilihannya. Ibu merestui kok nak Fitra." Kata Ibu Rania dengan tersenyum lebar.
"Iya buk, terimakasih sebelumnya sudah memberikan kesempatan bagi saya untuk menyampaikan maksud dan tujuan saya kesini. Sekarang saya tinggal tunggu jawaban dari Rania saja. Mudah-mudahan jawaban Rania sesuai yang kita harapkan." Ujar Fitra.
"Aamiin.. Mudah-mudahan ya Nak Fitra Tapi, ibu yakin Rania pasti mau menerima Nak Fitra. Karena Jarang di zaman sekarang ini ada lelaki yang langsung mau mengajak si wanita menjalin hubungan serius dengan ikatan pernikahan, biasanya kebanyakan mereka mengajak pacaran dulu." Ucap Ibu Rania memberikan pendapatnya.
Beberapa menit kemudian, Rania pun datang dengan membawa mapan berisi minuman dan juga cemilan.
Melihat Rania datang, ibu dan Fitra yang tengah mengobrol langsung berhenti. Ibu Rania menatap Rania sambil senyum-senyum sedangkan Fitra hanya tersenyum tipis sambil sekali-sekali menundukkan pandangannya.
"Terimakasih Rania" Kata Fitra.
Rania hanya mengangguk dan kemudian ia duduk disamping ibunya.
"Rania, Nak Fitra sudah menyampaikan niat baik dia ke ibu yaitu mau melamar kamu . Ibu setuju-setuju aja Rania, sekarang ibu menyerahkan ke kamu. Kamu Sudah siap nikah kan?" Tanya Ibunya seraya menoleh ke arah Rania.
Ditanya seperti itu membuat Rania menundukkan kepalanya karena sedikit malu. Dan iapun yakin saat ini pasti pipinya telah bersemu merah.
"Bagaimana Rania?" Ibu Rania mengulang pertanyaannya kembali.
__ADS_1
"Ee.. Iya bu, Rania setuju. InshaAllah Rania sudah siap untuk menikah" Jawab Rania.
"Alhamdulillah.." Ujar Ibu Rania dan juga Fitra berbarengan.
"Baiklah buk, Rania.. Besok saya akan bawa orang tua saya kesini untuk bertemu langsung dan membicarakan masalah pernikahan kita" Kata Fitra yang disambut dengan senyum merekah dari Ibu Rania.
"Ya Allah.. Nak Fitra sepertinya buru-buru amat. Perjalanan kesini lumayan jauh juga Lo Fitra, Yakin kami besok balik kesini lagi sama orang tua kamu? Gak di jeda dulu beberapa hari baru kesini lagi" Kata Ibu Rania memberikan saran.
"Iya juga ya Buk, maaf karena saking semangatnya dan bahagianya tadi.." Kata Fitra sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sedangkan Rania hanya tersenyum tipis melihat tingkah Fitra.
"Tidak apa-apa Fitra, ibuk maklum kok..Ya kan Rania??" Kata ibunya seraya mengedipkan matanya kearah Rania. Rania hanya diam.
"Oya, sebentar ibu mau kebelakang dulu melanjutkan masak yang tertunda tadi ya. Kamu wajib makan siang disini ya Fitra!" Kata ibu Rania yang disambut dengan anggukan dari Fitra.
Sepeninggalan ibunya, Rania kembali merasa canggung. Rania lebih banyak menunduk karena ia sama sekali tidak berani menatap Fitra yang ada dihadapannya saat ini. Fitra yang paham akan kecanggungan Rania langsung mencoba mencairkan suasana. Diapun mulai bercerita tentang Sofwa.
Rania mendengar cerita Dari Fitra dengan seksama. Sesekali matanya seakan melotot tak percaya mendengar setiap hal tentang Sofwa. Tiba-tiba rasa simpati bahkan prihatin pun mulai muncul dibenaknya. Dalam hati Rania berpikir bahwa masih ada orang yang lebih menderita karena cinta ditimbang dirinya. Yang padahal Rania merasa dirinya saat itu begitu terpuruk akan Kegagalan cintanya. Dan ternyata masalah dia saat itu tidak ada apa-apanya ditimbang beban yang ditanggung oleh Sofwa, Yang mana dia sudah kehilangan kehormatan dirinya yang sudah ia jaga dengan sepenuh hati.
Rania bisa merasakan kesedihan yang Sofwa rasakan. Begitu memilukan. Di satu sisi Rania juga salut akan kekuatan gadis itu, karena jika Rania diposisinya.. Rania tidak tahu apakah Dia akan kuat bertahan atau malah mengakhiri hidupnya saat itu.
Mendengar cerita Fitra tentang Sofwa ini membuat Rania sangat ingin sekali bisa bertemu dengan Sofwa. Berterimakasih kepadanya dan memuji akan kebesaran serta keikhlasan hati yang ia punya. Dia yang mau mengalah walaupun Rania yakin dia sangat mencintai Fitra. Rania sungguh merasa tidak enak hati terhadap Sofwa yang sudah baik kepadanya.
"Fitra, kamu mau kenalkan aku dengan Sofwa? Pertemukan aku dengan Sofwa.." Ucap Rania setelah Fitra selesai bercerita.
"Mau lah Rania, Pasti.. nantik aku kenalkan kamu sama dia." Jawab Fitra.
"Terimakasih Fitra, aku merasa ngak enak juga sama Sofwa. Sungguh Sofwa wanita yang berhati mulia. Kenapa kamu tidak tertarik sama dia?" Tanya Rania yang mampu membuat Fitra langsung tersentak kaget dengan pertanyaan dari Rania yang tiba-tiba itu.
__ADS_1
"Cinta tidak bisa dipaksakan Rania. Rasa sayang dan Cinta aku untuk kamu, kamu wanita itu.. Bukan Sofwa. Aku mencintai kamu karena Allah.." Jelas Fitra dengan sungguh-sungguh. Rania terdiam dengan tersenyum tipis..
Bersambung..